Ini Penyebab Suku Bunga BPR Lebih Tinggi Dibanding Bank Umum

Ini Penyebab Suku Bunga BPR Lebih Tinggi Dibanding Bank UmumKaryawati sedang menghitung uang di salah satu kantor BPR - Istimewa
06 Maret 2020 08:47 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Masyarakat bisa mendapatkan kredit melalui berbagai lembaga keuangan. Namun, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suku bunga bank perkreditan rakyat (BPR) saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan bank umum lainnya.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rerata suku bunga tabungan dan deposito BPR pada Desember tahun lalu masing-masing sebesar 3,33 persen dan 8,16 persen.

Untuk suku bunga kredit modal kerja rerata BPR berada di angka 24,65 persen, kredit investasi 22,67 persen, dan kredit konsumsi 22,38 persen.

Sebagai perbandingan, suku bunga rata-rata tabungan rupiah bank umum pada periode yang sama sebesar 1,17 persen, sedangkan simpanan berjangka rupiah rata-rata di level enam persen.

Suku bunga modal kerja, investasi, dan konsumsi rupiah bank umum rata-rata berada di angka 10,09 persen, 9,90 persen, dan 11,62 persen.

Pengamat perbankan dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto mengatakan tingkat suku bunga BPR tinggi karena hanya memiliki skala pasar yang sempit dan pangsa pasar tersendiri, sehingga berani membayar mahal.

Karena BPR menghimpun dana dengan bunga yang lebih tinggi, maka bunga kredit yang dibebankan BPR kepada debitur juga lebih tinggi.

Namun, Doddy menjelaskan pergerakan tingkat suku bunga BPR selalu mengikuti tren penurunan suku bunga perbankan umum konvensional. Hal ini dilakukan BPR untuk bersaing dengan bank umum dalam mempertahankan debitur.

"Suku Bunga BPR pergerakannya akan mengikuti bank secara umum. Jika tidak ikut menurunkan suku bunga, maka debitur akan mencari pinjaman ke bank umum, sehingga bunga kredit dan simpanan akan selalu berkaitan dengan industri perbankan yang lebih besar," katanya kepada Bisnis, Kamis (5/3/2020).

BPR disebutkan memiliki karakteristik bisnis yang berbeda, meskipun berkompetisi dengan bank dan perusahaan teknologi finansial (tekfin), yaitu kelokalan dan relationship, sehingga memiliki nilai lebih dalam persaingan.

Doddy mencontohkan sangat sedikit perbankan yang mampu bertahan di segmen mikro. Bahkan nasabah mikro tidak masuk ke standar banyak bank umum, sementara BPR lebih memilih masuk ke ceruk pasar ini.

"Masuk ke pasar segmen mikro butuh expertise tersendiri dan BPR punya. Banyak bank justru tidak bisa masuk ke mikro," tuturnya.

Lanjutnya, BPR merupakan bisnis high return high risk. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BPR dapat mencapai lebih dari 10 persen, tetapi rasio kredit bermasalah BPR juga tinggi, di kisaran 8 persen rata-rata.

Doddy menyoroti, yang penting adalah bagaimana BPR dapat menjaga keberlangsungan karena BPR menghimpun dana simpanan dari masyarakat. Selain itu, BPR dinilai sangat rentan karena dari sisi ukuran sangat kecil.

"Namun, BPR tetap dibutuhkan karena menyebar hampir di seluruh daerah, termasuk daerah terpencil yang saya yakin bank dan bak daerah pun tidak bisa masuk ke sana," jelas Doddy.

Sumber : Bisnis.com