Kendaraan Listrik Dinilai Prospektif

Kendaraan Listrik Dinilai ProspektifBubuhan tanda tangan pada sepeda listrik bernama PitX karya mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) di ajang Indonesia International Motor Show 2018 di Jakarta. (ANTARA - Sella Panduarsa Gareta)
02 Juni 2020 12:47 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kendaraan listrik dinilai prospektif dalam perpektif jangka panjang. Akan tetapi kendaraan jenis ini memerlukan branding agar bisa menembus pasar, terutama pasar captive.

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM), Arif Wismadi mengatakan kendaraan listrik berpotensi menanggulangi beberapa permasalahan lingkungan.

Secara jangka panjang, kata dia, prospek kendaraan listrik cukup baik. Dalam tahapan evolusi teknologi, kendaraan listrik yang siap dipasarkan ada dalam tahap II. “Tahap pertama ketika teknologi tersebut muncul dalam bentuk uji coba. Tahap kedua mulai masuk ke pasar namun terbatas, sebelum nanti menjadi barang keseharian di tahap tiga dan pelan-pelan hilang di tahap empat,” kata Arif, Selasa (2/6/2020).

Agar produk baru ini khususnya untuk jenis roda empat agar dapat masuk ke pasar, maka harus dipertemukan dengan pasar captive, khususnya yang membutuhkan branding atau citra kemajuan, bukan untuk pengguna individu. Pasar yang captive, imbuh dia, bisa dalam bentuk korporasi misalnya pengelola kawasan, pelabuhan, bandara, institusi publik seperti kampus, kawasan perkantoran pemerintah, serta kota yang sedang mengangkat citra untuk peningkatan kualitas lingkungan, misal shuttle wisata, pelayanan kawasan pusat kota.

“Penggunanya pun masih terbatas untuk operasional yang lebih ringan atau jarak yang lebih dibatasi jika dibandingkan kendaraan konvensional. Keterbatasan ini salah satunya adalah keterbatasan teknologi baterai,” ujarnya.

Sementara untuk sepeda motor, sebenarnya lebih memiliki prospek untuk ke individu. Dengan terbatasnya lingkup angkutan umum saat ini masih banyak yang membutuhkan moda personal sehari-hari. Misalnya pelajar yang belum berhak memiliki SIM namun jarak ke sekolah masih terlalu jauh, atau orang tua yang membutuhkan mobilitas di sekitar lingkungan.

Jika moda personal yang disasar, khususnya jika dibuat dengan spesifikasi yang tidak mensyaratkan lisensi berkendara maka pasar ini bisa terbentuk. “Jaminan terbentuknya pasar ini adalah salah satu peran strategis pemerintah agar industri kendaraan listrik yang baru mulai tumbuh, bisa berkembang,” ucapnya.

Dilansir dari Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) pelaku industri otomotif menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan program pengembangan kendaraan terelektrifikasi di Tanah Air. Banyak ragam jalan mewujudkan komitmen menuju era mobil listrik.

Toyota menegaskan komitmen program pengembangan kendaraan terelektrifikasi akan terus dilanjutkan. Adapun, Honda masih mempersiapkan jajaran model elektrik yang akan dibawa ke Indonesia.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi mengatakan bakal tetap melanjutkan komitmen pengembangan mobil listrik meskipun di tengah ketidakpastian kondisi akibat pandemic Covid-19. “Kami tetap komitmen untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia karena memang itu untuk jangka panjang, bukan hanya untuk tahun ini, tetapi juga tahun depan dan seterusnya,” kata Anton.