Prabowo Targetkan 34 Waste to Energy Beroperasi 2 Tahun
Prabowo bangun 34 proyek waste to energy 2026 senilai US$3,5 miliar untuk atasi krisis sampah dan overkapasitas TPA.
Ketua Kelompok Penenun Eboon Lombok Tengah selaku pembina pelatihan Mariani Merdjun (kanan) mendampingi warga penghuni rumah susun saat kegiatan pelatihan menenun motif ikon Jakarta di Rumah Susun Jatinegara Barat, Jakarta, Rabu (6/11). /BISNIS.COM
Harianjogja.com, JAKARTA — Salah satu penyebab menurunnya penjualan UMKM karena terjadinya perubahan pola perilaku konsumsi pasar terhadap konsumen. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas, Ahmad Dading Gunadi.
"Dampak Covid-19 [mempengaruhi pola perilaku konsumen] terhadap perubahan pasar UMKM jadi aktivitas berkurang. Masyarakat banyak dirumah sehingga [umkm] harus ganti model dengan sistem delivery dengan langsung ke konsumen tidak lagi berkumpul di suatu tempat," katanya lewat diskusi daring, Rabu (3/6/2020).
Menurutnya, UMKM tidak perlu goyah karena pola konsumsi berubah. Dia menyebutkan selalu ada peluang dari tiap perubahan, salah satunya dengan mengubah model bisnis, seperti beralih ke daring
“Jadi harus melihat peluang pasar ada pergerakan UMKM yang meningkat di barang pokok terkait dengan makanan frozen, makanan kering itu yang meningkat atau yang delivery langsung itu yang jelas akan meningkat," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa hampir seluruh penjualan dilakukan UMKM mengalami penurunan. Hal ini tercermin jika melihat dari survei dilakukan oleh Asosiasi Business Development Sevices Indonesia (ABDSI).
"ABDSI melakukan survei terhadap 6.000 UMKM di Indonesia jadi kita mau lihat tadi hampir semua penjualannya menurun malah tidak ada yang bisa menjualkan," ucapnya.
Dia menyebutkan bahwa dari total 6.000 responden atau UMKM yang menurun untuk melakukan aktivitas bisnis hingga lebih dari 60 persen mencapai 26,6%.
Sementara itu, UMKM yang tidak dapat melakukan penjualan selama pandemi Covid-19 mencapai 36,7%. Adapun 15,0% UMKM mengalami penurunan penjualan sekitar 31 sampai dengan 60% dari total responden, sedangkan penjualan yang menurun dari 10% sampai 30% tercatat 14,2% saja.
“[Data] ini juga [menjelaskan umkm] masih ada peluang meskipun indeks konsumen menurun tapi masih di atas satu persen sehingga ini ada peluang untuk tetap melihat pasar yang sangat segmented," jelasnya.
Di samping itu survei juga mencatat UMKM mengalami masalah pada ketersediaan bahan baku dan pembayaran kredit.
"UMKM mengalami masalah pada ketersediaan bahan baku dan pembayaran kredit karena tadi ada sebagian bahan baku UMKM itu diperoleh dari impor karena negara-negara bersangkutan juga terkena dampak Covid-19 sehingga mereka [UMKM] mencari substitusi untuk bahan baku," lanjutnya.
Dia mengatakan bahwa salah satu langkah pemerintah untuk mengakselerasi umkm adalah melalui pemanfaaan teknologi (digitalisasi) untuk pemasaran, distribusi, dan modifikasi produk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Prabowo bangun 34 proyek waste to energy 2026 senilai US$3,5 miliar untuk atasi krisis sampah dan overkapasitas TPA.
Pemerintah segera terbitkan aturan baru e-commerce yang mengatur transparansi biaya marketplace dan perlindungan UMKM serta seller.
Kemnaker membuka pendaftaran Bantuan TKM Pemula 2026 dengan dana Rp5 juta untuk mendukung usaha mandiri masyarakat.
Pria di Pacitan menjadi korban penyiraman cairan kimia saat hendak ke pasar. Korban mengalami luka bakar dan dirujuk ke rumah sakit.
Konsultan keuangan Elvi Diana meminta OJK memperketat screening dan edukasi publik guna mencegah maraknya investasi ilegal.
Imigrasi YIA menggagalkan keberangkatan tiga pria diduga calon haji non-prosedural menuju Singapura melalui Bandara YIA.