Advertisement
Mei, Nilai Ekspor DIY Drop
Foto aerial pelabuhan peti kemas Koja di Jakarta. (25/12 - 2019). Bisnis / Himawan L Nugraha
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai ekspor DIY pada Mei 2020 turun 8,55% ketimbang nilai ekspor pada April 2020. Pada Mei 2020, nilai ekspor DIY mencapai US$21,4 juta (Rp310,2 miliar).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Mei tahun ini mencapai US$153,1 juta (Rp2,2 triliun) atau turun 11,81% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Advertisement
Kepala BPS DIY Heru Margono mengatakan jika dibandingkan dengan April 2020, nilai ekspor selama Mei 2020 menunjukkan penurunan terjadi di empat negara tujuan utama. Masing-masing adalah Jepang turun sebesar US$1,3 juta (Rp18,8 miliar) atau 41,94%; Korea Selatan sebesar US$0,7 juta (Rp10,1 miliar) atau 43,75%; Singapura sebesar US$0,6 juta (Rp8,6 miliar) atau 75%; dan Tiongkok US$0,3 juta (Rp4,3 miliar) atau 50%.
Sementara jika dilihat dari tiga komoditas dengan penurunan terbesar adalah pakaian jadi bukan rajutan turun sebesar US$1 juta (Rp14,4 miliar) atau 15,15%; barang-barang dari kulit sebesar US$0,9 juta (Rp13 miliar) atau 34,62%; serta kertas atau karton US$0,7 juta (Rp10,1 miliar) atau 46,67%.
BACA JUGA
“Seperti diketahui barang-barang [komoditi] ekspor DIY bukan barang kebutuhan primer. Jadi di tengah pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak negara-negara yang secara ekonomi terjadi kemunduran sehingga memikirkan kebutuhan pokok dulu daripada barang-barang sekunder atau tersier tersebut,” ujar Heru, Kamis (2/7/2020).
Sementara negara tujuan yang justru mampu meningkatkan nilai ekspor adalah Perancis sebesar US$0,7 juta (Rp10,1 miliar) atau 87,50%; Australia, Belanda, dan Jerman sebesar US$0,2 juta (Rp2,8 miliar) atau 28,57%, 16,675, dan 11,11%; serta Amerika Serikat US$0,1 juta (Rp1,4 miliar) atau 1,43%.
Dia menambahkan, tiga besar negara tujuan utama ekspor barang DIY Mei 2020 adalah Amerika Serikat dengan total nilai ekspor mencapai US$7,1 juta (Rp102,9 miliar), disusul Jerman dengan total nilai US$2 juta (Rp28,9 miliar), serta Jepang dengan total nilai US$1,8 juta (Rp26 miliar).
“Jika dilihat dari komoditas, tiga komoditas dengan kontribusi terbesar adalah pakaian jadi bukan rajutan sebesar 33,51 persen. Kedua, perabot, penerangan rumah sebesar 14,50 persen. Ketiga, barang-barang rajutan sebesar 8,88 persen,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Konflik AS-Iran Ancam Harga Minyak, Tekan Fiskal Indonesia
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- Pertamina Antisipasi Gangguan Pasokan Energi dari Selat Hormuz
Advertisement
Gunungkidul Gandeng 30 Pedagang Pasar Jadi Agen Pengendali Inflasi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
- Lorong Bernuansa Masjid Nabawi Sambut Pemudik di Stasiun Jogja
- Minyakita Sulit Ditemukan di Pasar Pedagang Diminta Urus NIB
- Jepang Lepas Cadangan Minyak Saat Jalur Hormuz Terganggu
- Tekanan Harga Barang dan Jasa Diperkirakan Menguat Menjelang Lebaran
- Pertamina Patra Niaga: Stok BBM dan LPG Jelang Lebaran Aman
Advertisement
Advertisement







