BI DIY: Inflasi DIY 2020 Bakal Capai Batas Bawah Titik Tengah Sasaran

BI DIY: Inflasi DIY 2020 Bakal Capai Batas Bawah Titik Tengah SasaranIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
06 Juli 2020 19:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi DIY tahun ini diperkirakan berada pada batas bawah titik tengah sasaran.

Kepala Bank Indonesia (BI) DIY, Hilman Tisnawan mengatakan untuk memastikan tercapainya sasaran tersebut. Bank Indonesia bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) DIY berkomitmen terus memantau perkembangan harga dan kecukupan stok pangan serta pelaksanaan distribusinya. “Selain itu, TPID juga akan terus bersinergi dan berkoordinasi antarlembaga agar stabilitas harga di DIY dapat terus terjaga,” ucap Hilman, Senin (6/7/2020).

Pada Juni, tercatat inflasi yang rendah, yakni 0,08% (month to month/mtm). Dengan realisasi tersebut, laju inflasi DIY secara akumulatif sampai dengan Juni 2020 tercatat 0,79% (year to date/ytd) atau secara tahunan 1,95% (year on year/yoy).

Capaian inflasi tahunan DIY tidak berbeda signifikan jika dibandingkan dengan inflasi nasional, yaitu 1,96% (yoy), tetapi masih berada pada batas bawah sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0%±1% (yoy).

Pada Juni 2020, inflasi di DIY dipengaruhi oleh inflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Inflasi inti (core inflation) relatif rendah, sementara kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi.

“Deflasi administered prices terjadi seiring dengan penurunan permintaan terhadap komoditas angkutan udara. Tarif angkutan udara pada Juni 2020 mengalami deflasi 15,09 persen [mtm]. Pasca-peningkatan kapasitas angkut dari 50 persen menjadi 70 persen sejak awal Juni 2020 sesuai Surat Edaran Dirjen Perhubungan Udara No.30/2020,” kata dia.

Menurut Hilman, animo masyarakat untuk bepergian via jalur udara masih terbatas. Hal ini menyebabkan maskapai menurunkan tarif angkutan udara setelah pada bulan sebelumnya meningkat 15,55% [mtm],” ucap Hilman.

Sementara itu tekanan inflasi inti cenderung rendah. Sentimen inflasi kelompok inti terutama berasal dari harga telepon seluler dan gula pasir yang masing-masing menurun 1,22% (mtm) dan 2,66% (mtm).

Penurunan harga telepon seluler kerap terjadi pada pertengahan tahun, yang mengikuti pola siklikalnya. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga gula pasir sudah mulai bergerak menurun walaupun masih di atas harga eceran tertinggi (HET), yakni di level Rp14.250/kg pada akhir Juni 2020.

Realisasi impor gula pasir telah masuk ke Indonesia sejak April 2020, sehingga TPID mampu melakukan operasi pasar maupun memasuk stok untuk stabilitas harga. Diperkirakan Juli 2020 telah memasuki musim giling tebu, sehingga harga gula pasir masih akan turun pada beberapa bulan ke depan.

Permintaan yang meningkat pasca-perayaan Idulfitri serta pasokan komoditas bawang merah yang terbatas mendorong tekanan inflasi pada komoditas harga pangan bergejolak.

Selain itu, pada Juni 2020, juga masih terjadi kenaikan harga untuk komoditas daging ayam ras. Pemotongan produksi DOC akibat over supply pada awal penyebaran pandemi Covid-19 menyebabkan pasokan ayam pada Juni 2020 mulai stabil.

Selain itu, permintaan akan komoditas daging ayam ras juga mengalami peningkatan pasca perayaan Idul Fitri. Berdasarkan pencatatan PIHPS, harga daging ayam ras di DIY pada akhir Juni 2020 mencapai Rp38.000/kg, meningkat 14,3% (mtm) jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Adapun untuk komoditas bawang merah, terjadi lonjakan harga akibat pasokan yang terbatas pada beberapa bulan terakhir. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga bibit bawang merah sehingga HPP turut mengalami peningkatan. Meskipun demikian, diproyeksikan panen raya bawang merah Bantul mulai terjadi pada Juli 2020. TPID memprediksikan panen raya akan meningkatkan suplai pasokan kepada masyarakat, sehingga dapat mendorong penurunan harga komoditas secara berangsur-angsur.

Pandemi Covid-19 cukup berdampak pada penurunan penyerapan komoditas pokok di DIY. Panen raya cabai Bantul pada Juni 2020 menyebabkan kondisi over supply di tengah penurunan permintaan masyarakat, khususnya akibat terbatasnya aktivitas hotel, restoran, dan bisnis katering.

Hal ini juga tercermin dari penurunan harga cabai merah pada Juni 2020, yakni -3,31% (mtm). Meskipun demikian, aksi solidaritas di tengah masyarakat, antara lain Jogja Tetulung, menjadi salah satu faktor penghambat agar harga tidak jatuh lebih dalam lagi.