Terhimpit Ekonomi, Mahasiswa Ini Buka Gerbang Cuan lewat Bisnis Kuliner Pisang

Terhimpit Ekonomi, Mahasiswa Ini Buka Gerbang Cuan lewat Bisnis Kuliner PisangProduk Pisang S3. - Istimewa
24 Agustus 2020 21:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Keuangan keluarga yang ambruk saat masa studi masih berjalan adalah mimpi buruk bagi mayoritas mahasiswa. Muhammad Alfinhadi, 22, adalah salah satu orang yang mengalaminya.  Tak hanya pasrah pada keadaan, bersama sang ayah, dia merintis bisnis kuliner bermerek Pisang S3.

Berdagang sudah jadi hobi Alfin sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Segala barang yang tren pernah dia jual kepada teman-teman sekolahnya.

Sempat berkuliah di kampus swasta di Kalimantan Timur, Alfin bermimpi kelak kota Jogja harus jadi tempatnya berkuliah. Itulah sebabnya, dia pun memutuskan pindah ke Universitas Islam Indonesia dan memilih jurusan Manajemen Ekonomi. “Baru satu semester, kemudian dapat kabar dari Kalimantan kalau kondisi ekonomi keluarga memburuk. Waktu itu bapak saya kena PHK [pemutusan hubungan kerja],” kata Alfin saat diwawancarai Harianjogja.com, pekan lalu.

Sejak saat itu Alfin menjalani penyesuaian gaya hidup yang drastis. Dia harus meminimalkan kebiasaannya menongkrong sambil mengonsumsi camilan untuk menghemat pengeluaran sehari-hari di tanah rantau.

Karena Camilan

Awalnya tak sulit. Tetapi dari hari ke hari, menahan hasrat konsumtif itu ternyata menjadi hal yang tak mudah. Dia lantas teringat salah satu camilan sore yang baginya adalah wajib saat masih ada di Kalimantan. Camilan itu bernama Sanggar.

Di Jawa, Sanggar tak jauh berbeda dengan pisang goreng pada umumnya, hanya saja Sanggar memiliki tekstur tepung yang lebih renyah. Tekstur renyahnya pun lebih tahan lama.

Awalnya Alfin mencoba membuat Sanggar untuk konsumsi pribadi. Menurutnya Sanggar dengan resep keluarganya tak kalah enak dengan pisang goreng yang ada di Jogja. Alfin mulai berpikir untuk menjualnya. “Waktu itu sekitar 2016, ada satu camilan hits banget, yaitu pisang nugget. Saya kepikiran kenapa saya enggak coba jual pisang goreng pure? Karena saya masih sambil kuliah, perekonomian keluarga juga sedang buruk, saya rintis bisnis itu bersama bapak,” kata Alfin.

Saat itu Alfin menjual pisang goreng yang diberi merek S3 dengan pemikiran sederhana. Bisnis itu harus berjalan untuk menghidupi keluarganya yang sedang diterpa masalah ekonomi. Alfin memulai bisnis dengan gerobak dan satu kompor berukuran kecil. Dia dan ayahnya berjualan di pinggir Jalan Seturan, tepatnya di kawasan indekos para mahasiswa.

Sekotak Pisang S3 dengan porsi melimpah ditambah topping saus cokelat atau parutan keju yang melimpah dijual Alfin dengan harga Rp15.000. “Kebanyakan pelanggan Pisang S3 di awal perintisan saat itu kebanyakan adalah mahasiswa,” kata dia.

Di kampusnya, Alfin juga gencar mempromosikan Pisang S3 di tiap acara kampus sembari menyebar iklan melalui media sosial. Dia juga menjalin kerja sama dengan berbagai aplikasi ojek daring. Sementara sang ayah lebih fokus berjualan di lapangan.

Hasilnya, Pisang S3 meledak di pasaran. Saat itu, Alfin dan ayahnya sempat kewalahan menangani pesanan. Pernah pada suatu hari, pelanggan yang memesan pada pukul 19.00 WIB baru bisa mendapatkan pisang goreng pesanan mereka pada pukul 21.00 WIB. “Antreannya mengular, pelanggan datang terus, yang dari gojek juga banyak sekali. Padahal waktu itu kami hanya menggoreng pakai satu kompor kecil. Itu yang bikin pelanggan kelamaan nunggu,” kata Alfin.

Terus Berinovasi

Per harinya, Alfin bisa menjual 400 kotak Pisang S3. Bisnisnya pun berkembang pesat pada 2017. Alfin dan ayahnya memutuskan mendirikan beberapa cabang Pisang S3. Dari jenis makanan sederhana itu, perekonomian keluarganya terselamatkan. Bahkan lebih dari itu, Pisang S3 bisa menghidupi puluhan pekerja.

“Tetapi saya waktu itu merasa bahwa itu belum berupa bisnis. Saya masih pedagang. Saya ingin Pisang S3 punya umur panjang. Maka harus dipikirkan arah ke depannya. Pisang S3 harus terus berinovasi mengikuti tren yang ada,” kata Alfin.

Tujuan baru Pisang S3 adalah terus mengikuti tren yang ada dengan berbagai inovasi. Alfin merombak kemasan dan kualitas produknya. Otomatis pergerakan stok menjadi lebih lamban. Baginya hal itu lebih baik daripada stok cepat keluar dan kualitas tak terkontrol.

Pisang S3 yang tadinya biasa dijual dengan gerobak, kini dijual dalam bentuk outlet. Menurut Alfin upaya upgrade outlet ini adalah langkah besar untuk mengikuti tren masa kini, yaitu memenuhi kebutuhan menongkrong masyarakat komunal seperti mahasiswa.

Ujicoba inovasi ini dia terapkan di cabang kemitraan Pisang S3 di Cilacap. Hasilnya produknya laris manis. Pisang S3 menjadi tongkrongan kawula muda. Sebelum pandemi, satu cabang Pisang S3 rata-rata bisa menjual 400 kotak per hari. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp17.000 hingga Rp22.000.