Produksi Vaksin Virus Corona di Inggris Kemungkinan Siap Juli 2021

Produksi Vaksin Virus Corona di Inggris Kemungkinan Siap Juli 2021Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin - istimewa
16 Oktober 2020 17:47 WIB Fransisco Primus Hernata Ekbis Share :

Harianjogja.com, Jakarta-Pemerintah Inggris mengumumkan kemungkinan besar vaksin virus Corona bisa tersedia untuk publik paling cepat Juli 2021.

Hal ini diutarakan Kate Bingham, Ketua Satgas Penyediaan Vaksin Inggris. Bingham juga mengatakan ada kemungkinan vaksin bahkan bisa digunakan pada akhir tahun 2020. 

"Saya pikir mungkin kita akan melihatnya pada akhir tahun, karena kita tahu bahwa hasil penilaian akan dilakukan pada akhir tahun," ujarnya seperti dikutip dari express.co.uk

Upaya untuk mengembangkan vaksin mengalami hambatan di beberapa perusahaan pengembang. Misalnya, Johnson & Johnson menghentikan uji coba setelah ditemukan penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta penelitian. Dan tahap uji coba Oxford dan AstraZeneca dari Amerika Serikat tetap ditunda selama lebih dari sebulan.

Rusia, yang mencatat rekor pada peningkatan kasus setiap harinya, telah memberikan persetujuan regulasi untuk vaksin kedua.

Pejabat dari US public health, Anthony Fauci mengatakan dalam sebuah wawancara CBS bahwa Amerika Serikat tidak mungkin memiliki 100 juta dosis vaksin yang dianggap oleh regulator sebagai "aman dan efektif" pada akhir tahun. Hal tersebut bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh Presiden AS Donald Trump di bulan September.

Hal itu mungkin bisa terjadi pada April 2021 jika semua vaksin eksperimental dalam uji klinis tahap akhir terbukti efektif. Beberapa calon vaksin berpotensi menerima izin peraturan pada November atau Desember tetapi hanya "beberapa juta" dosis yang mungkin tersedia untuk umum pada akhir tahun.

Kematian Global

Sementara itu, kematian secara global telah turun menjadi sekitar 5.000 per hari dari puncak April yang melebihi angka 7.500, Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan terdapat beban yang meningkat di unit perawatan intensif.

"Peningkatan mortalitas selalu tertinggal dari peningkatan kasus dalam beberapa minggu, Kita tidak boleh berpuas diri dengan angka kematian yang turun," ujar Swaminathan dalam sebuah acara media sosial WHO seperti yang dikutip dari express.co.uk. 

Lebih dari 38 juta orang telah dilaporkan terinfeksi secara global dan 1,1 juta orang telah meninggal.

Terlepas dari dorongan global untuk vaksin COVID-19, dengan lusinan vaksin dalam uji klinis dan harapan untuk inokulasi awal tahun ini, Swaminathan menegaskan bahwa vaksin massal yang cepat tidak mungkin terjadi.

"Kebanyakan orang setuju, pemberian vaksin ini dimulai dengan petugas kesehatan, dan pekerja lini depan, tetapi dari sana, Anda perlu menentukan siapa di antara mereka yang berisiko tertinggi, lalu orang tua, dan seterusnya," kata Swaminathan.

"Orang muda yang sehat mungkin harus menunggu hingga tahun 2022,"

WHO mengatakan membiarkan infeksi menyebar dengan harapan mencapai "Herd Immunity" adalah sesuatu yang tidak etis dan akan menyebabkan kasus kematian yang tidak perlu. Mereka  mendesak untuk tetap melakukan mencuci tangan, menjaga jarak, masker dan ketika tidak dapat dihindari, pembatasan pergerakan dan ditargetkan diperlukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit.

"Orang-orang berbicara tentang herd immunity Kita seharusnya hanya membicarakannya dalam konteks vaksin," ujar Swaminathan. "Anda perlu memvaksinasi setidaknya 70 persen orang untuk benar-benar menghentikan penularan." tambahnya

Sumber : JIBI/Bisnis.com