Pandemi Percepat Transformasi Digital di Sektor Bisnis

Pandemi Percepat Transformasi Digital di Sektor BisnisGuru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali saat memaparkan materi dalam talkshow bertajuk Temu Virtual Kupva BB dan PTD BB se-Sumatra yang dilaksanakan Bank Indonesia Sumatra Utara secara virtual, Jumat (27/11 - 2020).
27 November 2020 12:47 WIB Cristine Evifania Manik Ekbis Share :

Harianjogja.com, MEDAN - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia menyatakan pandemi Covid-19 membuat penetrasi digital di sektor bisnis terjadi lebih cepat. Hal ini didasarkan pada jumlah pengguna internet di Asia Tenggara meningkat pesat sepanjang 2020.

“Sebanyak 40 juta pengguna baru internet di ASEAN bergabung sepanjang tahun 2020,” ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali dalam talkshow Temu Virtual Kupva BB dan PTD BB se-Sumatra yang dilaksanakan Bank Indonesia Sumatra Utara secara virtual, Jumat (27/11/2020).

Berdasarkan data dari e-conomv SEA 2020, sepanjang tahun 2015 hingga 2019 hanya terdapat penambahan sebesar 100 juta pengguna internet baru di negara-negara anggota ASEAN. Rhenald memperkirakan aka nada pertumbuhan pengguna internet sebanyak 50 juta pengguna sepanjang 2021 mendatang.

Karenanya, Rhenald mengungkapkan seluruh sektor bisnis sedang menghadapi babak baru. Ada hal pokok yang harus melekat dalam produk bisnis, yaitu relevansi.

“Biasanya life cycle suatu produk akan habis pada masa tertentu. Dengan relevansi, produk bisa saja sama, namun adaptasi dengan kultur berbeda,” tambah Rhenald.

Terdapat beberapa keterampilan yang harus diasah pengusaha pada proses transisi digital di masa pandemi ini, yaitu transformasi pola pikir pengusaha, investasi pada keterampilan baru, memperbaiki kapasitas teknologi, waspada terhadap segala kelemahan bisnis, explore hal baru, dan membiasakan bekerja dalam ekosistem.

Dari sisi ketenagakerjaan, Rhenald menjelaskan terdapat puluhan juta tenaga kerja di Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19. Di Sumatera Utara saja, ada 1,23 juta penduduk usia kerja yang terdampak.

Badan Pusat Statistik Sumatra Utara mencatat ada 107.000 pengangguran di Sumut akibat dampak Pandemi Covid-19. Data ini dikumpulkan mulai bulan Februari hingga Agustus 2020.

Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk usia kerja di Sumut yang mencapai 10,7 juta orang, terdapat 11,5 persen penduduk yang terdampak Covid-19 dengan rincian 107.000 orang menjadi pengangguran, 39.000 orang bukan angkatan kerja (BAK), 64.000 orang sementara berhenti bekerja, dan 1,02 juta orang bekerja dengan pengurangan jam kerja.

“Berkurangnya jam kerja adalah dampak Covid-19 yang paling banyak dirasakan penduduk usia kerja, sebanyak 1,02 juta orang atau sebesar 82,93 persen,” kata Kabid Statistik Sosial BPS Sumut Mukhamad Mukhanif seperti dilansir dari bisnis.com.

Rhenald memprediksi akan banyak jenis pekerjaan yang hilang dan digantikan dengan jenis pekerjaan baru. Misalnya, kehadiran data scientist.

Tenaga kerja juga akan dapat bekerja dari mana saja karena sudah memanfaatkan teknologi digital.

Namun, di sisi lain, tenaga kerja akan disulitkan dengan kemungkinan bekerja selama 24 jam penuh. Selain itu, tenaga kerja harus siap bersaing dengan mesin, robot, dan kecerdasan buatan lain yang terus berkembang.

Untuk itu, dosen yang juga merupakan pebisnis itu mengungkapkan ada tujuh kecerdasan baru yang harus dikuasai tenaga kerja untuk tetap dapat bersaing, yaitu kecerdasan menggunakan teknologi, kecerdasan sosial emosional, kecerdasan memahami konteks, kecerdasan moral, kecerdasan untuk menghasilkan ide baru, kecerdasan eksplorasi, dan kecerdasan dalam bersinergi.

“Jangan terperangkap pada capital expenditure perusahaan, tapi lakukan eksplorasi karena segala sesuatunya sudah kita miliki sendiri lewat teknologi,” pungkas Rhenald.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia