Pilih Menabung, Banyak Orang Kurangi Belanja

Pilih Menabung, Banyak Orang Kurangi Belanja Ilustrasi menabung - Istimewa
03 Desember 2020 21:27 WIB Nyoman Ary Wahyudi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Sebanyak 20 persen masyarakat kelas atas mendominasi 47,01 persen dari total konsumsi masyarakat pada tahun 2020.

Hal itu diungkapkan oleh Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani saat memberi keterangan dalam acara webinar Outlook Ekonomi Pasca Pandemi : Meneropong Pertumbuhan Ekonomi Jakarta di 2021 pada Kamis (3/12/2020).

“Saat ini, orang ini lah konsumsinya masih rendah lebih banyak mereka menukarkan uangnya di bank, sedangkan yang banyak konsumsi, tidak di tabung 40 persen masyarakat kelas menengah yang menguasai 35,74 persen konsumsi,” ujarnya.

Baca juga: Begini Skenario Pemkab Sleman Hadapi Libur Akhir Tahun

Sementara, dia melanjutkan, masyarakat kelas bawah dengan komposisi 40 persen menyerap 17,25 persen dari total konsumsi.

“Kalau jumlahnya hanya 17,25 persen dari 100 persen konsumsi pastinya tidak ngangkat buat pengusaha dan pengusaha tidak perlu melakukan ekspansi itu yang jadi masalahnya,” tuturnya.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mencatat konsumsi rumah tangga di Ibu Kota pada triwulan III/2020 mengalami kontraksi atau minus 5,28 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 (year-on-year/y-o-y).

Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Luctor E Tapiheru mengatakan kontraksi itu lebih dalam jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat minus 5,23 persen (y-o-y).

Baca juga: Kasus Covid-19 Diklaim Bisa Turun Asal 75 Persen Populasi Pakai Masker

“Penurunan pengeluaran masyarakat terutama terjadi pada konsumsi terkait pakaian, makanan, perabot rumah tangga dan pembelian barang pribadi, yang menunjukkan bahwa masyarakat masih selektif dalam berbelanja,” tutur Luctor melalui keterangan tertulis pada Jumat (6/11/2020).

Seiring konsumsi masyarakat yang menurun, dia mengatakan, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makanan minuman turut mengalami kontraksi sebesar minus 18,52 persen secara tahunan.

Di sisi lain, industri pengolahan dan pengadaan listrik dan gas mengalami kontraksi masing-masing minus 12,03 persen dan 10,60 persen.

“Kontraksi pada berbagai lapangan usaha tersebut sejalan dengan kontraksi permintaan domestik dan total ekspor yang terjadi pada triwulan ketiga 2020,” kata dia.

Sumber : Bisnis.com