Ini Sektor Kunci yang Bikin Ekonomi China Tumbuh Positif di 2020

Ini Sektor Kunci yang Bikin Ekonomi China Tumbuh Positif di 2020Suasana di salah satu titik Kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2020. /-Roman Pilipey/EPA - Guardian
18 Januari 2021 11:57 WIB Reni Lestari Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ekonomi China tumbuh 2,3 persen sepanjang 2020, pulih ke tingkat pertumbuhan prapandemi pada kuartal keempat 2020. Angka pertumbuhan itu menjadikan China satu-satunya ekonomi yang terhindar dari kontraksi akibat pandemi.

Biro Statistik Nasional mengatakan produk domestik bruto naik 6,5 persen pada kuartal terakhir dari tahun sebelumnya, didorong oleh output industri yang lebih kuat dari perkiraan. Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan 6,2 persen untuk kuartal tersebut dan 2,1 persen untuk setahun penuh.

Sedangkan secara kuartalan ekonomi tumbuh 2,6 persen pada tiga bulan terakhir 2020, turun dari 3 persen yang direvisi pada periode Juli-September.

BACA JUGA : Pandemi, Ekonomi Dunia Kontraksi, China Malah Tumbuh

Pemulihan tersebut sejak dini dibantu oleh stimulus fiskal dan moneter yang mendorong investasi di bidang infrastruktur dan real estate. Setelah China berhasil mengendalikan kasus virus dan pabrik dapat melanjutkan produksi, pertumbuhan didorong oleh permintaan konsumen luar negeri yang kuat untuk ekspor China, terutama peralatan medis dan perangkat kerja dari rumah.

Output industri naik 7,3 persen pada Desember dari tahun sebelumnya, dan 2,8 persen pada 2020. Adapun pertumbuhan penjualan ritel melambat menjadi 4,6 persen pada Desember dari 5 persen di bulan November. Untuk sepanjang 2020, penjualan ritel menyusut 3,9 persen, dipimpin oleh hampir 17 persen penurunan katering dan restoran.

Sementara itu, investasi aset tetap 2,9 persen lebih besar pada 2020 dibandingkan pada 2019. Tingkat pengangguran 5,2 persen pada akhir Desember.

"Kuartal keempat tampaknya benar-benar telah menunjukkan ekonomi mengakhiri tahun dengan catatan kuat, manufaktur baik-baik saja," kata Cui Li, kepala penelitian makro di CCB International Holdings Ltd di Hong Kong, dilansir Bloomberg, Senin (18/1/2021).

BACA JUGA : Dengan Populasi 260 Juta Jiwa, Indonesia Berpeluang Tiru

Data penjualan ritel yang lebih lambat dari perkiraan pada Desember mungkin mencerminkan cuaca yang lebih dingin dan virus yang muncul kembali di bagian utara China karena beberapa kota memberlakukan pembatasan baru untuk mengendalikan wabah.

Yuan menguat sebanyak 0,06 persen menjadi 6,4779 versus dolar setelah rilis angka pertumbuhan PDB, sementara Indeks ChiNext naik 1,6 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 3,165 persen, tertinggi dalam dua minggu.

"Perekonomian China berakselerasi ke penyelesaian yang kuat hingga 2020, meskipun tantangan pada awal 2021 dapat menghambat pertumbuhan," kata Chang Shu, Kepala Ekonom Bloomberg Asia.

Dia melanjutkan, data Desember menunjukkan bahwa kesenjangan antara permintaan dan penawaran terbuka lagi, dan ini mungkin mencerminkan dampak konsumsi dari wabah virus baru-baru ini.

Menurut perkiraan Bank Dunia, dengan output global kemungkinan berkontraksi 4,2 persen pada tahun lalu, ekspansi China meningkatkan pangsa ekonomi dunia menjadi 14,5 persen, dibandingkan dengan 22 persen untuk AS.

Berdasarkan proyeksi dari Dana Moneter Internasional (IMF), China akan menyalip AS pada 2028, dua tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, menurut Nomura Holdings Inc.

Para ekonom memperkirakan PDB China akan meningkat 8,2 persen tahun ini, bahkan ketika negara besar lainnya mulai pulih dengan vaksin yang diluncurkan.

Pemulihan yang sedang berlangsung pada 2021 akan bergantung pada apakah China dapat mencegah penyebaran infeksi virus dalam skala besar. Selain itu juga apakah China dapat mengalihkan pengeluaran dari pemerintah lokal dan perusahaan negara besar ke bisnis dan konsumen yang lebih kecil.

BACA JUGA : Laju Ekonomi RI Terganggu Perlambatan Perekonomian

Belanja rumah tangga dan investasi oleh perusahaan manufaktur telah tertinggal dari pertumbuhan keseluruhan pada 2020.

Hubungan perdagangan yang semakin tegang dengan AS juga dapat membebani prospek. Dalam minggu-minggu terakhir masa jabatannya, Presiden Donald Trump telah memperketat pembatasan pada bisnis China untuk mengekang dominasi negara itu dalam industri teknologi tinggi, yang mengguncang pasar keuangan. Masih belum jelas bagaimana pemerintahan yang akan datang di bawah Joe Biden akan mengatasi masalah tersebut.

Permintaan global untuk barang-barang buatan China diperkirakan akan tetap kuat karena pandemi terus membuat sebagian besar populasi dunia terkunci. Menurut data resmi, nilai pengiriman barang China meningkat 3,6 persen pada 2020 dan impor turun 1,1 persen, menghasilkan surplus perdagangan tahunan US$535 miliar, tertinggi sejak 2015.

Stimulus fiskal dan moneter untuk mendukung ekonomi melalui pandemi telah dibarengi dengan lonjakan utang, suatu perkembangan yang kini sedang diupayakan pihak berwenang saat pemulihan berlangsung. Pada pertemuan Desember untuk menjabarkan tujuan ekonomi untuk 2021, Partai Komunis yang berkuasa mengisyaratkan bahwa stimulus akan ditarik secara bertahap, meskipun akan menghindari perubahan tajam dalam kebijakan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia