Dukung Pengendalian Covid-19, Pehcun akan Diselenggarakan Sederhana

Dukung Pengendalian Covid-19, Pehcun akan Diselenggarakan SederhanaIlustrasi - Dok
24 Mei 2021 17:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mendukung upaya pencegahan Covid-19, Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) tidak akan menyelenggarakan Pehcun secara meriah pada Senin (14/6/2021) bulan depan untuk mendukung upaya pengendalian Covid-19.

Sebelum pandemi, Pehcun biasanya disambut meriah dengan berbagai kegiatan budaya, termasuk yang khas lomba dayung perahu naga. Tahun lalu saat pandemi sudah tiba, peringatan Pehcun hanya diisi dengan sembahyang di Pantai Parangtritis, tanpa berbagai kegiatan budaya lain.

“Mungkin tahun ini masih sama seperti tahun lalu, hanya terbatas untuk sembahyang. Itu tidak akan mengurangi makna perayaan ini. Mungkin juga nanti dikemas secara online seperti PBTY [Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta] kemarin untuk mengenalkan apa itu Pehcun,” ucap Ketua I JCACC, Jimmy Sutanto, Rabu (19/5/2021).

Jimmy mengatakan saat ini JCACC fokus mendukung upaya pemerintah untuk pencegahan Covid-19. Kegiatan yang berpotensi mengundang kerumunan orang tidak diadakan. Menurut dia semua pihak perlu belajar dari negara lain yang juga terdampak pandemi Covid-19, seperti India yang kewalahan menghadapi dampak Covid-19. Sebaliknya, Indonesia perlu mencontoh Tiongkok yang sukses menekan angka Covid-19. “Fokus untuk mencegah penyebaran Covid-19 terlebih dulu,” ujarnya.

Jimmy menceritakan pada 770 Sebelum Masehi – 221 Sebelum Masehi, ada tujuh negara yang saling berebut untuk memimpin Tiongkok.

Salah satunya negara Chu. Di negara itu ada pujangga yang bernama Qu Yuan yang terkenal dan kemudian menjadi menteri. Ia memberikan ide untuk memajukan negara dengan mengusulkan reformasi dan pengembangan negaranya supaya bisa memenangi perang.

Namun waktu itu ada yang memfintah dia sehingga  Qu Yuan diusir. Kemudian di sekitar Sungai Miluo, ada nelayan yang bertanya mengapa ia terlihat susah, dan menyarankan ia tidak perlu memikirkan negara.

Kemudian pada suatu hari ia mendengar negaranya jatuh. Ia pun yang memiliki rasa cinta pada negaranya lebih memilih bunuh diri dengan memikul batu terjun ke sungai, pada tanggal 5 bulan 5 kalender Imlek itu.

Nelayan kemudian menyebarkan nasi supaya jasadnya tidak dimakan ikan. Itu berlangsung tahun demi tahun. Nasi ini dibuat menjadi makanan bakcang dan menjadi tradisi. Setiap peringatan itu juga kemudian diramaikan dengan perahu naga.