Ekonomi RI Bisa Tumbuh Kencang Kuartal II/2021, Sri Mulyani Ungkap Penyebabnya

Ekonomi RI Bisa Tumbuh Kencang Kuartal II/2021, Sri Mulyani Ungkap PenyebabnyaMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (dalam layar) disaksikan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Y. Benyamin memberikan pemaparan dalam webinar Mid Year Economic Outlook 2021: Prospek Ekonomi Indonesia Pasca Stimulus, Relaksasi dan Vaksinasi di Jakarta, Rabu (7/7/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
06 Agustus 2021 12:17 WIB Jaffry Prabu Prakoso Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tahun merupakan tahun kedua masa Pandemi Covid-19. Sektor ekonomi menjadi bidang yang ikut terdampak. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa ada faktor selain ekonomi minus terdalam tahun lalu yang membuat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) cukup tinggi pada kuartal II/2021.

“Momentum Ramadan dan hari raya lebaran serta berbagai kebijakan pemerintah untuk mendukung daya beli masyarakat,” katanya pada konferensi pers virtual, Jumat (6/8/2021).

Sri menjelaskan bahwa stimulus pada kuartal II tersebut yaitu program bantuan sosial, diskon listrik, gratis ongkos kirim belanja online jelang lebaran, dan terkendalinya inflasi yang mendorong konsumsi.

Baca juga: Angka Kematian RI karena Covid Masih Tertinggi

Ekonomi kuartal II/2021 yang tinggi yakni naik 7,07% secara kuartalan, tambah Sri, melanjutkan perbaikan yang sudah terjadi pada kuartal sebelumnya.

Berdasarkan catatannya, PDB ditopang realisasi belanja negara yang tumbuh tinggi mencapai 9,38 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Angka Vaksinasi Covid-19 Kulonprogo Tembus 89.606 Orang, Sasarannya 376.100

Untuk periode saat ini, belanja negara bukan jadi satu-satunya faktor pengungkit ekonomi. Salah satu faktornya yakni investasi yang naik 7,54 persen, ekspor dan impor yang juga mengalami lonjakan sangat tajam, masing-masing yaitu 31,78 persen dan 31,22 persen.

“Jadi ini adalah momentum rebound dan recovery yang sangat cepat. Ini sejalan dengan kinerja ekonomi global dan mengakibatkan meningkatnya harga-harga komoditas,” jelasnya.

Sumber : Bisnis.com