Ekonom Prediksi Pemulihan Ekonomi Indonesia Akan Lebih Cepat

Ekonom Prediksi Pemulihan Ekonomi Indonesia Akan Lebih CepatPengunjung beraktivitas di kawasan Mbloc Space, Jakarta, Selasa (31/8/2021). Pemerintah melakukan perpanjangan PPKM level 3 di DKI Jakarta hingga 6 September 2021 dengan memberikan kelonggaran bagi restoran dan pusat perbelanjaan maksimum kapasitas 50 persen dari semula hanya 25 persen dan jam operasional hingga 21.00 WIB. - Antara
01 Januari 2022 11:07 WIB Dany Saputra Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemulihan ekonomi di 2022 diperkirakan berlanjut seiring dengan membaiknya konsumsi masyarakat dan diteruskannya sejumlah insentif dan bantuan sosial dari kebijakan fiskal pemerintah.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi tahun depan bisa lebih cepat karena dorongan konsumsi sektor swasta dan permintaan domestik. Kedua hal tersebut nantinya akan sejalan dengan naiknya kegiatan produksi dan investasi.

Pemulihan kegiatan masyarakat erat kaitannya dengan pengendalian pandemi Covid-19 yang kini lebih baik. Sebelumnya, Indonesia mengalami eskalasi kasus pada saat varian Delta merebak di tanah air pada pertengahan tahun.

Berdasarkan sektornya, Andry memperkirakan pemulihan di sektor manufaktur dan yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat seperti transportasi, perhotelan, restoran, dan perdagangan, akan menjadi yang paling tinggi di antara yang lain.

"Dengan asumsi pandemi Covid-19 dalam kendali, sektor-sektor ini akan meraih momentum untuk tumbuh lebih tinggi seiring dengan kepercayaan konsumen menjadi lebih kuat," jelas Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro pada kajian EconMark 2022 Indonesia Economic Outlook yang dikutip, Jumat (31/12/2021).

Harga komoditas pun diperkirakan masih relatif tinggi pada 2022 sehingga bisa menarik untuk dunia usaha. Kendati demikian, jika dibandingkan dengan lonjakan pada 2021, maka kenaikan harga tahun depan akan lebih rendah. Menurut Andry, hal ini disebabkan oleh normalisasi rantai pasok dan tapering off.

Pengurangan pembelian aset oleh bank sentral atau tapering off, oleh bank sentral global, dipicu oleh lonjakan inflasi. Andry menilai Federal Reserve Amerika Serikat sudah terlihat semakin cepat dan besar dalam mengurangi pembelian aset atau quantitative easing.

"Hal ini bisa diikuti oleh naiknya suku bunga acuan [Amerika Serikat]. Bahkan, tekanan inflasi akan datang ke Indonesia akibat tingginya permintaan, harga barnag dan jasa yang lebih tinggi, serta risiko upside dari regulasi perpajakan," jelas Andry.

Untuk itu, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tanah air diperkirakan akan terus mendukung pemulihan ekonomi sekaligus tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

"Akan tetapi, kebijakan BI akan sangat bergantung terhadap data dan akan melakukan penilaian terhadap dinamika global," terang Andry.

Dari sisi fiskal, pemerintah akan terus mendukung pemulihan dengan outlook penerimaan yang lebih baik di tahun depan. Oleh sebab itu, defisit yang lebih kecil dinilai akan bisa tercapai sehingga memudahkan langkah menuju normalisasi defisit APBN di bawah 3 persen pada 2023.

Sumber : JIBI/Bisnis.com