Cerdik Jadi Kunci Utama Berinvestasi Kripto

Cerdik Jadi Kunci Utama Berinvestasi Kripto Seorang warga mengecek pergerakan mata uang kripto melalui ponselnya, Kamis (13/1/2022). - Harian Jogja/Arief Junianto
15 Januari 2022 23:17 WIB Lajeng Padmaratri Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Investasi aset kripto menjadi tren di kalangan anak muda selama pandemi Covid-19 ini. Tak hanya aset finansial dan kemauan besar untuk belajar, mental juga aspek penting yang harus dipersiapkan.

Belakangan, dunia virtual kian menjadi dan tak bisa dipisahkan dari keseharian hidup manusia. Cryptocurrency, non-fungible token (NFT), dan metaverse seolah menjadi tren tersendiri.

Bahkan pekan ini, publik sempat digegerkan dengan pemberitaan mengenai seorang mahasiswa asal Semarang yang sukses meraup cuan hingga Rp1,5 miliar dari hasil menjual potret swafotonya di platform digital Opensea.

Jauh sebelum itu, masyarakat, khususnya kalangan anak muda sudah lebih dulu keranjingan berinvestasi mata uang kripto (cryptocurrency). Kondisi pandemi membuat anak muda memiliki banyak waktu luang untuk belajar hal baru, salah satunya mengenai investasi.

Sebelum kripto, anak muda lebih dulu getol dengan investasi saham. Namun, ada anggapan bahwa pergerakan saham dinilai lambat oleh mereka, maka investor generasi milenial mulai melirik kripto yang dirasa menawarkan untung yang besar.

Pada dasarnya, kripto merupakan sebuah mata uang digital atau virtual yang dijamin oleh kriptografi dan tanpa perlu melewati pihak ketiga. Belum banyak negara menggunakannya sebagai alat transaksi, satu di antaranya ialah El Savador. Kripto lebih sering dimanfaatkan sebagai instrumen investasi, termasuk di Indonesia.

Salah satu anak muda yang memanfaatkan kripto sebagai sarana investasi ialah Rahma, 26. Meski sudah mengenal kripto sejak lima tahun lalu, tetapi perempuan yang baru merampungkan studi pascasarjana dari salah satu kampus negeri di Jogja ini baru serius menggelutinya sejak setahun terakhir.

Mulanya, dia mengetahui tentang kripto melalui salah seorang saudaranya yang sudah lebih dulu aktif berinvestasi di kripto pada 2017. Saat itu, dia penasaran dengan aktivitas investasi di kripto sehingga memutuskan untuk mencobanya. Dia memilih Altcoin sebagai aset investasi kriptonya lantaran nilainya lebih rendah dibandingkan Bitcoin.

"Pertama kali banget aku pakai tabunganku sebesar Rp50.000 untuk investasi kripto. Tetapi, enggak kuteruskan. Aku lupakan saja, karena waktu itu sibuk skripsian waktu masih S1," kata Rahma kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Rupanya, pada 2020, salah seorang temannya bercerita jika ia tengah berinvestasi kripto. Rahma yang saat itu baru ingat jika ia pernah menjajal investasi kripto, akhirnya mengecek saldonya yang sudah lama tidak dipantaunya.

"Ternyata saldoku sudah bertambah sekitar 1.500 persen, dari Rp50.000 menjadi Rp800.000. Waktu itu aku kaget banget, apalagi aku mahasiswa dapat uang segitu pasti kaget. Karena dapat untung banyak, aku mau coba lagi. Sejak itu aku menggeluti kripto," ungkapnya.

Mulai dari momen itu, Rahma memutuskan untuk aktif mempelajari tentang investasi kripto. Dia yang tak punya latar belakang studi khusus soal ekonomi dan investasi mulai belajar secara autodidak.

Seperti anak muda pada umumnya, dia pun belajar mengenai investasi dari media sosial. Dia melahap banyak konten tentang investasi kripto media sosial, mulai dari Youtube, Twitter, Instagram, hingga Telegram.

Tak hanya mengikuti akun-akun yang membahas soal kripto, dia pun bergabung ke dalam sejumlah grup virtual untuk berdiskusi dengan sesama investor mengenai peluang kripto setiap harinya.

Sejak saldonya melonjak drastis, Rahma pun mulai menambah deposit ke investasinya. Namun, dia memastikan uang yang ia gunakan merupakan uang dingin (uang yang tak dipakai dalam jangka waktu tertentu). Beruntung, saat itu orang tuanya memberinya sejumlah dana yang bisa ia gunakan untuk berinvestasi di kripto.

"Aku cuma deposit 3-4 kali, enggak banyak. Kalau untung berapa persen nanti aku ambil, lalu sisanya aku puterin lagi. Karena aku masih enggak tau di kripto ini cocok buat investasi jangka panjang atau jangka pendek," ucap dia.

Selain belajar soal rumus membaca chart di aplikasi investasi tersebut, Rahma juga merasa harus memperbarui informasi mengenai perkembangan di dunia lantaran setiap hal bisa mempengaruhi gejolak nilai koin di kripto.

"Misal ini kan eranya Metaverse ya, aku cari tau koin apa sih yang ikut di Metaverse, kalau dia ikut pasti harganya bakal naik. Maka dari itu juga harus mengikuti perkembangan info," kata dia.

Kuat Mental

Belum genap satu tahun aktif investasi kripto, Rahma memutuskan mengurangi intensitasnya dalam memantau pergerakan nilai koin yang ia investasikan. "Karena posisinya sekarang kripto kan cepat sekali naik turunnya, jadi harus bener-bener dipantau. Aku beberapa bulan terakhir belum bisa memantau dengan serius, jadi aku mengurangi main kripto," ujarnya.

Selain faktor kesibukan, menurut Rahma, ada faktor psikis yang mempengaruhinya untuk mengurangi intensitas memantau naik-turunnya nilai koin kripto. Oleh sebab itu, ia menyebut bahwa modal berinvestasi kripto tidak hanya soal ketahanan finansial, melainkan juga kuat mental.

"Karena naik turunnya itu enggak stabil. Kalau enggak terbiasa, enggak menguasai chart bakal loss terus, rugi terus. Misal waktu itu aku masuk di harga Rp1.000, terus turun ke Rp600, itu kan stres. Rp400 itu banyak lho. Ketika posisinya turun, tindakan apa yang harus dilakukan, itu harus pintar-pintar membuat keputusan. Tapi memang bikin stres banget," katanya.

Oleh karena itu, saat ini dia tengah mengurangi intensitas bermain kripto dan mempertahankan investasi saham atau emas yang dinilainya lebih aman. Dia juga berpesan kepada calon investor yang baru mulai investasi aset kripto untuk lebih banyak belajar seluk-beluk kripto hingga memahami bagaimana pergerakannya.

"Memang uangnya perlu disiapkan pertama kali. Tapi baiknya cari info dan siapkan mental juga. Punya duit tapi mentalnya nggak kuat, ya malah enggak bisa nyari uang lagi," tuturnya.

Sementara itu, Ayu, 25, mengaku belum tertarik untuk terjun ke investasi kripto. Sejauh ini, dia masih melihat perkembangan dan tidak ingin terburu-buru dalam ikut tren. Apalagi, ia mewaspadai terhadap iming-iming untung besar yang ditawarkan.

"Kalau saat ini masih belum tertarik, karena di Indonesia juga masih banyak pro-kontra," kata dia. Dia sendiri lebih memilih berinvestasi saham saat ini.

Meski demikian, Ayu membenarkan bahwa investasi kripto banyak digeluti anak muda, termasuk beberapa kawannya. Ia juga tak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti bakal menggeluti instrumen investasi ini jika situasi dirasa lebih menguntungkan.

Rasional

Pengamat ekonomi Y. Sri Susilo mengingatkan anak-anak muda yang hendak terjun ke investasi kripto untuk berpikir rasional sebelum benar-benar berinvestasi aset kripto. Apalagi dengan potensi high risk, high return berarti setiap peluang untung besar, berarti ada potensi risikonya juga besar.

"High risk, high return itu berlaku untuk investasi apapun. Ini harus dipegang, jangan hanya tergiur return-nya, tapi juga harus tahu betul aturan main dan risiko yang mungkin timbul," tutur Sri.

Dia mengungkapkan investasi kripto memang memiliki sejumlah kelebihan. Di antaranya ialah universal, transaksinya cepat, dan adanya transparansi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih terbuka potensi kejahatan di dunia siber sehingga investor muda harus tetap berhati-hati.

"Yang jelas, sebelum terjun di kripto, harus benar-benar mencari tahu soal kripto. Pahami keunggulan dan kekurangannya, harus berhati-hati karena setiap investasi ada kelebihan dan kekurangannya," kata dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini.

Meski begitu, dia menganggap bahwa anak muda saat ini bisa dengan mudah belajar mengenai seluk-beluk kripto sebelum terjun ke dalamnya lantaran banyak informasi yang tersedia di Internet. Tak terhitung banyaknya konten digital yang mengulas soal kripto yang bisa diakses milenial.

"Dalam era keterbukaan informasi ini, anak muda yang investasi itu saya kira bagus ya, karena bisa belajar dari mana saja. Yang pasti sebelum memulai itu harus banyak belajar dan membaca, dan ingat prinsip high risk high return," urainya.