Advertisement

Andalkan Sampah Tas Plastik, Bisnis Pemuda Bantul Ini Kini Full Senyum

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 27 Agustus 2022 - 08:47 WIB
Arief Junianto
Andalkan Sampah Tas Plastik, Bisnis Pemuda Bantul Ini Kini Full Senyum Owner Sawokecik, Dikko Andrey Kurniawan. - Twitter

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Di tangan Dikko Andrey Kurniawan, sampah plastik bisa berubah jadi produk kerajinan tangan yang cantik. Dia menyulap tutup botol plastik dan sampah plastik menjadi aksesori, tas, bahkan casing (pelindung ponsel).

Miris melihat sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi alasan pria asal Sanden, Bantul, ini merintis usaha bernama Sawokecik.

Dikko, sapaan akrabnya, tergerak berinovasi membuat produk dari sampah yang memiliki nilai guna dan nilai jual lebih.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Lewat usaha yang dirintisnya sejak 2020 itu, pria berusia 26 tahun itu mengumpulkan sampah plastik kemudian mengubahnya menjadi barang yang masih bisa bermanfaat, seperti aksesori dan fesyen.

BACA JUGA: JNE Sabet Dua Kategori Penghargaan Indonesia Markplus Festival 2022

Upaya ini sekaligus untuk mengajak anak muda bisa peduli lingkungan. “Kami awalnya membuat produk dari ampah tutup botol menjadi casing ponsel. Tetapi seiring berjalannya waktu, kami berinovasi dan sampah tutup botol itu enggak cuma jadi casing, tetapi juga kalung, anting, dan lain-lain,” kata dia kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Selain sampah tutup botol, Sawokecik juga melirik sampah plastik kresek untuk

dimanfaatkan kembali. Tas plastik itu ditenun dan hasil upcycle-nya bisa diturunkan ke dalam berbagai produk, seperti tas, topi, bahkan jaket.

Bagi Dikko, permasalahan lingkungan saat ini sudah harus jadi kepedulian oleh banyak pihak, terutama anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu contohnya ialah kondisi TPST Piyungan yang saat ini sudah overkapasitas.

Advertisement

Agar suplai sampah ke sana bisa berkurang, pengolahan sampah dan upcycle menjadi produk lain merupakansalah satu solusinya.

Tak dimungkiri, hal ini pun membuat bahan baku Sawokecik terbilang banyak karena berasal dari sampah di lingkungan sekitar.

Ketimbang terbuang tidak berharga, Dikko mengumpulkannya dan mengubahnya menjadi barang yang bernilai jual.

Advertisement

Dikko menuturkan, sewaktu memulai bisnis, dia mengeluarkan modal awal Rp500.000 untuk riset.

“Saya riset berbulan-bulan soal bagaimana membersihkan tutup botol, melelehkannya, sampai mencetak jadi apa yang kami inginkan. Jadi risetnya cukup panjang,” kata dia.

Kini dia dibantu sejumlah pekerja yang merupakan warga sekitar untuk mengerjakan produksi. Sementara pemasarannya dilakukan secara online dan offline.

“Kami sudah bekerja sama dengan beberapa pihak, seperti Dinas Koperasi dan UKM DIY, YIA, dan beberapa toko kerajinan di Bandung, Jakarta, hingga Bali,” ucap dia.

Advertisement

Salah satu produk Sawokecik/Instagram

Untuk produk aksesori seperti kalung dan anting, Dikko mematok harga mulai dari Rp20.000. Sementara, untuk casing ponsel mulai dari Rp45.000, tote bag kombinasi kain mulai Rp65.000, dan tas full tenun plastik Rp90.000.

Raih Prestasi

Advertisement

Tak hanya dilirik oleh anak muda yang ingin memiliki produk-produk upcycle, Sawokecik juga diapresiasi oleh sejumlah pihak. Bahkan, produk ini sudah menuai untung lumayan besar.

Pada gelaran MotoGP 2022 di Mandalika lalu, produk casing ponsel Sawokecik bahkan dijadikan merchandise melalui kerja sama dengan Inaproduct.

Sawokecik memproduksi 100 softcase dan hardcase dari sampah kantong plastik untuk suvenir di acara tersebut.

“Prestasi lainnya, tahun lalu kami finalis Wirausaha Muda Pemula [WMP] Kemenpora, meskipun belum juara. Kemudian, lolos 250 peserta dari PF Muda Pertamina

Advertisement

Foundation. Alhamdulillah banyak yang mengapresiasi,” ucap Dikko.

Meski begitu, Dikko mengakui usaha yang dirintisnya masih butuh pengembangan, termasuk dalam hal pencatatan dan pembukuan. Dia juga berharap bisa terus berinovasi karena pengembangan produknya masih sangat luas.“Sejauh ini penjualan paling banyak

ada di YIA, karena sudah enggak PPKM dan penerbangan sudah mulai normal,

jadi display di bandara cukup berdampak,” ujar dia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pengunjung FKY Tembus 39.000 Orang

Jogja
| Minggu, 25 September 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement