Advertisement
Hanya 34,1 Persen Pedagang Berjualan di E-Commerce

Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pelaku usaha di Indonesia yang menggunakan platform perdagangan elektronik atau e-commerce masih rendah.
BACA JUGA: Cara Memenangkan Persaingan di Bisnis Online
Advertisement
Hal ini berdasarkan survei BPS berjudul Statistik eCommerce 2022. Dalam survei tersebut, hanya 34,10 persen pelaku usaha yang menggunakan platform e-commerce untuk berjualan, sedangkan sisanya 65,90 persen pelaku usaha masih berjualan secara offline atau konvensional.
BPS menilai bahwa usaha yang menerima pesanan atau melakukan penjualan barang/jasa melalui internet di Indonesia masih tergolong rendah dan masih didominasi dengan jenis usaha konvensional.
Meskipun demikian, BPS mencatat peningkatan pelaku usaha di 2022 menjadi 34,10 persen jika dibandingkan Desember 2021 yang hanya sebesar 32,23 persen.
Survei ini juga menunjukan pelaku usaha e-commerce di Indonesia saat ini masih berpusat di Pulau Jawa atau sama seperti tahun lalu. Pada 2021, dari 2.868.178 pelaku usaha di e-commerce, sebanyak 1.497.655 usaha (52,22 persen) berlokasi di pulau terpadat di Indonesia.
Dari seluruh usaha yang tak melakukan kegiatan e-commerce pada 2021, sebanyak 71 persen beralasan lebih nyaman berjualan secara langsung alias offline. Alasan lainnya adalah tidak tertarik berjualan online (38,74 persen), kurang pengetahuan atau keahlian (21,46 persen) dan lain sebagainya.
Secara umum, hasil pendataan menunjukkan pelaku usaha eCommerce di Indonesia mempunyai 7 ciri-ciri yaitu, pertama mayoritas menggunakan pesan instan dan media sosial sebagai media penjualan.
Kedua, mayoritas pendidikan penanggung jawab/pemilik usaha adalah sekolah menengah atas. Ketiga, nilai pendapatan total maupun nilai pendapatan e-commerce dibawah Rp300 juta.
Keempat, mayoritas usaha tidak memiliki laporan keuangan. Kelima, metode pembayaran yang paling sering digunakan adalah pembayaran secara tunai atau Cash on Delivery (COD).
Keenam, pengiriman langsung sebagai metode pengiriman yang paling sering digunakan. Ketujuh, wilayah pengiriman barang masih dalam pulau yang sama dengan domisili usaha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kebijakan WFA Buat Pergerakan Penumpang Kereta Lebih Merata
- Pemerintah Bakal Bangun Rumah Subsidi untuk Nakes, Guru, Nelayan, dan Wartawan
- Bendahara Negara Yakin Lebaran Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi
- Juli, 70.000 Koperasi Desa Merah Putih Terbentuk
- TIPS KELOLA UANG: Jurus Atur THR untuk Keuangan yang Sehat
Advertisement

Antisipasi Pengamen Liar di Malioboro, Ini Langkah Satpol PP Jogja
Advertisement

Taman Wisata Candi Siapkan Atraksi Menarik Selama Liburan Lebaran 2025, Catat Tanggalnya
Advertisement
Berita Populer
- Zulhas Jamin Harga-Harga Normal Sepekan Setelah Lebaran
- 157.231 Penumpang Masih Lakukan Perjalanan di Hari H Idulfitri
- TIPS KELOLA UANG: Jurus Atur THR untuk Keuangan yang Sehat
- Juli, 70.000 Koperasi Desa Merah Putih Terbentuk
- Bendahara Negara Yakin Lebaran Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi
- Pemerintah Bakal Bangun Rumah Subsidi untuk Nakes, Guru, Nelayan, dan Wartawan
- Bahas Kondisi Ekonomi, Prabowo Undang Investor Saham Setelah Lebaran
Advertisement
Advertisement