Sensus Ekonomi 2026 Petakan Potensi Ekonomi dan Peluang Investasi DIY
Sensus Ekonomi 2026 BPS DIY dapat membantu pelaku usaha membaca potensi ekonomi, peluang pasar, dan investasi di berbagai wilayah.
Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA–Bank Indonesia (BI) DIY menyebut industri pengolahan pada triwulan II 2023 tumbuh cukup tinggi dan merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi DIY. Berdasarkan karakteristiknya, industri pengolahan di DIY didominasi oleh skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Lapangan industri pengolahan pada triwulan II 2023 kemarin tumbuh masih cukup tinggi dan merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi DIY. Berdasarkan karakteristiknya, industri pengolahan di DIY didominasi oleh skala usaha mikro dan kecil. Jadi termasuk dengan UMKM. Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah [UMKM] ini telah menjadi penopang utama ekonomi DIY dengan mencapai 99,56,” kata Kepala Perwakilan BI DIY, Ibrahim, dalam talkshow Business Matching Pembiayaan 2023 di Hotel Marriott, Senin (4/9/2023).
Kepala Perwakilan BI DIY, Ibrahim menyampaikan pada triwulan II tahun 2023 pertumbuhan ekonomi DIY mampu tumbuh 5,16 atau lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,13. Menurutnya pertumbuhan tersebut terutama didorong beberapa lapangan usaha utama di DIY antara lain pertanian, penyediaan akomodasi, makan dan minum, serta perdagangan, termasuk industri pengolahan.
Menurut Ibrahim menguatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2023 tersebut merupakan salah satu momentum yang perlu dimanfaatkan bagi semua pihak, mengingat UMKM memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian. Menurutnya ketahanan UMKM perlu dijaga dalam menopang stabilitas ekonomi dan kekuatan ekonomi sesuai pilar kebijakan ekonomi dan inklusi keuangan dalam kerangka kebijakan BI yakni kebijakan makroprudensial.
BACA JUGA: DIY Alami Deflasi pada Agustus 2023, Pemda: Sudah Jadi Tren Tahunan!
Meski begitu, menurutnya dalam upaya mendukung UMKM di DIY ada beberapa tantangan yang masih dihadapi, salah satunya terkait dengan asimetri informasi antara UMKM dengan lembaga keuangan. Menurutnya masih ada keterbatasan kapasitas SDM UMKM dalam melakukan pencatatan keuangan, kemudian lembaga keuangan juga memiliki keterbatasan dalam memperoleh informasi keuangan UMKM yang siap dibiayai.
Dalam menghadapi hal tersebut, menurutnya pihaknya berupaya melakukan pengembangan UMKM melalui tiga pilar yaitu korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan. Pembiayaan kepada UMKM baik melalui perbankan atau lembaga keuangan ini merupakan hal terpenting agar UMKM dapat terus naik kelas dan membaik.
“Selain itu timbal balik keduanya merupakan bentuk simbiosis mutualisme dalam ekonomi bagi seluruh pihak. Yang tentu saja akan berdampak pada ketersediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan domestik bruto di daerah,” papar Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, hingga tahun 2023, terdapat total 236 UMKM yang didampingi secara langsung oleh Kantor Perwakilan BI DIY. Dimana 57 UMKM diantaranya tercatat dalam aplikasi Sistem Informasi Monitoring Program Ketahanan Pangan (SIKEPANG).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sensus Ekonomi 2026 BPS DIY dapat membantu pelaku usaha membaca potensi ekonomi, peluang pasar, dan investasi di berbagai wilayah.
Sekitar 1.500 pendaki telah registrasi melalui jalur Cemoro Sewu untuk mengikuti upacara HUT RI ke-81 di Gunung Lawu.
Polda Metro Jaya menyiapkan 27 kantong parkir di Monas, GBK, Kemayoran-Ancol saat perayaan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026.
Harga emas dunia diproyeksikan menguat pekan depan. Emas diperkirakan bergerak US$4.186-US$4.572 per troy ounce.
Karhutla Gunung Bromo telah dipadamkan, tetapi tim gabungan tetap siaga mengantisipasi bara dan titik asap baru di kawasan tersebut.
RSUD Manggarai rusak akibat gempa M7,7. BNPB menyiapkan rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal untuk menjaga layanan kesehatan.