Advertisement
Kenaikan Pajak Hiburan Tak Berdampak Signifikan ke Bisnis Mal

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBI) DIY, Surya Ananta menyampaikan kenaikan pajak hiburan 40%-75% tidak berdampak signifikan pada bisnis mal. Dia menjelaskan pajak hiburan yang dimaksud ada pada kategori tertentu. Misalnya karaoke, spa, dan lainnya.
Sementara mal tidak masuk dalam kategori tersebut. Namun dia mencoba melihat secara makro dan mikro, di mana mikro levelnya ada di DIY. Secara makro, kata Surya, memang ada beberapa kategori yang dimaksud usahanya dijalankan di dalam mal.
Advertisement
"Saya melihatnya hampir gak ada di DIY yang mungkin hanya sebatas karaoke. Kalaupun ada pengaruhnya tidak signifikan," paparnya, Senin (22/01/2024).
Namun jika usaha tersebut atau pihak tenant penyewa masuk menjadi kategori yang pajaknya naik tentu akan ada polemiknya. Sehingga berdampak ke kunjungan.
"Namun dalam hal ini kami pengelola mal tidak bisa direct menyampaikan hal seperti itu," lanjutnya.
Menurutnya pajak yang dikenakan mal saat ini 11% dan sudah berjalan. Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran dari bisnis mal adalah tingkat pertumbuhan ekonomi.
Jika dilihat secara mikro di DIY tingkat kunjungan masih bagus. Apabila keamanan berjalan baik di tahun politik ini pergerakan masyarakat yang berwisata ke DIY akan berjalan lancar.
BACA JUGA: BEI DIY: Saham Emiten Hiburan Bisa Turun Jika Tarif Pajak Naik
BACA JUGA: Pajak Hiburan Tidak Semua Naik hingga 75 Persen, Ini Daftarnya
"Dari sisi daya beli kelihatan mungkin gak seperti yang diharapkan. Menunda dulu atau menunggu dulu," lanjutnya.
Sebelumnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY mengaku keberatan atas rencana kenaikan tarif pajak hiburan 40%-75%.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo mengatakan kebijakan ini sangat memberatkan dunia pariwisata. Menurutnya, sektor pariwisata tidak akan jalan tanpa ada hiburan.
Keberatan ini pun telah ia sampaikan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui DPP PHRI.
"Kami ini bagian pariwisata salah satu bagiannya adalah hiburan, kalau hiburannya naik otomatis investor dan wisatawan baik domestik dan asing mau berkunjung ke suatu destinasi ya berat," ucapnya.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardianto mengatakan rencana kenaikan ini akan sangat berdampak pada perkembangan dunia hiburan, sebagai pendukung kegiatan pariwisata ke depan.
"Pengusaha tidak akan mampu bertahan dengan besaran pajak yang sudah di atas batas kemampuan industri, sehingga akan menjadi ancaman dunia hiburan ke depan, tentunya termasuk di Jogja," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran dari Jogja, PT KAI Daop 6 Berangkatkan 31.780 Penumpang
- Harga Emas Hari Ini: Emas Antam-UBS-Galeri24 Kompak Anjlok hingga Rp39.000
- Cara Mengecek Keaslian Emas Antam Pakai Ponsel
- Penerapan Tarif Impor 32 Persen ke Amerika Serikat, Pengusana Makanan Waswas Ekspor Anjlok
- Masyarakat Bisa Dapat Tiket Murah Kereta Api, Ini Tips dari PT KAI
Advertisement

Jadwal Kereta Bandara Hari Ini Senin 7 April 2025, Berangkat dari Stasiun Tugu dan YIA
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Sentuh Angka Rp17.006 Per Dolar AS Versi NDF
- Arus Balik Lebaran 2025, Stasiun Yogyakarta Layani 123.320 Penumpang KA Jarak Jauh
- Harga Emas Hari Ini: Emas Antam-UBS-Galeri24 Kompak Anjlok hingga Rp39.000
- Tolak Kebijakan Trump, Ratusan Ribu Warga AS Turun ke Jalan
- Asosiasi Mal DIY Sebut Kunjungan di Libur Lebaran 2025 Tidak Anjlok
- Indonesia Bersiap Menghadapi Kebijakan Tarif Donald Trump, Menko Perekonomian Panggil Pelaku Industri
- Viral di Medsos Penawaran Pupuk Bersubsidi, PT Pupuk Indonesia: Hanya Bisa Ditebus di Kios Resmi
Advertisement
Advertisement