Advertisement
Inflasi Terjadi di Kota Jogja, Emas Jadi Biangnya
Pertumbuhan ekonomi ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Setelah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut, pada Oktober 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat adanya inflasi di Kota Jogja.
Kepala BPS Kota Jogja, Mainil Asni menuturkan kondisi ini masih tergolong wajar. Pasalnya deflasi berturut-turut yang kemudian disusul oleh inflasi ini juga terjadi secara nasional. Bahkan, deflasi di Kota Jogja tidak terjadi selama deflasi tingkat nasional yang mencapai 5 bulan tanpa jeda.
Advertisement
"Sebenarnya perkembangannya tidak banyak. Normal-normal saja. Ini terjadi di semua wilayah, semua daerah di Indonesia. Masih secara normal bukan sesuatu yang khusus," ujar Mainil saat ditemui di Kantor BPS Kota Jogja, Jumat (1/11/2024).
Dia mengatakan ada beberapa komoditas yang menyumbang inflasi bulan ini. Salah satu komoditas yang konsisten menjadi penyumbang inflasi adalah emas yang termasuk dalam kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dibanding Oktober tahun lalu, emas mengalami inflasi sebesar 10,09%. Sementara jika dibandingkan dengan September 2024, emas menyumbang inflasi sebesar 0,07%.
Mainil mengatakan terjadi kenaikan harga emas secara internasional yang tentu saja turut berdampak pada tingkat inflasi secara nasional. Saat ditanya lebih jauh, Mainil tak bisa memastikan apakah ini dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang membeli emas atau menjual emas.
"Kami belum melihat seberapa besarnya penurunan orang beli emas atau orang jual emas. Kita hanya melihat perkembangan harga. Harga emas terakhir Rp 1,5 juta [per gram]," ucap dia.
BACA JUGA: Hadapi Kelesuan Ekonomi, TPID Sleman Adakan Gerakan Membeli Sayuran Petani
Selain emas, ada juga beberapa komoditas lain yang turut menyumbang inflasi bulan ini. Di antaranya adalah komoditas ayam sebesar 0,03% dan buncis 0,02%.
Ada juga bawang merah, kacang panjang, kopi bubuk, bakso siap santap, cabai rawit, tomat, dan uang kuliah yang menyumbang inflasi sebesar 0,01%. Mainil menuturkan jika melihat tren, dua bulan jelang akhir tahun ini akan kembali terjadi inflasi. "Kalau dari grafik dua bulan terakhir pada 2023 dan 2022 trennya naik, biasanya. Tapi ettidak bisa menjadi kesimpulan," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
PPPK Sleman Terancam PHK, Imbas Batas Belanja 30 Persen APBD
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
- Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan, Nilai Buyback Justru Merosot
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
- Ekspor Batu Bara Kena Pungutan Baru, Berlaku Mulai 1 April 2026
- Rupiah Menguat Tipis Saat Pasar Menunggu Sinyal Damai Iran
- Pemerintah Berupaya BBM Subsidi Tetap Aman Saat Dunia Bergejolak
Advertisement
Advertisement





