Advertisement
Ekonom Indef Minta Pemerintah Waspadai Perlambatan Ekonomi, Ini Faktornya
Investasi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov mengatakan Indonesia harus bersiap menghadapi risiko perlambatan ekonomi.
Dia mengatakan selama tiga tahun terakhir indikator pemutusan hubungan kerja (PHK) terus meningkat. Di semester I 2025 jumlah masyarakat yang terkena PHK adalah 42.385, meningkat 32,2% dari semester I 2024 sebanyak 32.064, dan meningkat 21,5% dari semester I 2023 sebanyak 26.400.
Advertisement
Sementara 10 provinsi dengan PHK tertinggi semester I 2025 mayoritas di Pulau Jawa. Seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur.
"Populasi besar di wilayah Jawa, risiko kerek kemiskinan di Indonesia. Waspadai juga perlambatan dan penurunan penciptaan tenaga kerja," ucapnya, dalam diskusi publik 'Angka Kemiskinan Turun, Kesejahteraan Naik?' secara hybrid, Selasa (29/7/2025).
BACA JUGA: JPW Desak Transparansi Proses Hukum Kasus Laka Lantas Libatkan TNI Bantul
Menurutnya berdasarkan data International Labour Organization (ILO) pertumbuhan tenaga kerja baru secara global diproyeksikan turun. Di 2025 dari 1,7 persen (setara 60 juta pekerja) menjadi 1,5 persen (setara 53 juta pekerja). Estimasi berkurangnya 7 juta pekerjaan tersebut perlu menjadi perhatian khusus dengan mempertimbangkan kesenjangan lapangan kerja.
Lebih lanjut dia mengatakan tantangan lainnya yang perlu diwaspadai adalah penurunan kelas menengah, dari 21,45 persen di 2019 menjadi 17,13 persen di 2024. Proporsi kelas menengah berisiko menyusut di 2025. "Penciptaan lapangan kerja melambat, PHK meningkat, dan tergerusnya kelas menengah," ujarnya.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Riza A. Pujarama memberikan beberapa rekomendasi dalam upaya pengentasan kemiskinan. Di antaranya peningkatan akses, infrastruktur, dan kualitas pendidikan. Menurutnya semakin tinggi pendidikan maka potensi upah yang didapatkan semakin tinggi dan pengaruhi posisi dalam pekerjaan.
BACA JUGA: Ini Cara BMKG Lakukan Pemodelan untuk Menetapkan Peringatan Tsunami Gempa Rusia
Lalu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui program pemberdayaan. Peningkatan kualitas tenaga kerja dengan mendorong peningkatan keterampilan dan keahlian. Mempercepat penciptaan lapangan kerja yang berkualitas melalui hilirisasi pada sektor industri manufaktur dan pertanian.
"Dan terakhir program perlindungan sosial yang tepat sasaran dengan target penurunan penerima manfaat," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Sorgum Tak Lagi Terpinggirkan Kini Jadi Gula Semut Bernilai
- Telan Rp10.500 Triliun untuk AI, Raksasa Teknologi PHK 4 Juta Pekerja
- Batas Pelaporan SPT 2026 Diperpanjang, Ini Cara Aktivasi Coretax DJP
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
Advertisement
Sinergi dengan Kampus, KAI Bandara Terjunkan SDM Jadi Dosen Tamu
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Sorgum Tak Lagi Terpinggirkan Kini Jadi Gula Semut Bernilai
- Isu Dana Desa Dipotong Mencuat, Ini Penjelasan Menteri Desa
- Kereta Ekonomi Murah Ini Diserbu, Puluhan Ribu Penumpang
- 11 Juta Lebih Warga Sudah Lapor SPT Pajak, Tenggat Diperpanjang
- Harga Emas Pegadaian Masih Tinggi Hari Ini, Cek di Sini
- Skema Asuransi Mulai Dibahas untuk Program Tiga Juta Rumah
- Ancaman Blokade Hormuz Bikin Minyak Melonjak, Wall Street Melemah
Advertisement
Advertisement





