Advertisement
Harga Tembaga Tembus U$10.000 per Ton
Perajin tembaga Sutopo menyelesaikan pembuatan miniatur dari bahan tembaga, di rumahnya dusun Blekonang 1, Desa Tepus, Tepus, Gunungkidul, Jumat (25/5/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Harga tembaga tercatat meningkat hingga tembus ke level US$10.000 per ton, berdasarkan London Metal Exchange (LME). Kenaikan ini seiring dengan pertimbangan pasar akan insiden tambang Grasberg milik Freeport di Indonesia.
Adapun, harga tembaga ditutup naik 1% menjadi U$10.013 per ton di LME pada pukul 17:50 waktu setempat pada Rabu (10/9/2025) kemarin. Semua logam lainnya juga tercatat mengalami kenaikan.
Advertisement
BACA JUGA: Trump Tertarik Tembaga Indonesia
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (11/10/2025) para pelaku pasar mencermati risiko pasokan tembaga dari Indonesia setelah kejadian longsor di tambang Grasberg yang menyebabkan tujuh pekerjanya terjebak.
Atas kejadian tersebut, Freeport McMoRan Inc mengumumkan bahwa perusahaan menghentikan sementara operasi di tambang besar miliknya di kawasan mineral Grasberg, Papua.
Perusahaan itu menyatakan tujuh pekerja yang tidak dapat dievakuasi diyakini dalam kondisi selamat, dan tim penyelamat sedang membuka akses menuju lokasi mereka.
Untuk diketahui, tambang ini merupakan tambang tembaga terbesar kedua di dunia, dan penghentian operasi yang berlangsung lama berpotensi memperketat pasar secara cepat.
Analis Natixis Bernard Dahdah mengatakan kondisi ini dapat memperparah gangguan pasokan jangka panjang yang telah mendorong kenaikan harga sepanjang tahun ini.
"Beberapa hari kehilangan produksi mungkin tidak langsung berdampak pada pasokan global. Namun jika penghentian berlangsung berminggu-minggu, dampaknya akan jauh lebih sulit diatasi," kata Bernard dalam laporan Bloomberg.
Di sisi lain, tak hanya efek kekhawatiran pasar akan pasokan, kenaikan harga tembaga juga dipicu tanda-tanda meredanya tekanan deflasi di sektor industri China.
Alhasil, harga logam industri utama ini menguat setelah sebelumnya bergerak dalam kisaran sempit awal pekan ini.
Dari sisi permintaan, data yang dirilis awal pekan ini menunjukkan bahwa deflasi harga pabrik di China mulai mereda untuk pertama kalinya dalam enam bulan.
Hal ini menjadi indikasi awal dari kemajuan upaya pemerintah mengatasi kelebihan kapasitas di sektor industri utama.
China saat ini memasuki tahun ketiga berturut-turut mengalami deflasi. Sebelumnya yang pertama kali terjadi sejak negara tersebut mulai beralih dari sistem ekonomi terpusat pada akhir 1970-an.
Penurunan harga secara luas selama sembilan kuartal mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, yang membebani neraca perusahaan dan menekan pendapatan rumah tangga serta pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Libur Lebaran 2026, Pengamanan Wisata Pantai Bantul Diperketat
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Bahlil Minta Warga Tak Panic Buying BBM Meski Harga Minyak Dunia Naik
- Harga Emas Pegadaian Hari Ini: UBS dan Galeri 24 Kompak Naik
- Layanan BRI dan BNI Saat Idulfitri 2026, Ini Jadwalnya
- Akses Tol Dekat Jogja Diprediksi Naikkan Kunjungan Mal
- Angkutan Lebaran 2026 Dimulai, Daop 6 Layani 25.844 Penumpang
- APBN 2026 Defisit Rp135,7 Triliun, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya
- 7,2 Juta SPT Pajak 2025 Sudah Masuk, DJP Kejar Target 8,5 Juta
Advertisement
Advertisement






