Advertisement
Penyebab Kenaikan Harga Emas dan Daging Ayam, Penyumbang Inflasi DIY
Sejumlah pembeli sedang memilih model emas perhiasan. Dok. Harian Jogja
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pada September 2025 DIY mengalami inflasi 0,15% secara bulanan (month-to-month/mtm). Kelompok utama penyumbang inflasi September 2025 secara bulanan adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, mengalami inflasi sebesar 0,98% dengan andil 0,07% dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,21% dengan andil 0,06%.
Komoditas pendorong inflasi September 2025 di antaranya daging ayam ras dengan andil 0,10%, emas perhiasan 0,07%, cabai merah 0,05%, buncis 0,03%, disusul telur ayam ras, bayam, kontrak rumah, beras, ikan lele, dan cabai hijau masing-masing 0,01%.
Advertisement
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengatakan kenaikan daging ayam ras disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari peternak, serta naiknya harga pakan ternak di tengah pemenuhan permintaan masyarakat.
Sementara kenaikan harga emas dipengaruhi harga emas global seiring ketidakpastian global yang tercermin dari meningkatnya Global Risk Index dan Geopolitical Risk Index.
BACA JUGA
"Kondisi tersebut berdampak pada tingginya permintaan konsumen untuk komoditas emas sebagai aset safe-haven," ucapnya.
Dia menjelaskan inflasi September 2025 utamanya tertahan oleh penurunan harga bawang merah dan tomat dengan andil deflasi masing-masing 0,08% dan 0,05% secara bulanan.
Penurunan harga bawang merah sebagai komoditas andil deflasi terbesar disebabkan oleh pasokan bawang merah yang melimpah dari Kabupaten Bantul di tengah masuknya pasokan dari Kota Bima dan Kabupaten Demak.
"Di tengah permintaan yang melemah," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan BI DIY bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY mengapresiasi kontribusi aktif berbagai pihak yang telah membangun sinergi dan kolaborasi.
BI memperkirakan inflasi DIY tahun 2025 tetap terjaga pada kisaran target 2,5% plus minus 1% (year-on-year/yoy). Capaian ini ditopang oleh upaya TPID DIY dalam kerangka 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) DIY 2025.
Di antaranya pelaksanaan operasi pasar/pasar murah yang diperkuat dengan optimalisasi Kios Segoro Amarto sebagai price reference store untuk menjaga daya beli, kampanye belanja bijak, dan penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) baik antar provinsi maupun intra provinsi.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan strategis serta maraknya berbagai gerakan sosial masyarakat yang bertujuan untuk stabilitas harga dan pasokan termasuk efisiensi distribusi komoditas. Dalam hal implementasi strategi komunikasi efektif.
Menurutnya TPID DIY telah melaksanakan kegiatan Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI) Goes to School dalam rangka memberikan edukasi inflasi kepada 900 orang guru dan siswa SMA, SMK, dan MA. "Terlaksana pada 20 Agustus 2025, serta 16-19 September 2025 di 5 kabupaten/kota di DIY," lanjutnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Thailand Legalkan Pernikahan Sesama Jenis, Dorong Ekonomi Pelangi
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Logam Mulia Antam, UBS dan Galeri24 Hari Ini 2 Januari 2026
- Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit dan Telur Masih Tinggi
- Melalui Perahu Literasi, BRI Peduli Dorong Pendidikan di Tolitoli
- Kekayaan Elon Musk Tembus US$726 Miliar
- KAI Daop 6 Tebar Diskon Tiket 30 Persen hingga 10 Januari 2026
- Perputaran Uang di DIY Tembus Rp9 Triliun Selama Libur Nataru
Advertisement
Advertisement




