Advertisement
Ekspor DIY Januari-Oktober 2025 Tembus 460 Juta Dolar AS
Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat ekspor DIY sepanjang Januari-Oktober 2025 mencapai 460,44 juta dolar AS, meningkat 5,68% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 435,71 juta dolar AS. Sektor industri menjadi motor penggerak utama ekspor dengan kontribusi sebesar 99,14% selama periode tersebut.
Statistisi Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono menyampaikan Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor 198,46 juta dolar AS dengan share 43,10%. Selanjutnya adalah Jerman sebesar 51,37 juta dolar AS atau 11,16% dan Jepang 34,04 juta dolar AS atau 7,39%.
Advertisement
"Kategori produk yang mendominasi ekspor secara tahunan antara lain pakaian bukan rajutan dan aksesorisnya, barang dari kulit samak, serta pakaian rajutan dan aksesorisnya," ujarnya.
Ia mengatakan khusus di Oktober 2025 ekspor DIY mencapai 45,37 juta dolar AS, secara tahunan (year-on-year/yoy) turun 7,05% dari Oktober 2024 sebesar 48,81 juta dolar AS. Menurutnya penurunan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang turun 7,71% pada Oktober 2025 yoy dengan andil sebesar 98,66% dari total ekspor DIY.
BACA JUGA
Di sisi lain ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 100% dari 0,30 juta dolar AS pada Oktober 2024 menjadi 0,60 juta dolar AS pada Oktober 2025.
Lebih lanjut Sentot mengatakan total nilai impor DIY sampai Oktober 2025 sebesar 144,81 juta dolar AS, naik 5,77% dibanding periode yang sama tahun lalu. Menurutnya peningkatan ini didominasi impor bahan baku/penolong dengan andil 89,10%. Ia menyebut hal ini konsisten dengan struktur industri pengolahan DIY yang banyak bergantung pada bahan baku tekstil.
"Secara tahunan impor Oktober turun tipis 0,39% menjadi 15,25 juta dolar AS, terutama disebabkan oleh turunnya nilai impor bahan baku/penolong," ujarnya,
Meski demikian, Sentot mengatakan beberapa komoditas impor justru menunjukkan pertumbuhan, seperti kain rajutan dan kain tekstil dilapisi atau dilaminasi sedangkan impor komoditas filamen buatan mengalami penurunan.
Sentot menyampaikan Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor dengan nilai 56,22 juta dolar AS, diikuti Hongkong 27,28 juta dolar AS, dan Amerika Serikat dengan nilai impor 24,13 juta dolar AS.
"Secara umum, DIY masih mengalami surplus neraca perdagangan selama Januari-Oktober 2025 dan kondisi tersebut menunjukkan adanya kenaikan dibanding periode yang sama tahun lalu," katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati mengatakan ekspor DIY Januari–Oktober 2025 lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2024 karena adanya kenaikan permintaan dari negara tujuan, untuk beberapa komoditi dengan dominasi sektor industri pengolahan.
"Serta adanya faktor eksternal seperti tren global yang ikut memengaruhi bertambah atau berkurangnya permintaan," ucapnya.
Dia menjelaskan terkait peningkatan ekspor DIY pada sektor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan adalah didorong produk pertanian di mana ada kenaikan permintaan terutama pada komoditi salak.
Yuna memperkirakan ada optimisme peningkatan ekspor di 2026, meski diperkirakan tidak signifikan. Sebab menurutnya akan dipengaruhi oleh kondisi global. "Jika kondisi politik, ekonomi, dan sosial secara global membaik, tentunya akan mempengaruhi peningkatan ekspor," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pengadaan 143 LPJU Baru di Kulonprogo Dimulai Setelah Lebaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Perang Iran vs AS-Israel Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
- Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Warga Sleman Siap-siap, Bakal Ada 1.000 Sambungan Jargas Baru
- Mudik Gratis Dinilai Efisien Redam Risiko Kecelakaan Lebaran
- JNE Prediksi Pengiriman Ramadan Naik hingga 30 Persen
- Harga Emas Pegadaian: UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta
Advertisement
Advertisement






