Advertisement

China Larang Ekspor Dwiguna ke Jepang, Fokus Sektor Militer

Jumali
Jum'at, 09 Januari 2026 - 08:47 WIB
Jumali
China Larang Ekspor Dwiguna ke Jepang, Fokus Sektor Militer Foto ilustrasi bendera China dan Jepang. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah China menegaskan larangan ekspor barang dwiguna ke Jepang hanya ditujukan untuk penggunaan militer dan tidak akan mengganggu sektor sipil maupun rantai pasok global.

Barang dwiguna merupakan komoditas, teknologi, serta perangkat lunak yang memiliki potensi kegunaan ganda, yakni untuk sektor sipil maupun militer. Termasuk di dalamnya adalah logam tanah jarang (rare earth) yang menjadi komponen vital bagi industri otomotif dan teknologi Jepang.

Advertisement

Juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yadong, menyatakan komitmen negaranya untuk meminimalisasi dampak ekonomi terhadap sektor non-militer. Ia memastikan perusahaan yang bergerak di bidang sipil tidak perlu khawatir terhadap kebijakan ini.

"Pengguna sipil tidak akan terdampak," tegas He Yadong seperti dikutip dari Reuters.

Meski demikian, He tidak memberikan rincian lebih lanjut apakah logam tanah jarang masuk dalam daftar hitam larangan tersebut. Ia juga enggan menanggapi laporan mengenai pengetatan izin ekspor logam mulia tersebut. Padahal, logam tanah jarang memiliki peran krusial dalam pembuatan motor mobil listrik (EV) sekaligus komponen sensitif militer seperti mesin rudal dan drone.

Saat ini, China menerapkan daftar pengendalian ekspor yang mencakup sekitar 1.100 barang dan teknologi dwiguna. Daftar tersebut mencakup tujuh kategori logam tanah jarang menengah dan berat yang memerlukan izin khusus untuk dikirim ke luar negeri.

Kebijakan ini muncul di tengah memburuknya hubungan bilateral kedua negara. Eskalasi ketegangan dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November 2025 terkait potensi konflik di Selat Taiwan yang dianggap Beijing sebagai provokasi berat.

He Yadong menegaskan bahwa langkah pembatasan ekspor ini merupakan upaya sah untuk mencegah remiliterisasi serta ambisi nuklir Jepang. Sebaliknya, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Takehiro Funakoshi, telah melayangkan protes keras dan mendesak China untuk segera mencabut larangan tersebut karena dinilai mengancam stabilitas ekonomi regional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal Pemadaman Listrik di Sleman Hari Ini, Sabtu 10 Januari 2026

Jadwal Pemadaman Listrik di Sleman Hari Ini, Sabtu 10 Januari 2026

Sleman
| Sabtu, 10 Januari 2026, 00:37 WIB

Advertisement

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Wisata
| Jum'at, 09 Januari 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement