Advertisement

BI Yakin Inflasi Ramadan 2026 Terkendali di Target 2,5 Persen

Newswire
Kamis, 19 Februari 2026 - 21:27 WIB
Sunartono
BI Yakin Inflasi Ramadan 2026 Terkendali di Target 2,5 Persen Inflasi / Ilustrasi Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Bank Indonesia (BI) optimistis inflasi Ramadan 2026 hingga Idulfitri 1447 Hijriah tetap terkendali dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen atau berada di rentang 1,5 persen–3,5 persen. Keyakinan tersebut disampaikan menyusul stabilnya pasokan pangan dan terkendalinya inflasi inti di tengah peningkatan permintaan musiman.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyebut tekanan inflasi pada awal tahun lebih dipengaruhi faktor administered prices, khususnya dampak base effect diskon tarif listrik tahun lalu, sehingga angka inflasi diperkirakan sedikit di atas 3 persen.

Advertisement

“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini? Semuanya masih terjaga. Tetapi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu, sehingga kami perkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” kata Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Kamis.

Dari sisi pasokan pangan, Aida memastikan kondisi tetap stabil. Saat ini juga tengah berlangsung musim panen komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit yang menopang ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga.

Ia menegaskan, BI terus melakukan pemantauan harga secara mingguan dan perkembangan inflasi masih sesuai proyeksi bank sentral.

“Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret. Tetapi bahwa Januari, Februari ini agak sedikit tinggi, tapi karena dampak daripada diskon listrik yang terjadi di tahun lalu,” kata Aida.

BI juga memperkuat koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta mendorong implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga inflasi volatile food tetap terkendali selama periode Ramadan 2026.

Secara data, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 2,92 persen (yoy). Angka ini sedikit melampaui batas atas target BI.

“Sedikit di atas target inflasi kita 3,5 persen. Tapi ini sifatnya sementara,” ujar Aida.

BI mencatat kenaikan tersebut dipicu faktor base effect kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari dan Februari 2025, yang memengaruhi perbandingan tahunan.

Di sisi lain, inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,45 persen (yoy), mencerminkan kapasitas perekonomian yang masih mampu mengimbangi peningkatan aktivitas ekonomi.

Inflasi kelompok volatile food juga tercatat rendah sebesar 1,14 persen (yoy), seiring meningkatnya pasokan komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah selama masa panen.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun dan kembali berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi inti diprakirakan tetap terkendali sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas potensial serta konsistensi suku bunga kebijakan moneter BI dalam menjangkar ekspektasi inflasi sesuai target, termasuk menjaga imported inflation tetap terkendali selama periode inflasi Ramadan 2026 dan seterusnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

KDMP Bantul Terkendala Lahan, 3 Kalurahan Masih Cari Lokasi

KDMP Bantul Terkendala Lahan, 3 Kalurahan Masih Cari Lokasi

Bantul
| Kamis, 19 Februari 2026, 22:37 WIB

Advertisement

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wisata
| Senin, 16 Februari 2026, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement