Advertisement
Penjualan Properti di Jogja Turun 30 Persen, Ini Penyebabnya
Perumahan. / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Kinerja sektor properti di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami tekanan pada awal 2026. Real Estate Indonesia (REI) DIY mencatat penjualan properti pada triwulan I 2026 merosot sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketua DPD REI DIY, Ilham Muhammad Nur, mengungkapkan bahwa capaian penjualan pada awal tahun ini belum menunjukkan tren positif. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat hingga dampak dinamika global terhadap ekonomi nasional.
Advertisement
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia turut berimbas pada biaya produksi, termasuk bahan bangunan. Sejumlah komponen seperti plastik dan material lain ikut terdorong naik, sehingga memengaruhi harga properti secara keseluruhan.
“Kenaikan harga energi membawa efek berantai ke sektor lain. Walaupun yang dijaga pemerintah belum naik, BBM nonsubsidi sudah mengalami kenaikan,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
BACA JUGA
Memasuki triwulan II 2026, Ilham memperkirakan kondisi pasar belum akan pulih signifikan. Faktor-faktor yang memicu perlambatan pada awal tahun dinilai masih akan berlanjut dan membayangi kinerja sektor properti dalam waktu dekat.
Selain itu, ia menilai perlambatan ekonomi juga berkaitan dengan kebijakan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Upaya efisiensi anggaran membuat sejumlah program pemerintah yang biasanya mendorong pergerakan ekonomi menjadi terbatas.
Di sisi permintaan, pasar properti di Jogja masih didominasi segmen rumah dengan harga terjangkau. Rumah subsidi menjadi yang paling diminati, namun ketersediaannya terbatas. Akibatnya, banyak konsumen beralih ke rumah dengan harga di kisaran Rp300 juta hingga Rp500 juta.
“Segmen itu tetap menjadi yang paling banyak diminati meskipun kondisi pasar sedang turun,” jelasnya.
Sementara itu, untuk rumah dengan harga Rp600 juta hingga Rp1 miliar, penjualan relatif stabil. Namun, secara umum pola pasar tetap menunjukkan tren piramida, di mana semakin tinggi harga rumah, jumlah pembeli semakin sedikit.
Untuk menjaga kinerja penjualan, para pengembang di bawah naungan REI DIY mulai menerapkan berbagai strategi. Salah satunya dengan memberikan potongan harga cukup besar, berkisar antara 5 hingga 10 persen.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga arus kas perusahaan tetap sehat di tengah kondisi pasar yang lesu. Hingga saat ini, para pengembang juga belum merencanakan pameran properti sebagai strategi pemasaran tambahan.
“Diskon menjadi cara paling realistis agar penjualan tetap berjalan dan perusahaan bisa bertahan,” kata Ilham.
Dengan berbagai tantangan tersebut, sektor properti di Jogja diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam waktu dekat, sambil menunggu perbaikan kondisi ekonomi yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Minyak Anjlok 10 Persen, BBM Berpeluang Turun
- Minyak Rusia Masuk Indonesia Bulan Ini, Pasokan Energi Mulai Bergeser
- Inflasi Naik, Ekonomi Eropa Dibayangi Risiko Resesi
- Plastik Kian Mahal, INDEF Arahkan ke Kemasan Daur Ulang
- Dana Transfer ke Daerah Anjlok, Saatnya BPD Unjuk Peran
- Tiga Aturan Kunci Percepatan Pangan Mulai Dijalankan, Ini Detailnya
- Harga Emas Pegadaian, Antam, UBS, Galeri24 Turun Dua Hari Beruntun
Advertisement
Advertisement










