Akhir April, Serapan KUR BRI Cabang Bantul 40%

Akhir April, Serapan KUR BRI Cabang Bantul 40%Ilustrasi kredit usaha rakyat. - Ist./goukm.id
14 Mei 2018 07:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI Kantor Cabang Bantul hingga akhir April cukup menggembirakan, sekitar 40% dari total target penyaluran KUR mikro 2018 yang mencapai Rp312,8 miliar. 

Manajer Bisnis Mikro (MBM) BRI Kantor Cabang Bantul Sugiyatno mengatakan debitur KUR di wilahnya masih didominasi pelaku usaha sektor perdagangan. Kemudian disusul pelaku usaha sektor industri, pertanian, dan perikanan (nelayan). Hal itu menurutnya sesuai instruksi yang dikeluarkan Pemerintah Pusat yang menargetkan penyaluran sektor produksi minimum sebesar 50% dari target total penyaluran. Sugiyanto mengakui itu merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mendukung kebijakan ketahanan pangan dan hilirisasi industri pada sektor UMKM. 

Sebagaimana diketahui pemerintah menaikkan target penyaluran KUR untuk sektor produksi sebanyak 10% dibandingkan pada 2017 lalu. Optimisme pemerintah pusat tersebut didasarkan atas data 2017 yang dibandingkan dengan kinerja 2016 (year on year), penyaluran KUR di sektor produksi sampai dengan 31 Desember 2017 meningkat sebesar 9%. Pada 2017, penyaluran KUR di sektor produksi (pertanian, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, konstruksi, jasa-jasa) mencapai sebesar Rp40,9 triliun atau 42,3%. Sedangkan penyaluran KUR di sektor perdagangan mencapai sebesar Rp55,8 triliun atau 57,7%. 

"Kami memang mengikuti skema penyaluran KUR yang diinstruksikan oleh Pusat. Kami optimalkan untuk penyaluran sesuai sektor usaha produktif yang memang ditargetkan makin meningkat dari tahun sebelumnya," katanya kepada Harian Jogja, Minggu (13/5/2018). 

Tidak berbeda jauh dengan tingkat cabang, pengoptimalan KUR untuk sektor produktif juga dilakukan di tingkat unit BRI, salah satunya BRI Unit Kasihan. Kepala BRI Unit Kasihan, Zafri Fauzan menuturkan di wilayahnya proporsi debitur KUR masih didominasi perajin, pedagang, dan para pelaku industri. Pasalnya di wilayah unit Kasihan masih didominasi perajin skala kecil menengah yang makin tahun makin berkembang. 

"Perajin gerabah, furnitur kan makin banyak. Belum lagi di sini masuk wilayah perbatasan dan dekat kampus, sehingga usaha seperti laundry dan percetakan makin menjamur," katanya. 

Zafri menjelaskan jika dihitung dari nilai serapan, pada akhir April 2018 ada peningkatan hingga Rp3,5 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Artinya, jumlah debitur pun bertambah. Selain itu, ia menyebut skala industri debitur bisa jadi makin meningkat dari yang sebelumnya kecil menjadi menengah sehingga jumlah kreditnya pun naik. Begitu pula dengan pertumbuhan pelaku mikro baru, menurutnya mempengaruhi jumlah debitur KUR. 

"Bahkan berdasarkan data yang ada, sejak pada triwulan pertama 2018 ada pertumbunan debitur sebanyak 113 orang dalam tiga bulan," ucapnya.

 

Ad Tokopedia