Dirut RSUP DR Sardjito: Terapkan Transparansi Manajemen, Hilangkan Gap

Dirut RSUP DR Sardjito: Terapkan Transparansi Manajemen, Hilangkan GapDirektur Utama RSUP Dr Sardjito Jogja, Darwinto - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
10 Juli 2018 18:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN—Memimpin ribuan orang yang bernaung dalam satu rumah sakit bukanlah hal yang mudah. Namun Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Darwinto, punya cara tersendiri untuk melakukannya. 

Sejak resmi menjabat sebagai Direktur Utama RSUP Dr Sardjito pada November 2017 lalu, dokter spesialis bedah tersebut mengaku langsung mereformasi manajemen. Ruangan kerja direktur utama yang dulunya hanya berisikan meja kerja dan berkas-berkas miliknya saja, kini dilengkapi dengan meja dan kursi rapat yang muat untuk belasan orang. Seperti siang itu saat disambangi ruangan, Darwinto yang berkemeja putih dengan name tag dan kacamata tergantung di leher menyilakan Harian Jogja duduk di meja yang terletak di tengah ruangan tersebut. Berbarengan dengan dua humas RSUP Dr Sardjito yang turut serta mengobrol santai. 

"Beginilah. Ruang direktur utama ini juga sekaligus ruang kerja jajaran manajemen. Saya tidak mau ruangan saya eksklusif tetapi semua bisa rapat di sini, bekerja di sini. Ini ruang kerja bersama," ujarnya dengan senyum yang selalu terkembang di wajahnya. 

Ayah tiga anak tersebut mengaku hal tersebut ia lakukan untuk menghilangkan gap antarbagian. Suasana kerja harus dibuat sedemikian rupa agar kondusif dan menyenangkan sehingga antarsatu dengan bagian lainnya saling bahu membahu, bersinergi menghimpun kekuatan dan melengkapi kekurangan yang ada. Yang terpenting, dengan perbaikan manajemen yang mengutamakan kolaborasi, tercipta sebuah harmoni. Harmoni tersebut menurut Dr Darwinto merupakan kunci utama baik dalam bersosialisasi dengan sesama maupun bekerja. "Prinsip saya satu, menciptakan harmoni sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik dan seimbang," katanya. 

Berbagai cara pun ia tempuh untuk menghilangkan gap dan menciptakan harmoni di lingkungan RSUP Dr Sardjito. Darwinto menuturkan tiap pagi selalu menyempatkan diri untuk berkeliling, menyapa para staf maupun mitra dokter dan perawat yang ia temui. Dengan begitu, ia ingin relasi yang terjalin antara mereka setara, tidak timpang seperti atasan dan bawahan. 

Sambil mengenang kembali masa-masa studinya, Darwinto berkisah kemampuan manajerial tersebut ia dapatkan di bangku kuliah. Tak banyak orang tahu, sosok dokter yang memulai kariernya sebagai dokter umum di Puskesmas Jenawi Karanganyar yang letaknya di kaki Gunung Lawu ini juga memegang gelar Sarjana Hukum. Mulanya, Darwinto memang mengambil studi SI Hukum di UII. Baru pada tahun selanjutnya, ia kemudian masuk prodi kedokteran di UGM. Dua dunia studi tersebut ia jalani secara bersamaan. Meski sempat terhenti karena harus menjalani praktik koas, tetapi ia menuntaskan studi hukumnya dengan memuaskan. 

Ditanya tentang korelasi antara dua studi tersebut, Darwinto tersenyum simpul. Ia mengaku menyenangi keduanya karena satu benang merah yakni hubungan antar sesama manusia. Pada studi hukum, hubungan yang terjalin dengan klien sedangkan pada studi kedokteran tentu saja berkaitan dengan pasien. Mempelajari kaidah hukum, menurut Darwinto juga sangat membantunya dalam menangani urusan manajerial RSUP Dr Sardjito terutama yang berkaitan dengan kerja sama antara dua belah pihak. 

"Saya mengerti betul apa hak dan kewajiban yang harus dipenuhi kedua belah pihak dan juga bagaimana menyelesaikan jika suatu saat terjadi sengketa. Dulu saya tidak pernah berpikir untuk apa ilmu saya ini nanti, bagi saya tidak ada ilmu yang tak berguna," katanya. 

Pendidikan memang merupakan hal yang selalu Dr Darwinto tekankan kepada keluarga maupun seluruh staffnya. Bahkan sejak ia masih menjadi dokter umum di Puskesmas hingga kini, ia tak pernah bosan mendorong mereka untuk mengambil studi dan mengembangkan kemampuan. 

Ditanya tentang arah RSUP Dr Sardjito ke depannya, Darwinto menyebut akan fokus pada tiga hal yakni membuat rumah sakit ini mandiri, tak bergantung pada dana APBN ataupun dana bantuan lainnya. Hal itu menurutnya bisa dilakukan jika rumah sakit dapat mengelola sumber daya yang ada dengan optimal dan terus meningkatkan pelayanan pada para pasien. Selanjutnya, menjadikan RSUD Dr Sardjito menjadi wilayah bebas korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM). Pasalnya ia sadar betul, rumah sakit sebagai tempat layanan masyatakat mengelola dana yang begitu besar. Hal itu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan diberikan mekanisme kontrol yang benar. 

Terakhir, mendorong terwujudnya smart hospital melalui digitalisasi pelayanan. Sehingga semua urusan bisa terpantau dan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah diberlakukan. Pasalnya jika melanggar sedikit saja, akan sangat mudah diketahui sehingga pengawasan dan evaluasi makin mudah dilakukan. "Saya ingin layanan kami terus membaik sehingga masyarakat makin puas. Rumah sakit juga terus bisa sustain, mandiri, tak bergantung pada dana bantuan," ujarnya mengakhiri obrolan kami pada suatu siang pekan lalu.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia