Meski Kemarau Panjang, Pemerintah Jamin Stok Produk Hortikultura Aman

Meski Kemarau Panjang, Pemerintah Jamin Stok Produk Hortikultura Aman Bupati Bantul Suharsono bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Bantul, Jumat (11/5/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
14 Agustus 2018 20:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian DIY menjamin stok produk hortikultura terutama cabai, bawang merah, dan juga tomat aman hingga akhir tahun. Sehingga diharapkan tak akan terjadi lonjakan harga komoditas hortikultura di pasaran.

Musim kemarau panjang yang terjadi pada tahun ini dikhawatirkan para pedagang bakal melonjakkan harga komoditas hortikultura. Kenaikan harga tersebut selalu terjadi dari tahun ke tahun. Biasanya pada akhir tahun atau setelah musim kemarau pada Agustus hingga Oktober. Pasalnya tanaman hortikultura biasanya membutuhkan banyak air saat proses tanam. Jika kemarau berlangsung lebih panjang maka dipastikan stok akan menipis dan harga bisa melonjak.

Namun demikian Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko menjamin hingga saat ini stok produk hortikultura di Jogja aman. Ia menyebut pada Jumat (10/8) lalu, di wilayah Gunungkidul sudah memulai panen bawang merah. Dalam waktu dekat, wilayah Bantul akan menyusul. Kemudian beberapa wilayah di Kulonprogo akan panen pada September. Artinya ada kesinambungan stok dari beberapa wilayah di Jogja. Sehingga stok terus akan terus ada hingga November mendatang.

“Jogja ini kan wilayahnya kecil, kalau di sini hujan di sana juga. Sehingga kita tidak bisa bergantung pada musim. Selain itu diatur per wilayah sehingga ada terus. Kecuali di daerah-daerah yang tidak bisa kering atau jarang basah. Misalnya di Moyodan basah terus, ya di sana padi terus,” katanya kepada Harian Jogja, Senin (13/8).

Selain itu, menurut Sasongko pertanian di Jogja telah menerapkan pola tanam. Dalam satu tahun, petani akan menanam padi, hortikultura, maupun palawija secara bergantian sesuai musim. Terkait lonjakan harga yang biasa terjadi, Sasongko mengklaim hal tersebut disebabkan oleh permainan spekulan. Pasalnya stok di Jogja relatif aman. Menurutnya lonjakan harga biasa terjadi di daerah-daerah lain yang minim stok. Sehingga spekulan memburu komoditas di Jogja dan membelinya dengan harga mahal. Akibatnya stok di Jogja pun menipis dan menyebabkan harga komoditas hortikultura di pasaran mahal.

“Stok hortikultura kira-kira aman sampai November, Desember kami harap tak ada lonjakan harga yang berarti,” imbuhnya.