Musim Tak Menentu Persulit Penjualan Elektronik

Musim Tak Menentu Persulit Penjualan ElektronikPengunjung melihat barang elektronik disalah satu toko elektronik di Makassar. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone)
24 September 2018 08:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tak hanya depresiasi rupiah, musim yang tak menentu ditengarai juga berpengaruh pada menurunnya total pasar penjualan barang elektronik pada 2018 ini. Jika dibandingkan dengan 2017, ada penyusutan total pasar elektronik hingga 15%.

Marketing Communication Asst. General Manager PT Sharp Indonesia, Agys Soewadjie menyebut ada penurunan total pasar elektronik yang dirasakan oleh seluruh perusahaan. Saat ini, total market hanya mencapai 85% dibandingkan tahun lalu. Menurutnya Sharp juga mengalami penurunan hingga 3%. Namun jika dihitung total market share, Sharp naik dari 22% pada 2017 lalu menjadi 26% tahun ini. Oleh sebab itu, pihaknya masih yakin pasar Indonesia masih bisa membaik beberapa waktu ke depan.

Agus mengatakan berdasarkan analisa awal ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan total market pada 2018 ini. Di antaranya musim yang tak menentu sangat berpengaruh pada penjualan produk-produk yang tergantung pada musim, terutama lemari es, mesin cuci dan AC. Ia menjelaskan biasanya perusahaan bisa menyiapkan promo produk berdasarkan musim. Misalnya saat musim hujan, penjualan mesim cuci akan diintensifkan. Sedangkan pada musim kemarau, produk AC dan lemari es dipastikan akan laku keras. "Sekarang ini kami tak bisa lagi berpatokan pada musim karena dalam setahun saja cuaca tak menentu, berubah-ubah. Akhir tahun yang biasanya hujan sampai sekarang masih panas. Ini masih analisa awal kami," katanya pada Minggu (23/9).

Sedangkan penyebab penurunan penjualan produk TV atau LED menurut Agus juga dipengaruhi oleh produk smartphone yang makin mudah diakses. Jika sebelumnya dalam satu rumah yang memiliki tiga kamar tidur bisa punya tiga televisi, sekarang hanya satu karena anggota keluarga lebih memilih menonton YouTube. Namun Agus menekankan hal itu masih dalam tahap analisa awal karena toh penjualan produk smartphone kini juga ikut sepi.

Di tengah depresiasi rupiah, penjualan elektronik memang turun. Pasalnya meski proses asembling dilakukan di Indonesia, komponen alat elektronik tersebut masih didatangkan dari luar negeri. Sehingga saat nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah, harga komponen tersebut akan menjadi mahal. Mau tak mau perusahaan mengoreksi harga bagi produk elektronik yang dijual di pasaran.

Tak hanya dari sisi perusahaan, toko elektronik pun mengakui ada kenaikan harga pada hampir seluruh produk elektronik beberapa waktu terakhir. Pemilik Toko UFO Elektronik, Proko Sutomo menyebut harga barang elektronik mulai naik sekitar 5-10% sejak awal 2018. Kenaikan harga produk-produk yang perakitannya dilakukan di Indonesia masih ada di bawah 5% tetapi jika murni impor kenaikannya bisa mencapai 10%. Ia menyebut kenaikan harga tersebut tak bisa ditolak karena merupakan dampak dari dunia perekonomian global.

"Sebenarnya daya beli masyarakat masig normal tetapi karena ini murni faktor luar, kami tak bisa berbuat banyak. Apalagi kita masih banyak impor produk elektonik dan juga komponennya. Penurunan penjualan kami sangat rasakan pada September ini," ucapnya.

Padahal Proko mengaku kebanyakan toko elektronik sangat menggantungkan pemenuhan target penjualan di akhir tahun. Sebab produk televisi, AC dan lemari es biasanya laku keras. Sementara terkait faktor internal seperti gejolak politik yang mungkin terjadi pada 2019, menurutnya tak akan banyak berdampak pada penjualan produk elektronik. Sepanjang perekonomian global membaik, bisnis jual beli elektronik akan turut pulih.