Nekuni Rintis Art Merchandise dari Hobi Jajan

Nekuni Rintis Art Merchandise dari Hobi JajanNeni Fathonah dan Kurma Elda Gustriyanto, pasangan muda menunjukkan produk Nekuni belum lama ini. Keduanya mulai merintis bisnis art merchandise terinspirasi dari desain kemasan produk makanan dan minuman populer. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
13 Oktober 2018 12:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJAHobi jajan yang dimiliki Neni Fathonah membuatnya tertarik pada beragam keunikan dari desain kemasan makanan maupun minuman yang dibelinya. Bermodalkan keterampilan desain grafis saat kuliah di Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, bersama suaminya, Kurma Elda Gustriyanto, Neni memulai bisnis dengan mengaplikasikan berbagai desain kemasan produk makanan ringan ke dalam berbagai bentuk art merchandise.

Bisnis art merchandise yang dilabeli dengan nama Nekuni ini baru dirintis April 2018 lalu. Pasangan muda ini mencoba mengaplikasikan keterampilan semasa kuliah di ISI Jogja. Ketertarikan Neni pada kemasan produk makanan dan minuman, memberikan ide untuk diaplikasikan menjadi produk fungsional. Antara lain cover bantal dakron, gantungan kunci, hingga berbagai produk seni lainnya.

“Saya memang kebetulan sekali suka jajan. Terutama kalau melihat produk makanan atau minuman yang kemasannya unik, misalnya bungkus mi instan atau bungkus snack kentang dan minuman kemasan. Dari situ saya kepikiran untuk coba diaplikasikan jadi bantal atau apapun itu, tetapi dengan cara digambar ulang dan warna yang lebih menyenangkan,” ujar Neni belum lama ini.

Kali pertama mempromosikan produknya, dilakukan secara daring dengan memanfaatkan akun pribadi di sosial media Instagram. Bahkan, ketika pertama kali merintis bisnis ini di Kediri, kota kelahiran Neni, produknya juga mencoba diperkenalkan di pasar tumpah, yang biasanya buka setiap Minggu pagi.

Kendati demikian, Elda, suami Neni melihat pasar di kota tersebut kurang menarik untuk memperkenalkan art merchandise. “Kebetulan saya orang Jogja, dan ingin sekalian pulang kampung. Kami juga melihat pasar di Jogja juga cukup menarik untuk memasarkan produk ini,” ungkap Elda.

Sekembalinya ke Jogja, produksi art merchandise Nekuni mulai mengalami peningkatan pemesanan. Media sosial yang sebelumnya hanya menjadi ruang untuk mempromosikan karya-karya seni keduanya, menjadi media strategis untuk memasarkan produk art merchandise yakni di akun Instagram @_nekuni_. Bahkan, kini keduanya mendapat ruang di salah satu gerai produk kreatif yang berada di Jalan Cendrawasih, Demangan.

Selain pasar daring dan toko produk kreatif bersama, Neni dan Elda juga selalu menyempatkan untuk mengikuti bazar atau pameran UKM yang kini banyak diselenggarakan sejumlah pihak. Menurut keduanya, melalui kegiatan bazaar, edukasi produk ke konsumen menjadi lebih mudah dan efektif.

“Karena memang edukasi produk itu adalah salah satu tantangan untuk kami, terutama di awal-awal bisnis ini dimulai. Namun, dengan bazar kami jadi bisa menjelaskan secara langsung produk ini,” jelas Neni.

Tak hanya memiliki desain yang unik, tetapi juga lucu, sehingga tak mengherankan jika kebanyakan pembeli produk art merchandise Nekuni ini diminati anak-anak, remaja hingga ibu-ibu muda. Untuk harga, Neni dan Elda mematoknya dengan harga yang masih relatif terjangkau mulai dari Rp15.000 hingga yang termahal sekitar Rp100.000.

“Itu untuk produk yang ready stock, yakni desain dari kami. Kami juga banyak menerima permintaan costum, biasanya untuk hadiah ulang tahun, pernikahan dan wisuda,” imbuh Elda.