Advertisement
Penjualan Batu Bara Laris Manis
Alat berat (ekskavator) memindahkan batu bara ke atas mobil truk dari atas kapal tongkang di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018)./JIBI - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Tingginya serapan pasar membuat sejumlah emiten pertambangan batu bara optimistis dapat menjual seluruh batu hitam yang akan produksi hingga akhir 2018.
Moncernya penjualan batu hitam antara lain dialami oleh PT ABM Investama Tbk. (ABMM), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Advertisement
Adrian Sjamsul, Direktur dan Chief Financial Officer ABM Investama, mengungkapkan perseroan berencana memproduksi batu bara sebanyak 10 juta ton sepanjang tahun ini.
Hingga September 2018, dua anak usaha ABMM telah memproduksi batu bara sejumlah 7,1 juta ton. Volume itu terdiri atas produksi tambang PT Tunas Inti Abadi (TIA) di Kalimantan Selatan sebanyak 3,4 juta ton dan PT Mifa Bersaudara di Aceh sebanyak 3,7 juta ton.
Sampai akhir 2018, kedua tambang tersebut diharapkan mencapai target produksi 10 juta ton. Apabila tercapai, ABMM membukukan kenaikan volume produksi 25,94% year-on-year (yoy) dari realisasi produksi pada 2017 yang tercatat sebesar 7,49%.
“Sampai dengan akhir tahun, dari rencana produksi sudah habis dengan pelanggan lama kami,” tutur Adrian saat dihubungi Bisnis, Rabu (10/10/2018).
Seluruh produk batu bara Mifa di Aceh dilepas ke pasar ekspor seperti Tiongkok, India, dan Thailand. Dari sisi geografis, lokasi tambang itu diuntungkan karena dekat dengan negara-negara tersebut.
Seiring dengan permintaan ekspor yang terus bertumbuh, perusahaan berupaya memacu produksi tambang Aceh menjadi 8 juta—10 juta ton pada 2019. Selain pasar existing, ABMM juga membuka pasar baru, seperti Vietnam.
Adrian menambahkan salah satu tantangan industri batu bara pada kuartal III/2018 ialah harga yang agak turun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, perusahaan dapat meredam fluktuasi dengan mengontrol biaya operasional.
“Harga komoditas ini memang berfluktuasi, jadi kami fokus mengontrol ongkosnya,” imbuhnya.
Senada, Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis optimistis anak usahanya, PT Tuah Turangga Agung (TTA) mampu menjual 6,8 juta ton batu bara hingga akhir 2018. Pada tahun ini, entitas Grup Astra itu mengerek target penjualan batu hitam sebesar 7,42% dari realisasi penjualan 6,3 juta ton pada 2017.
Sara menyampaikan seluruh batu bara yang dijual berasal dari produksi tambang yang dioperasikan oleh TTA. Sepanjang Januari—Agustus 2018, perseroan sudah menjual 5,58 juta ton, naik 20,27% yoy dari periode 8 bulan pertama 2017 sejumlah 4,64 juta ton.
“Sampai akhir tahun penjualan atau produksi batu bara TTA bisa mencapai 6,8 juta ton,” ujarnya, Senin (8/10/2018).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Sorgum Tak Lagi Terpinggirkan Kini Jadi Gula Semut Bernilai
- Telan Rp10.500 Triliun untuk AI, Raksasa Teknologi PHK 4 Juta Pekerja
- Batas Pelaporan SPT 2026 Diperpanjang, Ini Cara Aktivasi Coretax DJP
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
Advertisement
Jadwal KRL Solo-Jogja 14 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Sorgum Tak Lagi Terpinggirkan Kini Jadi Gula Semut Bernilai
- Isu Dana Desa Dipotong Mencuat, Ini Penjelasan Menteri Desa
- Kereta Ekonomi Murah Ini Diserbu, Puluhan Ribu Penumpang
- 11 Juta Lebih Warga Sudah Lapor SPT Pajak, Tenggat Diperpanjang
- Harga Emas Pegadaian Masih Tinggi Hari Ini, Cek di Sini
- Skema Asuransi Mulai Dibahas untuk Program Tiga Juta Rumah
- Harga BBM Bisa Melonjak, Ini Peringatan Keras Iran
Advertisement
Advertisement







