Galian Bukan Logam dan Furnitur Topang IBS DIY

Galian Bukan Logam dan Furnitur Topang IBS DIYIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
02 November 2018 11:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pertumbuhan positif Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) di DIY ditopang oleh industri bahan galian bukan logam dan furnitur. Pertumbuhan pada triwulan III (Juli–September) 2018 ini berbanding terbalik dengan kondisi triwulan II/2018 (one to one) yang mengalami penurunan sebesar 8,69%.

Pertumbuhan produksi Industri Mikro Kecil (IMK) DIY juga meningkat sebesar 2,37%. Berlawanan dengan angka pertumbuhan produksi lMK tingkat nasional yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,35%.

Angka pertumbuhan produksi IBS merupakan hasil Survei Industri Besar Sedang yang dilaksanakan secara bulanan dengan sampel industri yang tersebar di lima kabupaten/kota di DIY. Sedangkan angka pertumbuhan IMK diperoleh melalui Survei Industri Mikro Kecil yang dilakukan secara triwulanan. Pada 2018 ini, jumlah sampel sebanyak 929 usaha untuk setiap triwulan.

Kepala BPS DIY, JB Priyono menjelaskan pertumbuhan produksi (IBS) pada triwulan III/2018 terhadap triwulan II/2018 (quarter to quarter/q to q) naik sebesar 3,08%. Ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar -8,69%. Menurutnya, pertumbuhan positif ini ditopang oleh pertumbuhan industri bahan galian bukan logam sebesar 14,34%, furnitur 8,39%, pengolahan tembakau 5,15%, serta industri makanan 3,48%. Peningkatan produksi jenis industri barang galian bukan logam, industri furnitur serta industri makanan yang cukup tinggi berkontribusi terhadap pembentukan output IBS di atas 10%. “Industri yang tumbuh negatif pada triwulan ini yaitu industri pakaian. Turun sebesar 8,05 persen,” katanya pada Kamis (1/11).

Namun Priyono menyebut perkembangan pertumbuhan produksi di DIY selama dua tahun terakhir cukup fluktuatif jika dihitung dari triwulan ke triwulan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada triwulan IV/2017, sedangkan pertumbuhan produksi IBS mengalami penurunan terbesar pada triwulan II/2018 hingga 8,69%. “Ini disebabkan adanya penurunan pertumbuhan industri makanan dan furnitur yang mempunyai andil yang cukup besar terhadap pembentukan output industri besar sedang,” ucapnya.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III/2017 (year on year/yoy) pertumbuhan produksi IBS meningkat sebesar 4,14%. Priono menjelaskan pada triwulan III/2018, pertumbuhan signifikan disumbang oleh industri pengolahan tembakau yang naik 24%. Kenaikan yang signifikan dari produk ini salah satunya disebabkan karena musim kemarau cukup panjang sehingga hasil panen tembakau meningkat. Selain itu juga dipengaruhi industri makanan dan furnitur yang naik sebesar 9,30% dan 6,77%.

Di sisi lain, pertumbuhan IMK juga menggembirakan. Pasalnya ada pertumbuhan positif hingga 5,97% dibandingkan dengan triwulan III/2017 (y o y) lalu. Priyono mengatakan pertumbuhan yang cukup tinggi dikarenakan adanya peningkatan produksi pada sebagian besar jenis industri dibandingkan produksi pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Dari 15 jenis industri, sebanyak sembilan jenis industri IMK tumbuh positif. Di antaranya industri pakaian jadi, barang galian bukan logam, dan minuman.

Namun ada pula yang tumbuh negatif seperti industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri karet, barang dari karet dan plastik. “Pertumbuhan produksi IMK DIY secara q to q lebih baik dibandingkan nasional yang turun sebesar 0,35%,” imbuhnya.