IDE BISNIS: Speakless, Menghadirkan Produk Kulit Murni Buatan Tangan

IDE BISNIS: Speakless, Menghadirkan Produk Kulit Murni Buatan Tangan Fajar Ryandoko (berdiri), pemilik Speakless bersama peserta workshop - ist/Speakless
13 November 2018 09:35 WIB Lajeng Padmaratri Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Produk kerajinan berbahan dasar kulit berkembang pesat di Jogja dan sekitarnya. Mencoba bersaing di pasar yang sama, Speakless menghadirkan produk yang agak berbeda yaitu kerajinan kulit untuk alat tulis. Ia pun memiliki idealisme yaitu menghadirkan produk 100% buatan tangan.

Beberapa waktu terakhir, usaha leather goods alias barang-barang berbahan dasar kulit binatang cukup berkembang di kalangan pekerja kreatif. Produk berbahan dasar kulit ini menjadi tren karena menghadirkan kesan vintage bagi yang memakainya. Umumnya, bahan kulit dibuat menjadi dompet dan tas.

Speakless kemudian menghadirkan produk dengan kegunaan yang lain yaitu untuk alat tulis. Sejak 2017, Fajar Ryandoko atau yang biasa dipanggil Ryan mulai melirik usaha kreatif leather goods. Tanpa latar belakang pengetahuan tentang produk kulit, ia tertarik untuk menggeluti dunia usaha ini setelah mengikuti sebuah lokakarya produk kulit bagi pemula di Institut Seni Indonesia (ISI) pada akhir Oktober 2017.

“Awalnya memang enggak tahu [produk] kulit itu bentuknya gimana, tapi kemudian diajak teman ikut workshop ternyata saya tertarik,” tutur Ryan ketika ditemui Harian Jogja belum lama ini.

Mulanya ia tidak begitu merasakan kesulitan membuat produk kulit. Ia sepenuhnya tertarik belajar menjahit kulit pada lokakarya tersebut. Namun karena masih minim pengalaman, ia merasa hasilnya belum rapi. Kemampuannya diasah terus dan menjadi modal utama membuka Speakless.

Laki-laki lulusan Jurusan Gizi dari Poltekkes Kemenkes Jogja ini menyebut memilih produk kulit untuk alat tulis karena sangat menggemari dunia alat tulis. Melalui Speakless, Ryan menawarkan berbagai seperti book holder, tempat pensil, serta buku catatan perjalanan. Ia mengerjakan sendiri seluruh proses produksinya, mulai dari pemolaan hingga perangkaian.

Seluruh proses yang dilakukan di Speakless mengandalkan kreativitas tangannya alias handmade. Ia mencoba untuk konsisten tidak menggunakan mesin untuk mempertahankan keunikan produknya. Dalam sekali produksi, craftsmanship kelahiran Pati ini cukup membutuhkan waktu satu hari saja untuk membuat pesanan klien.

Namun, ia memberikan rentang waktu sekitar satu minggu bagi pemesan, karena pencarian bahan hingga pengiriman barang masih dilakukannya sendiri.

Selama ini ia cukup mudah mendapatkan bahan produk kulit di Jogja. Ia menggunakan bahan berjenis nabati dari kulit sapi yang disamak dengan bahan nabati, misalnya saja akar akasia. Menurut Ryan, penggunaan bahan nabati memungkinkan produk kulit bisa diwarna kembali maupun diukir.

Aslinya, produk kulit berbahan kulit sapi akan menghasilkan warna natural yang tampak seperti merah muda. Namun menurut Ryan menuturkan bahwa kebanyakan kliennya meminta produk kulit yang dibuat itu diberi warna lain, misalnya saja cokelat maupun kuning tua.

Padahal warna natural kulit bisa berubah seiring berjalannya waktu. “Warnanya akan cenderung menggelap setelah enam bulan, tergantung kualitas kulitnya,” jelasnya.

Ryan masih belum memiliki toko untuk menjajakan produk Speakless. Seluruh pemesanan dapat dilakukan secara daring melalui Instagram @speakless.co. Meski begitu, ia mencoba berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk pemasaran produknya. Kini hasil karyanya juga dapat dijumpai di Artlinx Store Jogja.

Satu-Satunya

Dalam sebulan Ryan mengaku rata-rata dapat memperoleh sepuluh pesanan produk. Karena dibuat sepenuhnya menggunakan tangan, pemesan akan mendapatkan produk yang hanya diproduksi satu-satunya.

Jika klien menginginkan produk yang sama dengan produk sebelumnya, Ryan menjamin hal tersebut tidak akan menjadi sama persis sebab pasti ada perbedaan dalam setiap produksinya.

Produk Speakless dibanderol dengan harga Rp100.000 – Rp300.000 tergantung dengan permintaan pemesan atas model dan bahan yang digunakan.