Direktur Pemanasaran BOB : Komunikasi, Koneksi, Networking

Direktur Pemanasaran BOB : Komunikasi, Koneksi, NetworkingDirektur Pemanasaran BOB Agus Rochiyardi
04 Desember 2018 20:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bagi Agus Rochiyardi, KKN boleh dipraktikkan. Namun bukan KKN dalam artian negatif, Agus memaknai ulang dalam koridor yang postitif.

"Zaman dulu enggak boleh itu KKN. Korupsi, kolusi, nepotisme. Zaman sekarang boleh KKN. Komunikasi, koneksi, networking. Hal itu bahkan penting kita miliki," katanya saat ditemui Harian Jogja di kantornya, Senin (3/12).

Agus yang kini menjabat sebagai Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB) ini sadar betul betapa pentingnya menjalin relasi dan memperluas jaringan koneksi. Sebagai direktur pemasaran, tanggung jawabnya mengharuskan Agus memiliki koneksi yang luas. Pasalnya dalam masa penyiapan pengembangan kawasan Borobudur, pihaknya memiliki tugas otoritatif untuk mengelola zona otoritatif di Purworejo dengan luas zona 309 hektare. Zona tersebut kini masih dalam masa penyiapan dengan langkah utama pembebasan lahan. BOB harus mengganti luas lahan tersebut 1:1 sebelum memanfaatkannya sebagai penyangga pariwisata Borobudur yang kini telah overload.

Dengan kondisi Borobudur, Agus menyebut idealnya jumlah wisatawan yang berkunjung per tahun mencapai 140.000 wisatawan. Namun kini yang terjadi pengunjungnya bisa mencapai 400.000 wisatawan. Hal itu dikhawatirkan dapat berpengaruh pada daya topang candi dan kebersihan yang sering ternodai akibat ulah vandal pengunjung. Maka Kementerian Pariwisata menugaskan BOB untuk merancang sebuah destinasi wisata baru yang jaraknya hanya 12 kilometer dari Borobudur yang dimaksudkan untuk memecah konsentrasi wisatawan tersebut sekaligus meemenuhi kebutuhan wisatawan dari Borobudur.

Setelah pembebasan lahan rampung, Agus menyebut tugas BOB selanjutnya adalah membuat masterplan pengembangan kawasan tersebut hingga 2024. Namun sebelum itu, BOB memetakan potensi kawasan tersebut. Hasilnya tanah seluas 309 hektare yang kini masih dikelola oleh Perhutani itu dianggap sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai kawasan resor, hotel, dan kawasan wisata alam. Maka itulah tugas yang diemban oleh Agus kini, mencarikan investor yang berminat untuk turut serta mengembangkan kawasan tersebut.

"Susah atau tidak mencari investor? Itu tergantung kita. Maka saya tekankan koneksi, networking itu sangat penting. Saya sudah bertemu banyak pihak, mulai dari pemilik Jatim Park dan juga resor yang berminat investasi di lahan ini. Artinya tidak ada kesulitan berarti mencari investor dengan koneksi kita yang luas. Hanya saja belum bisa direalisasi karena kami masih belum menyusun masterplan, masih fokus pembebasan lahan," ujarnya.

Bekerja selama kurang lebih 30 tahun di BUMD PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Agus punya segudang pengalaman dan relasi. Pernah mengelola gelanggang samudra yang berkaitan dengan atraksi lumba-lumba, mengubah wisata air hingga menjadi Atlantis seperti saat ini, hingga menjadi konseptor pada proyek taman wisata di Kutai Kartanegara merupakan beberapa pengalamannya selama bekerja. Berhubungan dengan orang-orang penting, investor besar, hingga promotor ternama pernah ia lakoni. Bahkan pada masa pengelolaannya, Ancol pernah mendatangkan artis internasional Bon Jovi untuk manggung.

Lelaki kelahiran Jogja 57 tahun silam ini tak pernah setengah-setengah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Berbagai terobosan ia lakukan saat didapuk mengelola bagian apa saja. Meski merupakan lulusan Biologi, UGM ia tak pernah berhenti belajar. Berdekatan dengan dunia marketing saat bekerja, membuatnya memutuskan untuk mengambil studi master. Saat dipercaya memegang bagian sumber daya manusia (SDM), ia pun mengambil studi doktoral di bidang itu. Sebab Agus menyadari setiap orang punga kekurangan namun hendaknya dengan menyadari kekurangannya, individu tetap mau terus belajar dan memgembangkan dirinya. "Kala itu saya membawahi sekitar 2.000 SDM. Maka saya harus bisa menguasai bidang itu agar pekerjaan yang saya lakukan bisa maksimal," tuturnya.

Setelah puluhan tahun tinggal di Jakarta, Agus mengaku senang akhirnya kembali ke kota kelahirannya di Jogja. Meski tiga bulan pertama bertugas di sini penuh tantangan karena harus tinggal berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya, Agus malah bisa mempelajari banyak hal dari situ. Ia bisa belajar tentang standar hotel yang lantas menjadi amunisi baginya dalam bekerja di BOB saat ini. "Nantinya jika sudah rampung pembangunan kawasan yang dipercayakan pada BOB. Kami akan melakukan fungsi koordinatif dengan pengelola wisata lainnya, termasuk pemasaran dan branding," ujarnya.