Rupiah Melemah, Industri Fashion dan UMKM di Jogja Mulai Tertekan

Anisatul Umah
Anisatul Umah Jum'at, 29 Mei 2026 11:17 WIB
Rupiah Melemah, Industri Fashion dan UMKM di Jogja Mulai Tertekan

Model memeragakan karya Isa Setyawan di Jogja Fashion Week, Minggu (25/8/2024). - Harian Jogja/ist

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Meski demikian, dampaknya terhadap sektor ekspor-impor disebut belum terlalu terasa dalam jangka pendek.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, mengatakan sebagian besar perusahaan ekspor-impor skala menengah dan besar sebenarnya sudah mengamankan kontrak bisnis sejak tahun lalu. Karena itu, aktivitas produksi dan pengiriman barang saat ini masih berjalan normal.

“Bagi perusahaan ekspor impor dengan skala menengah besar, pelemahan rupiah tidak menimbulkan dampak yang signifikan,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Biaya Produksi dan Pengiriman Mulai Naik

Meski ekspor DIY relatif stabil, pelaku usaha mulai menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama untuk bahan baku lokal dan distribusi barang.

Menurut Yuna, lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta kondisi geopolitik global ikut mendorong kenaikan ongkos logistik dan pengiriman barang.

“Selain harga bahan baku, kenaikan dijumpai pada biaya pengiriman barang, mengingat perang dan kondisi global yang tidak stabil masih berlangsung,” katanya.

Kondisi ini membuat keuntungan pelaku usaha tidak otomatis meningkat meski kurs dolar AS sedang tinggi.

Eksportir Kerajinan Belum Nikmati Keuntungan Besar

Di tengah pelemahan rupiah, sektor kerajinan DIY ternyata belum sepenuhnya menikmati dampak positif. Yuna menjelaskan banyak buyer luar negeri masih menahan ekspansi pembelian karena kondisi ekonomi global belum stabil.

Akibatnya, order ekspor masih berjalan normal tetapi belum ada peningkatan signifikan.

“Pesanan tetap ada, tetapi tambahan order belum signifikan karena bisnis buyer di luar negeri juga belum pulih,” ungkapnya.

Situasi ini membuat kenaikan pendapatan ekspor masih tertutup oleh naiknya biaya produksi dan distribusi.

UMKM Fashion Jadi Sektor Paling Rentan

Disperindag DIY menilai sektor UMKM fashion menjadi industri yang paling berisiko terdampak pelemahan rupiah.

Hal ini disebabkan banyak pelaku usaha fashion masih mengandalkan bahan baku impor seperti kain, aksesori, hingga material penunjang lainnya. Ketika dolar AS menguat, biaya produksi otomatis meningkat.

Tak hanya fashion, sejumlah industri kerajinan yang menggunakan bahan baku impor juga menghadapi tekanan serupa.

“Jika pelemahan rupiah berlanjut, tentu akan berdampak lebih besar terutama bagi usaha yang tergantung bahan impor,” jelas Yuna.

Pengusaha Berbasis Bahan Lokal Justru Diuntungkan

Sementara itu, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Yogyakarta, Y. Sri Susilo, menilai dampak pelemahan rupiah kemungkinan baru terasa penuh sekitar tiga bulan ke depan karena kontrak ekspor-impor umumnya dilakukan jauh hari sebelumnya.

Menurutnya, pelemahan rupiah bisa menjadi keuntungan besar bagi eksportir yang menggunakan bahan baku lokal tetapi menjual produknya ke luar negeri.

“Produksi memakai bahan baku domestik, membeli dalam rupiah, lalu menjual dalam dolar. Ini yang akan memperoleh windfall profit besar,” katanya.

Sebaliknya, pelaku usaha yang mengimpor bahan baku tetapi menjual produknya di pasar domestik diprediksi menjadi pihak paling terpukul.

Disperindag Dorong Gunakan Produk Lokal

Menghadapi situasi tersebut, Disperindag DIY terus mendorong pelaku usaha dan masyarakat untuk memperkuat penggunaan bahan baku lokal.

Langkah ini dinilai penting agar industri di DIY tetap bertahan di tengah tekanan pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

“Sehingga perekonomian DIY tetap stabil di tengah keterpurukan rupiah,” pungkas Yuna.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online