Neraca Dagang RI Defisit US$450 Juta pada Juni, Impor Lampaui Ekspor
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
Ilustrasi perumahan/magnific.com
Harianjogja.com, JAKARTA— Generasi Z kerap disebut lebih memilih mengalokasikan penghasilan untuk gaya hidup dibandingkan menabung demi membeli rumah. Namun, anggapan tersebut dinilai terlalu menyederhanakan persoalan yang membuat generasi muda kesulitan memiliki hunian.
Colliers Indonesia menilai tantangan Gen Z untuk masuk ke pasar properti, termasuk memperoleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR), berkaitan dengan persoalan yang lebih mendasar. Dua faktor yang menjadi perhatian adalah affordability atau keterjangkauan serta bankability atau kelayakan calon pembeli di mata perbankan.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan kelesuan penjualan rumah, termasuk pada segmen rumah subsidi, tidak dapat hanya dikaitkan dengan anggapan bahwa Gen Z lebih mengutamakan gaya hidup.
Menurut Ferry, keinginan memiliki hunian pada dasarnya tetap ada ketika seseorang telah memasuki usia dewasa. Persoalannya adalah kemampuan finansial dan kelayakan kredit yang membuat akses menuju kepemilikan rumah semakin berat.
"Menurut saya sih enggak sesimpel itu, karena persoalan utama yang lebih fundamental itu adalah affordability dan bankability. Kemampuan untuk masuk ke pasar rumah ini memang semakin sulit dan semakin berat," ungkap Ferry dalam webinar, Rabu (7/10/2026).
Uang Muka dan Cicilan Jadi Tantangan
Dari sisi affordability, persoalan yang dihadapi Gen Z bukan hanya mengenai mahal atau murahnya harga rumah. Generasi muda juga harus menyiapkan dana segar untuk membayar uang muka atau down payment (DP) serta berbagai biaya transaksi yang muncul pada tahap awal pembelian.
Di sisi lain, keputusan membeli rumah juga berarti mengambil komitmen untuk membayar cicilan dalam jangka panjang. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika biaya hidup terus meningkat dan kemampuan penghasilan belum sepenuhnya mapan.
Persoalan itu semakin terasa karena sebagian konsumen dari kelompok usia muda masih berada pada tahap awal membangun karier atau entry-level. Pada fase tersebut, pendapatan mereka belum tentu tumbuh sejalan dengan peningkatan biaya hidup.
"Kalau dalam kelompok konsumen yang usia muda ini, masalahnya memang lebih terasa karena banyak yang masih berada pada tahap awal karier, sehingga pertumbuhan pendapatannya juga belum tentu sejalan dengan kenaikan biaya hidup," papar Ferry.
Dengan kondisi tersebut, membeli rumah membutuhkan penyesuaian keuangan yang cukup besar. Gen Z tidak hanya perlu memikirkan kemampuan menyediakan DP, tetapi juga memastikan cicilan tetap dapat dibayarkan secara konsisten dalam jangka panjang.
Rekam Jejak Kredit Pengaruhi KPR
Selain keterjangkauan, persoalan bankability menjadi tantangan lain bagi generasi muda. Status sebagai pekerja pemula dapat membuat kelayakan kredit mereka dinilai lebih berat oleh perbankan.
Kondisi tersebut dapat semakin rumit apabila calon pembeli memiliki rekam jejak kredit yang kurang baik. Ferry menyoroti kemungkinan keterlibatan dalam pinjaman konsumtif maupun pinjaman online atau pinjol yang dapat memengaruhi peluang seseorang memperoleh KPR.
"Mungkin persoalan bankability-nya atau kelayakan nilainya itu menjadi lebih berat. Karena mungkin ada rekam jejak kredit dari pinjaman konsumtif, atau mungkin mereka ada terlibat pinjol [pinjaman online], sehingga itu mempengaruhi mereka untuk memperoleh KPR," tegasnya.
Artinya, persoalan akses KPR bagi Gen Z tidak hanya ditentukan oleh keinginan untuk membeli rumah. Kemampuan memenuhi persyaratan pembiayaan serta kondisi rekam jejak kredit juga menjadi bagian penting yang diperhitungkan.
Menongkrong dan Traveling Bukan Berarti Tak Ingin Punya Rumah
Ferry juga menanggapi fenomena generasi muda yang terlihat lebih banyak mengalokasikan uang untuk nongkrong, traveling, atau mencari pengalaman atau experience. Menurut dia, pilihan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Gen Z tidak tertarik memiliki rumah.
Perilaku tersebut lebih tepat dilihat sebagai bentuk penyesuaian prioritas. Kepemilikan rumah membutuhkan komitmen finansial yang lebih besar karena konsekuensinya berlangsung dalam jangka panjang.
"Beli rumah itu butuh komitmen finansial yang jauh lebih besar dan ini jangka panjang. Jadi memang mereka harus punya penyesuaian prioritas," tutur Ferry.
Dengan demikian, fenomena sulitnya Gen Z menembus KPR tidak cukup dijelaskan dengan anggapan bahwa generasi tersebut lebih mementingkan gaya hidup. Faktor keterjangkauan harga dan biaya awal pembelian, kemampuan membayar cicilan, tahap karier, hingga kelayakan kredit menjadi persoalan yang turut menentukan akses mereka terhadap kepemilikan rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
Para chef mengeksplorasi kuliner Jawa Tengah dan Jawa Timur, dari sate srepeh hingga tahu telur, untuk menghidupkan kembali makanan lokal.
Daftar 10 negara penghasil emas terbesar dunia 2026 berdasarkan data USGS. Simak posisi Indonesia dan jumlah cadangan emasnya.
Benang Jarum meluncurkan Denim Tales pada 30 September 2026 dengan ragam siluet, monogram, paisley, serta pilihan material dan warna.
Empat shio dipandang punya prospek keberuntungan menarik pada 2027, Tahun Kambing Api. Simak daftar shio dan peruntungannya.
Colliers Indonesia menilai Gen Z sulit menembus KPR bukan sekadar karena gaya hidup, tetapi terkendala affordability dan bankability.