Advertisement

Dirut PT Primissima: Membangkitkan Kembali Kejayaan Primissima

Rheisnayu Cyntara
Selasa, 27 November 2018 - 11:30 WIB
Mediani Dyah Natalia
Dirut PT Primissima: Membangkitkan Kembali Kejayaan Primissima Dirut PT Primissima, Usmansyah - Ist

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—2016 Saat Usmansyah diberi kepercayaan untuk mengelola PT Primissima, BUMN yang memproduksi tekstil halus, kondisi perusahaan tengah tidak menguntungkan. Namun berbagai langkah ia ambil demi membangkitkan kembali kejayaan perusahaan yang telah ada sejak zaman Belanda ini.

Kesan ramah dan hangat akan sangat mudah ditangkap saat bertemu Usmansyah. Pembawaannya yang penuh semangat menular kepada orang-orang di sekitarnya. Tak sebatas pada pembawaan, semangat itu pun ia terapkan dalam mengelola PT Primissima, produsen tekstil halus yang didirikan pada 1971. Pasalnya kondisi Primissima sebelum ia dipercaya bertanggung jawab sebagai Direktur Utama pada 2016, ekuitas atau hak pemilik atas aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih (jumlah aktiva dikurangi kewajiban) defisit hingga Rp17 miliar. Belum lagi akumulasi rugi dan utang pajak yang jumlahnya mencapai puluhan miliar. Kondisi ini menuntut Usman untuk menerapkan strategi yang tepat dan optimisme agar perusahaan tetap berjalan.

“Pemangku kebijakan sudah tepat membaca sebab kemunduran perusahaan yaitu miss management. Maka diambil langkah penggantian direksi dengan harapan direksi yang baru punya visi dan misi yang lebiih baik. Maka saya pun harus membuktikannya,” ujarnya kepada Harian Jogja saat ditemui pekan lalu.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Setelah mempelajari kondisi perusahaan, Usman pun menyimpulkan macetnya roda produksi Primissima disebabkan hampir tidak adanya modal kerja. Modal kerja hanya mengandalkan SKBDN dari perbankan yang terbatas dan pinjaman-pinjaman dari pihak swasta dengan bunga di atas bunga bank. Walhasil, produksi tidak maksimal karena pasokan bahan baku sangat minim, bahkan kala itu Primissima tak memiliki benang sendiri untuk memproduksi kain. Mesin-mesin pun banyak yang menganggur, tidak mampu bekerja dengan optimal.

Guna mengatasi kendala paling pokok tersebut, Usman mengusahakan pinjaman dari berbagai pihak, terutama mengandalkan sinergi BUMN agar memiliki modal kerja untuk produksi. Bahkan menurutnya, PT Jamkrindo juga turut andil dengan memberikan penjaminan atas pemberian modal kerja dan modal investasi yang didapatkan Primissima dari beberapa BUMN lainnya. Modal kerja sudah dalam genggaman, kendala lainnya pun mulai disadari oleh Usman. Efisiensi ratusan mesin lama Primissima yang telah ada sejak zaman Belanda masih rendah. Akibatnya produksi tak bisa berjalan dengan maksimal karena produksi mesin yang lambat. “Modal kerja, benang sekarang ada tetapi masalahnya mesin belum bisa ngebut,” tuturnya.

Impor Mesin

Maka pada 2018 ini, Usman memutuskan untuk membeli empat mesin weaving merek Tsudakoma Jepang dan empat mesin Itema Italia. Menurutnya, delapan mesin ini mampu menghasilkan produk setara dengan 102 mesin yang sekarang ada sehingga ada peningkatan efisiensi produksi yang luar biasa tinggi.

Kini dalam sebulan, Primissima dapat menghasilkan kain sebanyak 1,6 juta meter. Tak berhenti sampai di situ, Usman menyebut capaian itu dihasilkan dari efisiensi yang baru mencapai 65%. Ia menargetkan jika efisiensi dapat digenjot hingga 95%, dalam sebulan Primissima dapat menghasilkan hingga tiga juta meter kain. Maka pada 2019, ia sudah bersiap untuk membeli 20 mesin baru dan 20 sparepart tuck in yang digunakan untuk menghasilkan dua lembar kain dalam sekali produksi.

“Harapan saya pada 2021 nanti, Primissima sudah memiliki 66 mesin baru yang kapasitasnya setara dengan 420 mesin yang ada sekarang sehingga mesin lama bisa diistirahatkan,” ujarnya.

Advertisement

Terganjal SDM

Kendala tak berhenti pada urusan fisik mesin, minimnya sumber daya manusia (SDM) juga jadi perhatian Usman selanjutnya. Ia mengakui tidak banyak universitas yang memiliki jurusan tekstil, kecuali ITT Bandung. Sedangkan di Jogja, hanya UII yang memiliki jurusan Kimia Tekstil. Para sarjana tekstil juga cenderung kurang berminat untuk bekerja di Primissima, dengan standar upah yang berlaku saat ini. Padahal tidak ada rekrutmen yang dilakukan Primissima hampir selama 15 tahun terakhir, sehingga gap antargenerasi pekerja pun sangat tinggi.

Kendati menghadapi kendala yang seakan bertubi-tubi, Usman tetap mengaku optimis. Apalagi melihat kondisi pabrik yang kini sudah mulai hidup. Mesin-mesin sudah berkerja setiap hari, stok barang siap jual terus ada dan tak pernah lama di gudang karena telah dipesan oleh para pelanggan yang mayoritas merupakan pengusaha batik yang berorientasi ekspor. Sebab Usman tak memungkiri kualitas kain yang diproduksi oleh Primissima memang diperuntukkan bagi produksi batik halus. “Kami memiliki empat produk kain utama, yaitu kain primis dengan nama Voilissima, Kereta Kencana, Gamelan Serimpi dan Berkolissima,” ujarnya.

Advertisement

Di sisi lain, langkah inovasi pun juga terus diterapkan dengan diversifikasi produk. Primissima kini tak hanya memproduksi kain mentah tetapi juga mulai merambah produksi kain batik dan non batik. Itu semua dilakukan untuk menstabilkan cashflow perusahaan yang kini sudah makin membaik. Meski Usman menyebut cashflow Primissima kini masih belum sehat tetapi setidaknya ia sudah memiliki modal untuk membuatnya sehat kembali. Jalan untuk menuju kejayaan Primissima sudah terlihat. Hanya perlu konsistensi dan perbaikan terus menerus agar tetap berjalan on the right track. “Apa saja akan saya lakukan untuk membuat perusahaan ini kembali jaya. Dalam waktu lima tahun pertama ini, setidaknya saya ingin meremajakan semua mesin yang dimiliki Primissima agar bisa mencapai efisiensi yang tinggi dan menghasilkan laba yang juga tinggi,” katanya dengan optimistis.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pengunjung FKY Tembus 39.000 Orang

Jogja
| Minggu, 25 September 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement