Pangkuan Sedayu Dipilih Jadi Lokasi Glamping Pertama

Pangkuan Sedayu Dipilih Jadi Lokasi Glamping PertamaTim Survei Lokasi Glamorous Camping (Glamping) yang terdiri dari staf Badan Otorita Borobudur (BOB), staf Perhutani dan investor sedang membuat sketsa glamping di Kawasan Sub Petak 99P, Desa Sedayu Kecamatan Loanu Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (2/1). - Ist./BOB
03 Januari 2019 21:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Setelah menyurvei dengan cermat, Badan Otorita Borobudur (BOB) akhirnya memilih Pangkuan Sedayu sebagai lokasi glamorous camping (glamping) pertama yang ditargetkan akan dibuka pada pertengahan Februari mendatang. Lokasi ini dianggap strategis untuk pengembangan objek wisata baru berkonsep culture and adventure eco-tourism.

Direktur Destinasi BOB, Agustin Paranginangin, mengatakan setelah rapat bersama akhirnya diputuskan BOB memilih lokasi di Blok P yang terletak di sisi timur laut berbatasan dengan wilayah Pagerharjo, tepatnya di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Lokasi ini lantas disebut dengan Pangkuan Sedayu. Pemilihan Pangkuan Sedayu ini, menurutnya, terkait dengan tahapan dan pengembangan kawasan yang selaras antara Purworejo dan Kulonprogo serta Magelang.

"Karena titik ini merupakan pertemuan dari batas-batas ketiga Kabupaten tersebut," kata pria yang karib disapa Angin itu kepada Harian Jogja, Kamis (3/1/2018).

Angin mengakui sebenarnya kedua lokasi yang telah disurvei telah mempertimbangkan upaya untuk menekan kerusakan lingkungan dalam pembangunan glamping. Terutama dengan metode pemilihan teknologi dan material yang ramah lingkungan.

Direktur Pemasaran Pariwisata BOB Agus Rochiyardi menambahkan, dengan konsep culture and adventure eco-tourism, destinasi anyar ini akan memiliki tiga komponen yaitu nature, physical activity dan cultural exchange.

Oleh karenanya, isu lingkungan menjadi penting diperhatikan. Sebab konsep ini bertumpu pada daya tarik budaya dan alam, serta interaksi yang harmonis antara wisatawan dengan alam.

Pertimbangan pemilihan lokasi glamping, kata dia, tak bisa dilepaskan dari konsep tersebut, yaitu lokasi cukup datar dan tidak berbukit-bukit terjal karena berkaitan dengan keamanan para wisatawan. Jarak antarpohon antara tiga-empat meter sehingga tidak banyak pohon yang akan ditebang, dan jarak antara lokasi glamping dengan aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan tidak terlalu jauh. Aktivitas tersebut, menurut Agus, merupakan aktivitas yang dilakukan wisatawan bersama dengan masyarakat setempat.

"Maka kami saat ini sudah membina masyarakat tujuh desa di sekitar lokasi glamping. Mereka dipersiapkan untuk menyambut para wisatawan ini dengan aktivitas. Kami juga menyiapkan aktivitas buatan bagi wisatawan seperti beternak lebah. Jadi mereka nanti akan belajar bagaimana memanen madu. Namun ini nanti untuk jangka panjang," katanya.

Penyiapan SDM dari masyarakat sekitar tersebut, menurut Agus, penting dilakukan karena pariwisata sejatinya bertujuan meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat. Selain itu, pariwisata yang berbasis alam dan budaya juga diharapkan dapat memunculkan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini ada di masyarakat dan menciptakan konsep yang sustainable.

Setelah penentuan lokasi rampung maka glamping segera dibangun dan ditargetkan dapat selesai pada pertengahan Februari 2019.