24.000 Nasabah KUR Berhasil Naik Kelas

24.000 Nasabah KUR Berhasil Naik KelasKepala Kantor BRI Wilayah Jogja, Hendro Padmono menyampaikan keberhasilan BRI 2018 saat bertemu dengan awak media di Kantor BRI WIlayah Yogyakarta, Jl. Cik DI Tiro, Jogja, Selasa (8/1). Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk mencatatkan perolehan yang baik selama 2018. Salah satunya dalam pengentasan nasabah kredit usaha rakyat (KUR). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
10 Januari 2019 08:31 WIB Bernadheta Dian Saraswati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk mencatatkan perolehan yang baik selama 2018. Salah satunya dalam pengentasan nasabah kredit usaha rakyat (KUR).

Kepala Kantor BRI Wilayah Jogja Hendro Padmono menyampaikan indikator keberhasilan BRI 2018 terlihat dari jumlah nasabah yang mulai naik kelas. Seperti halnya nasabah KUR yang banyak beralih ke kredit selevel di atasnya yaitu kredit komersial. “Kami sudah mengentaskan debitur KUR menjadi komersial sekitar 24.000 debitur,” katanya saat menggelar bincang santai dengan awak media di lobi Kantor BRI Cik Ditiro, Selasa (7/1) petang.

Selain itu, debitur mikro yang naik ke kelas ritel ada sekitar 2.500 dan debitur program khusus yang diberi pinjaman lebih dari Rp500 juta ada sekitar 300 pengusaha.

Hendro menjelaskan pemetaan kredit di BRI paling rendah adalah kredit kemitraan yaitu dengan plafon maksimal Rp5 juta. Di atasnya ada KUR yang diberikan kepada nasabah yang sudah visibel tetapi belum bankabel. Plafon KUR maksimal Rp25 juta.

Di atas KUR ada kredit mikro mulai Rp25 juta-Rp250 juta. Di atasnya lagi ada kredit ritel komersial dengan plafon sampai Rp25 miliar. Selanjutnya kredit menengah sampai 200 miliar dan terakhir ada kredit korporate di atas Rp200 miliar.

BRI tidak hanya bertugas menyalurkan dana untuk UMKM tetapi bank milik negara ini juga turut andil mengembangkan kapasitas UMKM. Saat ini, sebanyak 44.000 UMKM tergabung di Rumah Kreatif BUMN di Sagan Jogja. Di situ, mereka mendapatkan pelatihan manajemen, pemasaran, keuangan, sampai pengemasan. Pelatihan yang diberikan bertujuan membuat pelaku UMKM naik kelas.

Dengan perkembangan UMKM, maka serapan dana ke bank untuk memacu ekspansi bisnis pelaku usaha sangat dibutuhkan. Kondisi ini membuat tingkat kredit di BRI tumbuh 18%. Angka tersebut masih belum final tetapi indikator pertumbuhan BRI sudah dapat termonitor. “Pinjaman di BRI bisa tumbuh karena core business kami ada di UMKM,” tutur Hendro.

Menurutnya, UMKM adalah penopang kondisi ekonomi Indonesia yang sangat stabil dan tidak terpengaruh terhadap kondisi ekonomi dunia. “Kalaupun krisis, pasti kita butuh makan kan? Nah BRI membiayai usaha-usaha yang pokok seperti itu,” katanya.

Pada 2019 ini, BRI menargetkan pertumbuhan simpanan seperti deposito mencapai 15%, pertumbuhan pinjaman 17%, Casa (giro dan tabungan) 76%, dan loan to deposit ratio (LDR) 89%