Tampil Modern Minimalis dengan Aksesori Kayu ala Alive Jewelry

Tampil Modern Minimalis dengan Aksesori Kayu ala Alive JewelryPemilik Alive Jewelry Camilla Okdriana Dewi - Ist./Camilla Okdriana Dewi
12 Januari 2019 13:30 WIB Bernadheta Dian Saraswati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbicara aksesori perempuan, tidak harus berbahan emas dan memiliki harga mahal. Dengan aksesori dari limbah, perempuan pun tetap bisa tampil anggun dan menawan. Bagaimana ceritanya memulai bisnis ini?

Camilla Okdriana Dewi adalah perempuan muda yang memiliki ide gemilang menciptakan aksesori dari limbah kayu. Awalnya, perempuan 24 tahun yang memiliki basik desain produk ini pernah menjalani praktik lapangan di salah satu perajin kacamata kayu di daerah Ring Road Selatan Jogja. Di situ ia menemukan potongan kayu yang sudah tidak terpakai dan terbuang begitu saja.

Kayu-kayu itu masih memiliki kualitas yang bagus. Di antaranya ada kayu jati, nangka, mahoni, dan kayu sonokeling yang notabene merupakan jenis kayu keras. "Karena saya suka bikin aksesori makanya limbah kayu itu iseng saya buat menjadi aksesori buat saya pakai sendiri," katanya, Jumat (11/1).

Milla mengawali usahanya pada 2015 dan menamai produknya dengan Alive Jewelry. Namun pada saat itu ia tidak terlalu serius menekuni kegiatan itu karena masih terpecah dengan kegiatannya yang lain.

Ia membuat pola atau gambar pada kayu dan memotongnya sendiri dengan gergaji. Barulah pada Juli 2018, seiring dengan banyaknya permintaan, Milla mulai menekuni bisnis kreatifnya. Ia mulai memproduksi dengan alat cutting laser agar semakin cepat dan mendapatkan potongan yang rapi. 

Perempuan asli Magelang, Jawa Tengah ini mengangkat tema modern minimalis. Kendati berbahan dasar kayu, tetapi kesan etnik yang terpancar dapat dikemas dalam sentuhan yang modern yaitu dengan menambah aksen gantungan dari bahan logam berkualitas tinggi.

Logam didatangkan dari Kotagede sehingga Alive Jewelry turut andil menggerakkan perajin logam di daerah tersebut. Kendati banyak menggunakan bentuk geometris seperti segitiga, kotak, dan bulat tetapi ia juga memadukan dengan motif batik dan motif alam seperti daun.

Aksesoris Alive pun menjadi cocok saat digunakan perempuan berpenampilan nyentrik. Biasanya, aksesori seperti itu banyak disukai perempuan bule. "Makanya saya titip di store yang banyak orang asingnya. Kalau di store biasa pasti kurang diminati," katanya.

Harga aksesori Alive Jewelry dibanderol mulai Rp45.000-150.000. Milla menjelaskan kehadiran Alive di pasaran sekaligus ingin mengedukasi masyarakat bahwa limbah kayu yang awalnya terbuang sia-sia bisa diolah, diproses dengan cermat, dan menghasilkan produk bernilai jual tinggi. "Dari produk ini kita bisa tahu kenapa kami harus bayar mahal. Kami harus lihat bagaimana proses di dalamnya," ujar Milla.

Milla memproduksi aksesori kayu itu di rumah produksinya di Sembuh Lor, Godean Sleman. Setiap bulan bisa memproduksi 50-75 aksesori mulai dari kalung, anting, dan gelang. Ia juga memasarkan tidak hanya offline dengan menitipkan produknya di toko aksesori seperti di Genetika Pop-up Space yang ada di Hotel Greenhost Prawirotaman dan Mirota Batik tetapi juga melalui online via Instagram dan market place. Ia berharap tahun ini bisa mengembangkan desain baru setiap bulan.