Advertisement
Low Season Diprediksi Pulih Lebih Cepat
Pesawat Garuda Indonesia mempersiapkan keberangkatan di apron Termial 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten Selasa (13/2/2018). (Bisnis - Felix Jody Kinarwan)).
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Maskapai Garuda Indonesia mengaku pemulihan low season awal 2019 pulih lebih awal khususnya untuk penerbangan dari Yogyakarta.
General Manager Garuda Indonesia Branch Office Yogyakarta Flora Izza mengatakan Garuda Indonesia sempat mengalami low season pada awal Januari. Tingkat keterisian (load factor) ketika low season sekitar 72% hingga 74%.
Advertisement
"Itu berlangsung sekitar 10 hari. Sekarang sudah pulih," ujar dia ketika ditemui di Gapura Angkasa, Sleman, Rabu (23/1).
Flora mengungkapkan masa pemulihan ini tergolong cepat. Umumya, pemulihan dari low season terjadi pada Februari. "Jadi, Garuda lebih awal. Sekarang [load factor] sudah 78 persen hingga 80 persen," jelas dia.
BACA JUGA
Meskipun santer diberitakan harga tiket pesawat yang mahal, menurutnya daya beli masyarakat Yogyakarta masih ada. Hal ini terlihat dari stabilnya penjualan tiket meskipun sempat memasuki low season.
Meski demikian, Garuda juga sudah mulai menawarkan berbagai promo harga kepada konsumen. Harga promo pun sudah dibuka dengan rentang harga yang lebar yakni dari Rp385.000 hingga Rp1,1 juta.
"Kebetulan Jogja-Jakarta ada 11 kali penerbangan, jadi di jam-jam tertentu ada jam-jam promo dan mengikuti supplay-demand. Alhamdulillah 2019 masa off season cuma pendek," papar dia.
Ia berharap pertumbuhan bisnis 2019 semakin baik. Ia berharap Garuda Indonesia Group semakin kuat, apalagi Sriwijaya telah bergabung. "Kalau untuk Garuda sendiri pertumbuhannya sekitar 10 persen dari 2017 sampai 2018," kata dia.
Tiket Mahal
Soal tiket mahal dan penghapusan bagasi gratis oleh maskapai penerbangan dinilai sangat mengkhawatirkan dunia pariwisata termasuk DIY. Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia DIY Udhi Sudiyanto mengatakan karena kedua hal itu, wisatawan akan berpikir ulang untuk bepergian termasuk ke DIY. Pasalnya biaya perjalanan akan menjadi lebih mahal, khususnya bagi wisatawan dari luar Jawa.
"Ketika mereka datang ke Jogja [DIY] selama tiga hari, dua malam, mereka pasti akan membawa bagasi untuk keperluan mereka sendiri. Akan tetapi, dengan mereka harus membayar bagasi tersebut, tentu akan memberatkan mereka. Sudah tiket mahal, masih harus bayar extra luggage, semakin tidak terjangkau bagi masyarakat," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Wisatawan Nekat Terobos TPR Parangtritis demi Hindari Tiket Masuk
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
- Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan, Nilai Buyback Justru Merosot
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
Advertisement
Advertisement







