Pegawai Milenial Pemerintahan dan Swasta Jadi Bidikan KPR Perbankan

Pegawai Milenial Pemerintahan dan Swasta Jadi Bidikan KPR PerbankanIlustrasi perumahan. - JIBI
26 Januari 2019 10:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kesadaran perbankan akan pasar properti untuk segmen konsumen milenial yang masih sangat besar di Jogja, membuat bank BPD DIY menerapkan mekanisme yang lebih fleksibel terhadap segmen ini. Para pegawai milenial pemerintah daerah dan swasta jadi bidikan, di samping menggaet para generasi muda yang bekerja secara freelance.

Bonus demografi yang tengah terjadi saat ini hingga beberapa tahun mendatang membuat pihak perbankan dan stakeholder terkait dituntut untuk dapat merancang sebuah sistem kredit pemilikan rumah (KPR) khusus untuk segmen ini. Pasalnya generasi milenial biasanya baru mempunyai pekerjaan pertama saat akan membeli rumah sehingga kemampuan finansialnya belum stabil dan kuat. Mereka biasanya belum mempunyai tabungan yang cukup untuk membayar uang muka. Oleh sebab itu butuh mekanisme khusus yang mampu memberikan kemudahan bagi para milenial.

Dirut BPD DIY, Santoso Rohmad menyadari segmen milenial memang akan makin besar dari tahun ke tahun. Apalagi bagi BPD DIY, milenial dimaknai sebagai generasi muda yang telah memiliki pekerjaan, baik tetap maupun freelance, sehingga mereka termasuk nasabah yang bankable. Jika dilihat dalam lingkup Jogja, generasi muda semacam ini menurutnya semakin banyak. Baik mereka yang bekerja di kantor pemerintahan daerah, perusahaan swasta, ataupun yang bekerja lepas (freelance). "Milenial kan tidak hanya kerja online dengan gaji yang berbeda tiap bulan. Pekerja tetap di pemda dan swasta yang generasi milenial juga sudah banyak sekali sekarang. Mereka juga sudah mulai sadar untuk punya rumah di usia muda, ambil KPR. Mereka lah yang jadi bidikan kami," katanya kepada Harian Jogja, Jumat (25/1).

Namun, Santoso mengakui produk KPR di BPD DIY belum ada yang khusus ditujukan untuk segmen milenial. Pada dasarnya produk KPR milik BPD DIY terbagi menjadi dua jenis yakni tanpa uang muka (DP) dan dengan uang muka. Dua jenis produk KPR tersebut diperuntukkan bagi semua segmen, tidak dikhususkan untuk segmen tertentu. Namun dalam pelaksanaannya, Santoso menyebut dua produk KPR umum tersebut bisa dirancang khusus bagi para generasi milenial. Sebab pihaknya memahami pekerjaan milenial kini beragam, banyak yang bekerja dengan sistem online dengan sistem gaji yang berbeda. "Misalnya bulan ini dapat project banyak ya uangnya banyak tetapi bulan depan sepi, kami memahami itu," katanya.

Karena itu meski menggunakan produk KPR umum, Santoso menuturkan khusus untuk milenial ada aturan khusus yang diterapkan. Artinya saat pengajuan KPR pertama kali, ada kesepakatan tertulis yang diatur bersama berupa sistem cicilan hingga pelunasan. Sebab menurut Santoso generasi milenial punya kecenderungan tak mau terbelit cicilan dalam waktu yang lama sehingga saat mereka punya cukup dana untuk melunasinya, mereka bisa langsung membayar tanpa disulitkan dengan aturan umum yang ada.

Selain itu ada kesepakatan untuk selalu menyisihkan dana sebesar cicilan sebulan untuk berjaga-jaga jika memang tidak dapat membayar dengan rutin. Hal itu untuk menyesuaikan dengan sistem gaji milenial yang juga tak menentu besarannya tiap bulan. Sehingga baik pihak bank maupun nasabah akan sama-sama mendapatkan keuntungan dari transaksi ini.

"Milenial saya rasa akan sangat berhati-hati untuk dapat mendapat rapor baik dari perbankan karena ini kan rumah pertama, mereka butuh rumah ini. Beda dengan mereka yang sudah berumur, biasanya beli rumah untuk spekulasi, investasi. Selain itu KPR ini bisa menjadi portofolio kredit mereka. Jika mereka mangkir maka mereka akan rugi sendiri karena akan terkena blacklist dari perbankan. Maka lebih baik ada saving. Kalau sampai lebih dari 90 hari [tidak membayar cicilan] itu tentu akan kami ambil tindakan," ucapnya.