DIY Miliki Potensi Wisata Halal Karena Ini

DIY Miliki Potensi Wisata Halal Karena IniIlustrasi halal. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
15 April 2019 07:47 WIB Herlambang Jati Kusumo & Eka Chandra Septarini Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—DIY dinilai memiliki potensi yang bagus untuk dikembangkan dalam berbagai jenis wisata, mulai dari wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam,  termasuk wisata halal. 

“DIY memiliki potensi itu. Meskipun kita tidak mengklaim diri kita sebagai destinasi halal, akan tetapi dengan lebih dari 90 persen penduduk muslim,  amenitas yang ada di DIY kebanyakan halal.  Kalau tidak halal, mereka selayaknya memberi tahu bahwa itu tidak halal,” ucap Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), DIY, Udhi Sudiyanto, Sabtu (13/4).

Dengan adanya potensi tersebut ia mengatakan tinggal bagaimana memetakan kawasan agar semua bisa terjamin dengan yang diberikan. Dikatakannya halal dalam pariwisata bukan hanya berarti halal secara syariah saja, akan tetapi kita lebih mengedepankan adanya higienitas sebuah produk. Halal itu bersih, halal itu sehat. Jadi jika menerapkan apa yang dimaksud dengan halal dalam pariwisata artinya adalah kebersihan dari sebuah destinasi harus dijaga.

Namun juga harus memberikan fasilitas beribadah seperti masjid atau musala serta pemisahan kamar mandi dan tempat wudlunya. Fasilitas ini selayaknya dimulai ketika mereka sampai di DIY baik di airport maupun stasiun atau tempat lain. Juga untuk hotel ada arah kiblat.

“Perlu disadari bahwa wisata halal bukan hanya untuk muslim, akan tetapi untuk semua. Dengan perpatokan bahwa halal itu sehat, bersih dan higienis. Tentu bagi muslim makanan yang tersaji harus halal. Artinya makan halal di DIY sangat mudah didapat bahkan di setiap sudut wilayah, makanan halal,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya sendiri Indonesia ditetapkan sebagai destinasi wisata halal atau halal tourism terbaik dunia 2019 oleh standar Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019. Wilayah Tanah Air mengungguli 130 destinasi dari seluruh dunia.

Lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent menempatkan Indonesia pada peringkat pertama standar GMTI dengan skor 78 bersama dengan Malaysia yang sama-sama berada di ranking teratas.

Sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia, Indonesia tercatat mengalami peningkatan secara berjenjang dari ranking enam di 2015, ranking empat di 2016, ranking tiga di 2017, ranking dua di 2018, akhirnya menduduki peringkat satu GMTI pada 2019. 

Lombok Destinasi Terbaik

Nusa Tenggara Barat (NTb) kembali terpilih menjadi destinasi wisata halal terbaik di Indonesia mengungguli 10 destinasi lainnya di tanah air. Muslim Travel Index (IMTI) 2019 dalam laporannya menyebutkan 10 destinasi wisata halal unggulan Indonesia yaitu Lombok, Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Jakarta, Sumatra Barat, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur (Malang) dan sekitarnya, serta Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Rata-rata nilai yang didapat daerah lain sebesar 55 dan Lombok unggul dengan nilai 70. “Hasil IMTI 2019 menunjukkan terjadinya peningkatan skor di 10 destinasi wisata unggulan Indonesia,” ujar Fazal Bahardeen CEO Crescent Rating dan HalalTrip, pekan lalu.

IMTI 2019 mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI) yang mengadopsi empat kriteria meliputi access, communication, environment dan services (ACES).

Masing-masing kriteria terdiri dari tiga komponen untuk Access terdiri dari persyaratan visa requirements, konektivitas udara, infrastruktur transportasi dan komunikasi. Untuk kriteria environment terdiri dari standar keamanan dan juga budaya, kedatangan pengunjung dan juga cuaca serta iklim.

 

Untuk komponen services terdiri dari kebutuhan dasar seperti ketersediaan makanan halal dan tempat ibadah, layanan hotel dan bandara serta pengalaman unik yang bisa dirasakan. 

Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan Indonesia sebagai pemain global halal tourism harus menggunakan standar global yang untuk wisata halal mengacu pada GMTI. Kunjungan wisatawan mancanegara dari halal tourism tahun ini ditargetkan mencapai lima juta wisman atau 25% dari target 20 juta wisman.

Pengarah Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan mengatakan Kementerian Pariwisata menggandeng Mastercard dan CrescentRating untuk membuat standar penilaian kinerja wisata halal Indonesia atau Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) dengan mengacu pada standar global GMTI dimulai pada 2015.

“Pembentukan IMTI dimulai pada 2018, sedangkan IMTI 2019 ini merupakan tahun kedua dalam menerapkan standar global GMTI untuk menilai kinerja destinasi pariwisata halal unggulan di Indonesia,” ujar Riyanto.