Pedagang LPG Keliling Bikin Resah

Pedagang LPG Keliling Bikin ResahIlustrasi elpiji 3 Kg. - SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu
22 Mei 2019 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pangkalan LPG di Imogiri, Bantul mempertanyakan adanya pedagang keliling LPG yang diduga agen LPG bekerja sama dengan broker.

Pemilik pangkalan LPG di Imogiri, Bantul, Anang Zainuddin mempertanyakan status dari pedagang keliling yang biasanya menggunakan mobil pikap pribadi. Berdasar aturan yang ada seharusnya alur yang ada dari SPPBE ke agen dan dari agen ke pengkalan, baru ke konsumen.

“Harusnya kan dari agen ke pangkalan, nanti pangkalan ke rumah tangga. Kalau agen ngecer langsung kan untung banyak banget,” ucap Anang kepada Harian Jogja, Senin (20/5).

Ia berharap Pertamina agar menertibkan oknum pedagang gas keliling. “Masalahnya kalau ada laporan ada yang jual gas dengan harga tinggi yang ditegur dan dikenai sanksi pangkalan, bukan mereka. Padahal mereka juga biasanya jual diwilayah sekitar pangkalan,” katanya.

Menurut Anang, masyarakat juga dapat dirugikan dengan adanya aksi tersebut. Sebab pedagang keliling tersebut biasanya masuk ke warung-warung dengan harga Rp17.000-Rp18.000 kemudian diecer oleh warung menjadi Rp20.000. “Kalau pangkalan standar HET (harga eceran tertinggi) Rp15.500, tetapi meski harga lebih mahal dari pangkalan tetapi ya tetap dibeli karena masyarakat butuh,” ujarnya.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIY, Siswanto menilai dugaan mengenai pedagang keliling LPGg yang dilakukan agen perlu dipastikan kembali.

“Perlu dipastikan kembali apa benar agen atau pangkalan yang besar. Kalau memang agen, itu tidak diperbolehkan menjual langsung gitu aturannya. Akan ada teguran kalau memang benar agen,” ucap Siswanto. 

Stok LPG

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yanto Aprianto mengatakan untuk kebutuhan selama Ramadan memang mengalami peningkatan. Terlebih Jogja menjadi tempat mudik banyak perantau.

“Sekarang kan sahur mereka masak pakai gas jadi otomatis bertambah. Namun untuk stok masih mencukupi. Kalau memang kurang ada tambahan kuota sekitar 10% dari kuota bulanan. Untuk setahun kan sekitar 12 juta tabung,” ucapnya.

Yanto juga mengimbau kepada masyarakat ataupun pelaku usaha besar, jika memang mampu tidak menggunakan gas bersubsidi, karena bukan peruntukannya. Selain itu untuk mengantisipasi adanya harga yang tinggi dan kurangnya stok, ada Satgas yang bertugas mengawasi hal itu.