Tangkap Peluang dalam Perang Dagang, Apa Saja?

Tangkap Peluang dalam Perang Dagang, Apa Saja?Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti ketika menjadi keynote speaker dalam seminar Dinamika Perekonomian Indonesia di Tengah Perang Dagang di Yogyakarta Marriot Hotel, Sleman, Senin (26/8)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
27 Agustus 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih memanas dan berpengaruh pada perekonomian dunia. Hal ini justru membawa peluang tersendiri yang bisa ditangkap oleh pelaku ekonomi DIY karena ada kekosongan pasar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengungkapkan dari hasil liaison dan assessment yang dilakukan oleh BI DIY, ternyata untuk beberapa bidang usaha, seperti kerajinan rotan justru berdampak positif. "Hal ini terlihat dari meningkatnya volume ekspor sampai 15 persen," kata dia kepada Harian Jogja di sela-sela seminar Dinamika Perekonomian Indonesia di Tengah Perang Dagang di Yogyakarta Marriot Hotel, Sleman, Senin (26/8).

Dampak positif juga terlihat di industri garmen, juga terjadi peningkatan ekspor. Menurutnya, dalam kondisi perang dagang maka pelaku usaha seharusnya lebih jeli untuk memanfaatkan peluang pasar yang kosong.

"Memang ada kekhawatiran-kekhawatiran. Tetapi, justru ada peluang yang terbuka untuk pengusaha kita. Nah, potensi inilah yang belum dimanfaatkan dengan maksimal. Kita harus jeli melihat kesempatan untuk mengisi pasar yang kosong akibat ketegangan Tiongkok dan Amerika Serikat," kata dia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan BI melihat perang dagang akan berjalan cukup lama. Saat ini fase pertama adalah pengenaan tarif dari 10% menjadi 25% untuk sejumlah komoditas dari Tiongkok senilai US$240 miliar [Rp3.417 triliun]dan fase kedua mestinya terjadi September berupa pengenaan US$300 miliar [Rp4.272 triliun] lainnya dari produk Tiongkok ke Amerika Sebesar 10%.

Ia menyebutkan dampak di Indonesia dirasakan pada Agustus. Pada pasar modal Indonesia terjadi capital outflow. "Padahal Januari-Juli capital inflow besar sekali. Itu semua akan masuk ke ekonomi domestik. Ekspor akan terganggu," kata dia.

Ia mengaku Indonesia masih bersyukur karena pertumbuhan ekonomi masih bagus yakni 5,05% di kuartal kedua 2019. Pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi masyarakat yang masih tinggi karena memang sampai kuartal dua, pemerintah masih mendorong program sosial dan ditambah ada momen Idulfitri sehingga konsumsi tinggi.

"Investasi walau tumbuh lima persen, yang kuat masih bangunan. Yang kurang adalah yang nonbangunan. Ini yang nonbangunan ini apa, perlu kajian lagi. Ekspor juga akan ada tantangan dan ekspor kita masih terkontraksi," kata dia.

BI memiliki fungsi untuk menjaga stabilitas rupiah, apakah itu inflasi, nilai tukar, serta menciptakan sistem pembayaran agar transaksi lancar. "Ini yang dilakukan BI. Kami mengeluarkan kebijakan yang akomodatif. Di satu sisi kita jaga stabilitas rupiah dan nilai tukar, di sisi lain harus bisa mendukung pertumbuhan ekonomi," terang dia.