Teknologi Permudah Bisnis UMKM di Era Digital

Teknologi Permudah Bisnis UMKM di Era DigitalWakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (kanan) ketika mengunjungi Warehouse JNE di Jl Parangtritis Km 4,5, Bantul seusai peluncuran layanan Friendly Logistics, Senin (16/9)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
17 September 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Di era digital dan kolaborasi saat ini JNE giat menjalin kerja sama strategis untuk mendukung kemajuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dan mendorong mereka untuk go digital.

Head Regional JNE Jateng-DIY Marsudi mengungkapkan dukungan itu salah satunya diwujudkan dengan menjadi kerja sama dengan PT Cakra Nala Logistic (Canal) melalui peluncuran layanan Friendly Logistics. "Kerja sama ini bertujuan menciptakan peluang dan memberikan kemudahan kepada para UMKM dalam melakukan proses jual–beli secara online," ujar dia di sela-sela peluncuran Friendly Logistics di Warehouse JNE di Jl Parangtritis Km 4,5, Bantul, Senin (16/9).

Ia mengungkapkan kerja sama ini dibuat untuk memajukan bisnis UMKM khususnya di DIY dan sekitarnya. Adanya kerja sama ini akan semakin memudahkan bisnis secara digital seiring adanya Revolusi Industri 4.0. "Semua produk bisa ditempatkan di gudang dan sangat mudah karena orang yang mau jualan enggak hanya taruh barang tetapi juga jadi digital marketing. Misal melalui marketplace atau media sosial bagi yang belum bisa online. Kalau yang sudah online dan menengah ke atas, kami bantu untuk semakin meningkatkan," terang dia.

Seiring makin majunya teknologi, menurutnya, JNE harus berkembang dengan cepat untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Dengan bergabung pada fulfilment ini para UMKM akan tahu keinginan pasar karena ada sistem evaluasi untuk kemajuan produk mereka. "Misal suatu saat omzet turun, JNE akan memberitahu dan masukan agar makin berkembang. Jadi, fasilitas ini enggak sekadar menempatkan barang. Ini bisnis yang aktif. Kami akan selalu aktif karena ada quality control. Di DIY memang baru pertama. Ini terinspirasi Bandung (Jawa Barat) yang sudah ada lebih dahulu. Menyusul nanti Jakarta jadi cakupannya lebih luas. Tahun depan bisa buka lagi di Semarang, Solo yang di Jawa Tengah," ujar dia.

Bisnis Operasional JNE

DIY merupakan gudang pelaku kreatif dan memiliki potensi yang besar terutama untuk bisnis online. Hal itu dimungkinkan karena DIY merupakan gudang kreator andal yang mampu menghasilkan produk yang unik, menarik, serta orisinal. "Saat ini pasar pengiriman didominasi online seller sebesar 60-70 persen. Hal ini menunjukkan bisnis online semakin maju. Banyak yang dari mereka kaum milenial yang pandai memanfaatkan kemajuan tenologi," kata dia. 

Peningkatan Pelayanan

Branch Manager JNE Yogyakarta Adi Subagyo menyebutkan JNE telah menyiapkan warehouse seluas 400 meter persegi dan kemampun pengelolaan gudang hingga 5.000 unit untuk tahap pertama ini. “Kehadiran layanan ini diharapkan membantu UKM agar dapat fokus pada sektor produksi dan sales, sementara problem logistik akan ditangani oleh layanan ini," ujar dia.

Para pelaku industri kreatif kerap disibukkan dengan proses warehousing, pengaturan stok barang dan packaging, sehingga berpotensi menurunkan konsentrasi terhadap proses penjualan, pengembangan produk serta strategi pemasaran, dan yang lainnya. “Berbagai fasilitas dalam Friendly Logistics, seperti digital marketing, warehousing, order fulfilment, technology development, shipping management dan delivery, menjadi end to end solutions dari masalah tersebut", jelasnya.

Friendly Logistics merupakan produk layanan untuk mempermudah pelaku UMKM dalam jual-beli secara daring. Produk layanan ini menawarkan berbagai fasilitas seperti pengelolaan warehousing yang dilakukan secara profesional dan terintegrasi dengan layanan last mile delivery serta update inventory maupun shipment status secara berkala, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. 

Menjawab Kecemasan

CEO PT Cakra Nala Logistic (Canal) Rifky Ali Hamidi yang juga pemilik brand lokal Batik Kertabumi mengungkapkan pembentukan Canal dan kerja sama merupakan proyek untuk menjawab kecemasan UMKM DIY dan sekitarnya. "Di teman-teman pelaku usaha ada keresahan soal operasional dan pergudangan. Itu lumayan bikin pusing. Misalnya kalau ada stok 1.000 buah saja harus ada tempat yang baik dan bebas tikus. Ada maintenance juga dan sumber daya manusia. Dari situlah muncul Canal dan fulfilment ini. Untuk harga negosiasi juga karema jenis barang berbeda, tetapi sesuai konsep friendly tidak memberatkan UMKM dan konsumen. Enggak sampai Rp5.000 per barang," kata dia.

Pembuatan Canal dan fulfilment ini terinspirasi dari Bandung. Jumlah UMKM pun tumbuh hingga empat kali lipat. "Kalau saat ini yang masuk ke kami sekitar 25 UMKM yang kebanyakan bergerak di bidang kerajinan, fesyen, kosmetik. Ke depan pasti akan bertambah banyak. Apalagi di DIY ini banyak potensi produk kreatifnya," kata dia.

Kerja sama ini diresmikan oleh General Manager JNE Express Agusnur Widodo dan Founder Canal Agung Hartanto. Dalam acara ini juga hadir Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi. "Ini suatu wujud mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0. Kalau UMKM enggak ikut kemajuan teknologi, aka tertinggal," ujar Heroe.

Suasana peluncuran layanan Friendly Logistics di Warehouse JNE di Jl Parangtritis Km 4,5, Bantul, Senin (16/9)./ Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah

Kemajuan UMKM juga didukung berbagai pihak seperti Bank Indonesia. Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengungkapkan BI pun aktif mendampingi UMKM dan mengarahkannya untuk tumbuh menjadi UMKM yang potensial, go digital dan go export. "Untuk keseluruhan UMKM yang kami dampingi ada ratusan. Namun, berdasarkan pemetaan ada sekitar 83 UMKM yang kita nilai potensial, layak digital, dan layak ekspor," kata dia.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Srie Nurkyatsiwi menjelaskan DIY membutuhkan jejaring pasar yang lebih luas dan itu bisa didapatkan ketika pelaku UMKM bisa memanfaatkan secara maksimal pemasaran melalui e-commerce. Jumlah UMKM di DIY sampai dengan akhir 2018 sekitar 258.000 dengan lebih dari 90% merupakan pelaku usaha dengan skala mikro dan jenis usaha yang beragam terbagi atas sektor kuliner, kriya, dan fesyen. Namun, sebagian besar belum belum melakukan pemasaran secara e-commerce.

Dari keragaman pelaku UMKM binaan atau mitra Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) sebanyak kurang lebih 3.000 pelaku usaha, keragaan pemanfaatan pemasaran secara online sebanyak 76,4% dan offline mencapai 24,6%. Meski pemanfaatan cukup tinggi, tetapi berdasarkan hasil survei, tingkat pengelolaan media sangat rendah. Asumsi pemenfaatan online oleh pelaku UMKM mencapai kurang lebih 75% serta baru 40% pelaku yang memanfaatkan e-commerce.

"Namun, pelaku UMKM merasa e-commerce sudah menjadi suatu kebutuhan dalam meningkatkan pemasaran dan pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kapasitas produksi dan pendapatan," terang dia.