Demo Marak, Perekonomian Masih Terkendali, Ini Alasannya

Demo Marak, Perekonomian Masih Terkendali, Ini AlasannyaIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
30 September 2019 04:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah gelombang demonstrasi yang terjadi beberapa daerah tidak berpengaruh besar terhadap perekonomian,  situasi ini juga terjadi di DIY. Meski begitu pendekatan komunikasi perlu dilakukan untuk mencegah efek yang lebih buruk.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, yang juga merupakan pengamat ekonomi, Edy Suandi Hamid menanggapi dampak gelombang demonstrasi terhadap perekonomian, ia melihat masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan aksi-aksi demonstrasi, termasuk pelaku ekonomi. “Bahkan peringatan pemerintah pun disikapi dengan tidak terlalu cemas. Jadi seperti kita lihat sekarang tidak ada dampak signifikan. Kalau pun ada pengaruh, sangat kecil,” kata Edy, Minggu (29/9).

Meski begitu jika eskalasi meningkat dan terjadi kekacauan, baru perekonomian terdampak secara signifikan. Karena pengusaha akan mencari aman, produksi terhenti, penjual tutup, dan sebagainya. Hal ini terjadi seperti halnya di Wamena, di mana ekonomi lumpuh saat ini.

“Pemerintah harus all out atasi kasus Papua. Jangan sampai kasus Wamena meluas. Sejauh ini DIY ada gelombang demo, tetapi relatif tidak ada pengaruhnya. Kalau meluas seperti 1998 maka pasti akan berdampak. Namun saya tidak melihat ada potensi kekacauan seperti itu, hanya bersifat sporadis,” katanya.

Dalam situasi sekarang Pemerintah Pusat maupun daerah harus lebih banyak membuka dialog dengan semua elemen masyarakat termasuk mahasiswa. Hal tersebut bisa mengurangi eskalasi demo yang berefek negatif.

 

Isu Politik

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY, Irfan Noor Riza mengatakan demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah berdampak terhadap pasar saham, tetapi tidak berlangsung lama. Dikatakannya, isu politik menjadi sentimen yang sedikit berpengaruh signifikan terhadap kinerja IHSG. Kebetulan berita yang keluar di Indonesia lebih banyak berita politik sehingga membawa pengaruh ke pasar. Dalam dua hari saat demo terjadi memang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah. Investor asing melakukan aksi jual dalam jumlah yang cukup besar. “IHSG sempat turun 1,26 persen atau 77,99 poin ke level 6.128,21 pada akhir sesi 1, Selasa (24/9),” ujar Irfan.

Meski begitu, situasi ini terjadi bukan hanya karena demo. Isu eksternal terkait perang dagang antara Anerika Serikat (AS) dan China juga turut mewarnai. Isu demo sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan. “Lebih ke isu perang dagang ini yang membuat banyak investor asing banyak yang hengkang kemarin,” ujarnya.

Terlihat dari pantauan pihaknya, dampak demo tersebut tidak berlangsung lama. Pada Kamis (26/9) pada akhir sesi satu perdagangan, investor asing membukukan aksi beli bersih senilai Rp107,4 milliar di pasar reguler. Dan aksi beli ini mendorong IHSG melaju ke zona hijau kembali, naik 0,36% ke level 6.168,67.

Investor khususnya asing mulai melihat situasi di Indonesia sudah relatif kondusif sehingga menjadikan sentimen positif untuk aksi beli kembali. Kondisi yang mulai kondusif ini terjadi seiring dgn kesepakatan antara pemerintah dan DPR untuk memenuhi sebagian permintaan demonstran.

Diyakininya semakin lama investor akan semakin dewasa. Sebuah keputusan yang bijak bagi investor untuk tidak panik dan tidak langsung bereaksi dikala ada sentiment-sentimen negatif terkait demo-demo di dalam negeri. Secara fundamental, kondisi politik, sosial dan ekonomi Indonesia masih sangat kondusif.

Dilihat dari persepsi global, Indonesia masih menunjukkan performa yang baik dibandingkan negara lain. Dilihat dari tingkat investasi, seluruh lembaga rating global telah memberikan Indonesia sebagai tempat yang layak untuk investasi (Investment Grade Rating).

Dicontohkan Irfan, Standard & Poor's (S&P) memberi rating BBB-, Moody's memberi rating Baa2, dan Fitch memberi rating BBB. Ini artinya, masih adanya kepercayaan global terhadap iklim investasi di Indonesia. Kemudian Indonesia juga termasuk tiga besar top destinasi untuk menarik perhatian para investor setelah China dan India. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara terbaik kedua untuk dijadikan tempat investasi setelah Filipina. “Ini artinya, secara fundamental Indonesia masih sangat kuat. Dan jika ada demo itu hal biasa merupakan riak-riak kecil saja. Investor jangan panik. IHSG turun itu hal biasa dan akhirnya berfluktuasi untuk naik (rebound) kembali,” ujarnya.