Advertisement
Semester 1/2019, Industri Minuman Tumbuh Lebih dari Rp20%
Seorang pekerja melakukan proses produksi minuman kemasan Nu Green Tea Royal Jasmine di pabrik PT ABC President Indonesia, Karawang, Jawa Barat, Rabu (16/4/2014). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Industri minuman pada semester I/2019 tumbuh sebesar 22,74% secara tahunan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sektor industri minuman berkontribusi sebesar 2,01% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan pihaknya bertekad untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif di dalam negeri. Adapun, realisasi investasi pada industri minuman di dalam negeri mencapai sekitar Rp2,4 triliun (kurs Rp14.193).
Advertisement
“Pertumbuhan [industri] minuman sendiri kan besar 22% kan. Mudah-mudahan tidak berubah [sampai akhir tahun],” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/10/2019).
Jika diperinci, industri minuman berkontribusi sekitar 7,15% dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan 9,98% dari penanaman modal asing (PMA) pada industri makanan dan minuman (mamin) pada semester I/2019.
BACA JUGA
Secara konsolidasi, industri mamin berhasil menyerap PMDN senilai Rp20 triliun dan PMA sejumlah US$687,91 juta. Adapun, PMDN yang terserap pada industri minuman adalah Rp1,43 triliun, sedangkan PMA senilai US$68,72 juta.
Namun, industri minuman ringan pada medio kuartal III/2019 turun tipis 0,7% lantaran penurunan penjualan pada pasar tradisional. Walaupun penjualan pada peritel dan pasar modern mengalami peningkatan, pasar tradisional memiliki pangsa terbesar pada industri minuman ringan.
Di sisi lain, Rochim menyampaikan pemutusan kontrak bisnis antara Pepsi Incorporated dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. tidak berdampak signifikan terhadap portofolio industri minuman nasional. Menurutnya, keluarnya pabrikan minuman biru tersebut bukan dikarenakan iklim bisnis lokal yang tidak kondusif.
Rochim mengatakan pihaknya akan tetap memfasilitasi masalah serupa untuk dicarikan jalan keluarnya. Rochim berharap Pepsi dapat kembali berproduksi di dalam negeri untuk menambah variasi minuman ringan nasional.
Rochim menyatakan pihaknya akan berdialog dengan pihak Pepsi paling lambat minggu depan untuk mengetahui akar pemutusan kontrak bisnis tersebut. Dia berharap akan ada pihak lain yang mengisi fasilitas pabrikan yang ditinggalkan Pepsi. “Biar tidak mubazir.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
Advertisement
Ini Jadwal Bus Malioboro ke Parangtritis Sabtu 11 April 2026
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Transformasi Digital JNE Berbuah Penghargaan Nasional
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
- Importir dan Distributor Diawasi Ketat untuk Jaga Harga Kedelai
- Rupiah Tertahan Tekanan Global, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
- Pakar UMY: Konflik Global Tekan Ekspor, Industri Manufaktur Terancam
- Volume Penumpang KAI Daop 6 Jogja Tumbuh 8 Persen di Triwulan I
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
Advertisement
Advertisement







