Tahun Depan, Indonesia Incar Pasar AS & Eropa

Tahun Depan, Indonesia Incar Pasar AS & EropaWishnutama - Instagram
26 November 2019 09:22 WIB Dewi Aminatuz Zuhriyah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Pemerintah mulai mempromosikan pariwisata Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa pada tahun depan. Sebab, selama ini, wisatawan mancanegara di Indonesia lebih banyak didominasi oleh turis asal Australia, China dan negara-negara di ASEAN. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengatakan setidaknya sekitar 30 negara akan menjadi sasaran promosi pariwisata Indonesia. Sebanyak 30 negara dari dua benua itu  diharapkan bisa mendatangkan banyak wisman yang berkualitas dalam hal spending maupun length of stay sehingga akan berdampak pada peningkatan devisa Indonesia. “Jadi banyak, karena masih banyak potensi kok dari negara-negara yang jumlah turisnya belum terlalu banyak. Namun saya tidak menargetkan berapa banyak wisman yang bisa datang kesini [kuantitas], tapi saya akan fokus pada wisman berkualitas,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), belum lama ini.

Wishnutama mengatakan paling  tidak wisman dari negara-negara tersebut diharapkan mengeluarkan uang sekitar US$1.400-US$2.000 [Rp19,7 juta-Rp28,1 juta]/ kunjungan di Indonesia. “Namun itu kan bertahap, tidak bisa tiba-tiba harus spending US$2.000, perlu usaha yang cukup sulit.” 

Strategi Promosi

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Junaedy mengatakan rencana Kemenparekraf untuk menyasar pasar Amerika  dan Eropa untuk menggaet wisman berkualitas  memang sudah cukup tepat. Namun, hal itu harus diiringi dengan strategi promosi yang baik.

“Jadi konsep produk [wisata] harus berkualitas, tour operator juga harus dibekali dengan skill yang mumpuni, begitu pun dengan kualitas servisnya,” kata Didien kepada JIBI.

Untuk waktu promosi, menurutnya, Kemenparekraf bisa melakukan menjelang libur musim dingin atau musim panas. Ini karena hari libur para wisman asal Eropa dan AS lebih panjang pada saat tersebut.

“Kalau bisa juga menyasar perusahaan-perusahaan di sana, karena biasannya mereka punya insentif tour. Bisa juga dari meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) tetapi itu agak lama.”

Dalam hal ini, dia mengatakan tidak semua destinasi wisata di Indonesia bisa dipromosikan untuk wisman premium tersebut. Selain pulau Komodo, Didien mengatakan destinasi yang bisa menyasar wisman berkualitas/premium yaitu Bali, Jogja dan Raja Ampat.

“Jadi destinasi wisata yang kental akan budaya dan baharinya itu harus lebih dikembangkan. Kalau perlu ada paket small/medium cruise ship yang bisa untuk keliling Indonesia. Itu potensial sekali untuk menarik spending para wisman. Satu kapal untuk satu hari saja US$500 [Rp7,04 juta], bayangkan kalau empat atau lima hari,” katanya

Kendati demikian, imbuhnya, jika ingin mengembangkan wisata bahari yang dilengkapi dengan kapal pesiar, pemerintah perlu memberikan insentif pajak impor untuk cruise tersebut. Sebab, selama ini kapal-kapal yang ada di Indonesia adalah kapal sewaan dari perusahaan swasta asing. “Selama ini kan kita gak punya kapal, yang ada kapal perusahaan asing disewakan. Makanya kita sedang minta supaya impor kapal cruise bisa dibebaskan dari pajak barang mewah.”

Promosi pariwisata Indonesia di AS dan Eropa sebetulnya sudah  dilakukan oleh Kemenpar (sebelum bergabung dengan Bekraf) pada tahun ini. Pada Juli 2019 Kemenpar dengan branding pariwisata Indonesia Wonderful Indonesia melakukan promosi di dua kota besar yang ada di AS yaitu New York dan Los Angeles. Untuk memikat publik AS, enam destinasi pun ditampilkan. Ada Bali, Raja Ampat, Borobudur, Danau Toba, Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur) dan Pantai Gili Kedis (Nusa Tenggara Barat). Semuanya dilengkapi logo Wonderful Indonesia.

Wonderful Indonesia juga hadir melalui LED Billboard dan bus di New York. Durasi branding sekitar tiga pekan, 7-28 Juli 2019. Sedangkan ketika di Eropa, branding Wonderful Indonesia dipasang di bus-bus yang beroperasi di sepanjang jalan Berlin, Jerman.

 

Sumber : Bisnis Indonesia